Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #42

Badai Eksternal

Matahari sore menyusup lembut melalui celah jendela kaca besar di ruang tamu utama kediaman Arfan, memantulkan bias cahaya keemasan di atas permadani wol tebal berwarna gading. Shasmira duduk di sofa panjang bersama suaminya, menikmati secangkir teh hangat melati yang baru saja disiapkan oleh Bi Inah. Hubungan di antara mereka kini telah jauh berubah; tidak ada lagi rasa curiga, tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan, dan tidak ada lagi dinding pembatas yang menyiksa. Yang tersisa hanyalah kehangatan dan rasa saling percaya yang telah teruji melalui berbagai badai emosional masa lalu.

"Teh buatan Bi Inah hari ini terasa jauh lebih pas di lidah," ujar Shasmira pelan sambil meletakkan cangkir porselennya di atas meja marmer dengan senyuman kecil di bibirnya.

Arfan menoleh, memandang istrinya lekat-lekat dengan sorot mata penuh kasih sayang. Pria itu merangkul bahu Shasmira dan menariknya lebih dekat. "Karena kamu menikmatinya dalam keadaan tenang, Shas. Tidak ada lagi beban pikiran yang mengganjal di dadamu."

"Ya, karena aku tahu kamu ada di sisiku, Fan," balas Shasmira tulus, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.

Namun, kedamaian sore itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, suara dering interkom berbunyi nyaring dari arah koridor depan, memecah keheningan rumah besar tersebut. Bi Inah yang sedang merapikan meja dapur bergegas melangkah ke arah panel penerima panggilan, lalu menekan tombol interkom dengan ekspresi penasaran.

"Halo, dengan kediaman Tuan Arfan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Inah melalui speaker interkom.

Suara seorang wanita paruh baya yang terdengar angkuh dan tegas langsung menggema memenuhi ruangan tamu, membuat Shasmira dan Arfan spontan mengangkat kepala mereka.

"Buka gerbangnya sekarang, Bi Inah! Ini aku, Madam Clarissa bersama Tuan Handoko. Jangan membuat kami menunggu di luar dalam cuaca seperti ini!" seru suara itu tanpa basa-basi.

Wajah Arfan mendadak mengeras dalam hitungan detik. Sisa-sisa kehangatan di matanya lenyap sepenuhnya, digantikan oleh raut dingin dan ketegangan yang amat pekat.

"Siapa mereka, Fan?" tanya Shasmira cemas, merasakan perubahan drastis pada diri suaminya.

"Bibi tiriku, Clarissa, bersama rekan bisnis lamaku yang bernama Handoko," jawab Arfan dengan suara berat penuh peringatan. "Mereka datang membawa masalah."

❖ ❖ ❖

Beberapa menit kemudian, pintu utama kediaman terbuka lebar dengan kasar. Madam Clarissa—seorang wanita paruh baya berbusana desainer mahal dengan perhiasan berlian yang berkilauan di jemarinya—melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi, diikuti di belakangnya oleh Handoko, pria paruh baya bertubuh gempal berjas rapi yang membawa ekspresi sinis di wajahnya.

Arfan bangkit berdiri dari sofa, merapikan letak kemejanya, lalu berdiri tegak menyambut kedatangan tamu tak diundang tersebut dengan sikap dingin yang mengintimidasi. Shasmira turut berdiri di samping suaminya, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang tiba-tiba bergemuruh kencang.

"Selamat sore, Arfan," sapa Madam Clarissa dengan nada bicara yang terdengar sarkastik, matanya menyapu seluruh sudut ruang tamu mewah itu sebelum akhirnya mendarat tajam pada sosok Shasmira. "Wah, rumah ini benar-benar tampak berbeda sekarang. Jauh lebih hidup... atau justru lebih rapuh dari yang kami duga?"

"Kalian tidak pernah diundang untuk datang ke sini, Clarissa," ucap Arfan dingin, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Apa tujuan kalian menerobos masuk ke rumahku tanpa izin?"

Handoko, pria di sebelah Clarissa, melangkah maju sambil tersenyum sinis. Ia melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap Arfan dan Shasmira bergantian dengan pandangan meremehkan. "Kami datang bukan untuk bertamu, Arfan. Kami datang untuk menyelamatkan reputasi perusahaan dan keluargamu dari skandal besar yang sedang disebarkan di luar sana."

Shasmira mengerutkan dahi, merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan tersebut. "Skandal apa yang kalian maksud? Kami hidup tenang di sini."

Madam Clarissa tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dibuat-buat dan menyebalkan. "Tenang katamu, anak manis? Di luar sana, seluruh korporasi dan para pemegang saham sedang membicarakan keretakan rumah tangga kalian! Berita burung berhembus kencang bahwa pernikahan kalian hanyalah sandiwara belaka, dan bahwa Shasmira tidak lebih dari tawanan yang terpaksa tinggal di sangkar emas ini!"

Mendengar tuduhan itu, darah Shasmira mendidih seketika. Ia hendak membuka suara untuk membela diri, namun Arfan dengan sigap mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan istrinya, sementara sorot mata pria itu menyala tajam penuh amarah tertahan.

"Berita itu tidak benar," jawab Arfan dengan penekanan di setiap suku kata. "Hubungan kami baik-baik saja. Jangan mencampuri urusan rumah tanggaku."

Lihat selengkapnya