Matahari pagi menyemburkan bias keemasan yang lembut di balik tirai sutra putih kamar tidur utama kediaman Wiratama. Udara pagi yang sejuk berembus pelan melalui celah jendela yang terbuka, membawa aroma segar rerumputan basah dari taman belakang. Di atas tempat tidur berukuran king-size yang luas, Shasmira terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Ia mengerjap pelan, menyesuaikan matanya dengan cahaya terang yang menyapa ruangan.
Tidak seperti biasanya—di mana ia sering kali merasa canggung atau harus menjaga jarak di balik benteng aturan pranikah—pagi ini ia merasakan kehangatan yang luar biasa melingkupi sekujur tubuhnya. Lengan kokoh Arfan melingkar erat di pinggangnya, mendekap tubuhnya rapat-rapat seolah pria itu takut ia akan menghilang jika terbangun lebih dulu. Kepala Shasmira bersandar nyaman di dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung Arfan yang berirama tenang dan teratur.
Mengingat kembali kejadian semalam setelah badai pencurian di galeri seni berhasil diatasi berkat jaringan keamanan cepat yang dikerahkan Arfan, Shasmira merasa dadanya dipenuhi oleh rasa haru yang mendalam. Penjahat yang membobol galerinya telah tertangkap basah oleh tim keamanan swasta dalam waktu kurang dari dua jam, dan seluruh koleksi lukisan amal berhasil diselamatkan tanpa ada satu pun goresan yang rusak. Namun, yang jauh lebih berharga dari sekadar penyelamatan aset galeri itu adalah bagaimana Arfan menenangkannya tadi malam—memeluknya erat, menghapus air mata ketakutannya, dan membuktikan melalui tindakan nyata bahwa ia tidak akan pernah membiarkan siapapun melukai wanita yang dicintainya.
Shasmira mengangkat wajahnya perlahan, mencoba menatap wajah suaminya dari jarak dekat tanpa mengusik tidurnya.
Arfan tampak begitu damai dalam lelapnya. Alis tebal, rahang tegas yang biasanya mengeras oleh beban korporasi, kini tampak rileks. Tidak ada lagi topeng dingin atau ekspresi arogan seorang CEO muda yang ditakuti para direktur. Yang terlihat di hadapannya hanyalah Arfan—pria yang telah menyerahkan seluruh isi hatinya secara utuh.
Tanpa sadar, sebuah senyuman manis tersungging di bibir Shasmira. Jemarinya bergerak perlahan, merapikan sehelai rambut hitam suaminya yang sedikit berantakan di dahi.
"Kau sudah cukup lama memandangi wajahku, Nyonya Wiratama," suara serak bariton Arfan tiba-tiba memecah keheningan pagi, membuat Shasmira terperanjat kecil.
Shasmira mendelik kaget, namun pria itu bahkan belum membuka matanya. Sudut bibir Arfan justru terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat memesona, sementara sebelah tangannya yang merengkuh pinggang Shasmira semakin mempererat dekapannya, menarik tubuh gadis itu agar menempel lebih dekat.
"Kau... sejak kapan kau bangun?" tanya Shasmira salah tingkah, pipinya merona merah hangat.
Arfan akhirnya membuka matanya, menatap lurus sepasang mata jernih istrinya dengan pandangan yang dipenuhi oleh kelembutan mutlak. "Sejak kau mulai memainkan jarimu di dahiku," jawab Arfan rendah, mengecup puncak kepala Shasmira lembut. "Selamat pagi, istriku."
Panggilan itu terdengar begitu alami, tanpa keraguan, dan diucapkan dengan ketulusan yang membuat jantung Shasmira berdegup kencang layaknya remaja yang baru jatuh cinta. Pagi itu, di bawah selimut hangat rumah besar Wiratama, hubungan mereka resmi bertransformasi sepenuhnya—bukan lagi sepasang suami istri karena ikatan kontrak hukum atau surat wasiat kakek, melainkan dua jiwa yang saling mencintai secara utuh dan merdeka.
❖ ❖ ❖
Beberapa jam kemudian, suasana di ruang makan utama kediaman Wiratama terasa sangat berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Di atas meja makan panjang berlapis marmer, hidangan sarapan pagi berupa roti panggang, telur mata sapi, dan kopi hitam pekat tersaji rapi. Bibi Retno yang melayani penyajian makanan tampak tersenyum lebar terus-menerus, memperhatikan bagaimana Arfan dan Shasmira duduk berdampingan alih-alih duduk berjauhan di ujung meja seperti dulu.
Arfan bahkan tidak ragu mengambilkan sepotong roti panggang dan mengoleskan selai stroberi kesukaan Shasmira ke atas piring istrinya.
"Makanlah yang banyak, Shas. Hari ini kau harus datang ke galeri untuk memeriksa ulang persiapan pameran amal minggu depan," ujar Arfan lembut, menyerahkan piring tersebut.
Shasmira menerima roti panggang itu sambil tersenyum geli. "Kau memperlakukanku seolah aku adalah pasien yang baru keluar dari rumah sakit, Arfan. Kejadian semalam di galeri itu sudah beres sepenuhnya berkat tindakan cepat tim keamananmu."
"Tetap saja, aku tidak ingin ada hal kecil pun yang mengganggu kesehatan atau pikiranmu," jawab Arfan tegas namun bernada manja yang jarang sekali ia tunjukkan kepada orang lain.
Bibi Retno yang berdiri tidak jauh dari meja makan berdehem pelan untuk menutupi senyumannya, lalu berpamitan mundur ke arah dapur guna memberi privasi kepada pasangan pengantin baru tersebut.
Setelah Bibi Retno berlalu, Shasmira meletakkan garpunya sejenak. Ia menatap Arfan lekat-lekat dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu. "Arfan, ada satu hal yang masih mengganjal di pikiranku sejak tadi malam."
Arfan menghentikan tegukan kopi hitamnya, menaikkan sebelah alisnya. "Tentang apa? Apakah ada hal lain yang membuatmu cemas?"
"Bukan soal galeri," jawab Shasmira pelan. "Tapi soal bagaimana reaksi keluarga besar Kusuma dan para dewan komisaris korporasi melihat perubahan hubungan kita belakangan ini. Dulu, kita sepakat menjaga jarak agar pernikahan kontrak ini tidak mencolok di mata publik. Tapi sekarang... kita bahkan tidak berniat menyembunyikan apapun."
Arfan meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu meraih tangan Shasmira dan menggenggam jemari itu erat-erat di atas permukaan meja makan. Sorot matanya berubah sangat tajam dan penuh keyakinan.
"Biarkan mereka melihatnya, Shasmira," ucap Arfan tanpa ragu. "Dulu aku memang menikahi jalur kontrak demi memenuhi wasiat Eyang dan mengamankan posisi perusahaan. Tapi hari ini, di hadapan siapapun—baik dewan direksi, media massa, maupun keluarga besar kita—aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kau adalah istri sahku, satu-satunya wanita yang kucintai dan kupertahankan mati-matian."
Kata-kata itu meluncur begitu tulus, menghapus seluruh keraguan terakhir yang sempat tersisa di dalam hati Shasmira. Ia meremas balik tangan suaminya, mengangguk perlahan dengan senyuman paling bahagia di wajahnya.
❖ ❖ ❖
Menjelang siang hari, Arfan dan Shasmira bersiap meninggalkan rumah menuju pusat kota. Arfan mengemudikan mobil SUV hitamnya sendiri, sementara Shasmira duduk di kursi penumpang depan dengan perasaan ringan dan berbunga-bunga. Tujuan pertama mereka adalah galeri seni Shasmira di kawasan Menteng, untuk memastikan bahwa seluruh lukisan pameran amal yang sempat hampir dicuri telah dipasang kembali dengan sistem keamanan ganda yang baru.