Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #43

Ujian Kesetiaan

Suasana di ruang tamu keluarga besar Arfan di Bandung selalu terasa menyesakkan, tidak peduli seberapa luas arsitektur rumah bergaya kolonial tersebut. Aroma teh melati yang diseduh dengan sempurna tidak mampu menutupi ketegangan yang menggantung di udara. Arfan duduk tegak di sofa, di sampingnya Shasmira tampak tenang, meski tangannya di bawah meja tertutup rapat, mencengkeram tas kecilnya seolah itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai yang siap menghantam.

Di seberang mereka, sang ayah, Pak Danu, duduk dengan tatapan yang sulit diartikan. Di sampingnya, beberapa kerabat dekat yang memiliki saham besar di perusahaan perkebunan keluarga mereka tampak menatap Shasmira dengan pandangan menghakimi. Mereka telah mendengar desas-desus tentang apa yang terjadi di Malabar, tentang bagaimana Shasmira, yang seharusnya menjadi "mata-mata" mereka, justru berbalik menjadi sekutu paling setia bagi Arfan dalam mengungkap konspirasi internal.

"Jadi," Pak Danu memulai, suaranya berat dan berwibawa, memecah keheningan yang menyiksa. "Kamu membawanya ke sini, Arfan. Setelah semua kekacauan yang dia picu di Malabar, setelah dia membuat operasional perusahaan kita dalam posisi yang sangat rentan di hadapan hukum dan pihak luar."

Arfan menarik napas panjang. Ia sudah memprediksi momen ini. "Shasmira tidak memicu kekacauan, Yah. Dia justru menjadi orang yang membantu menyelamatkan Malabar dari kehancuran yang direncanakan oleh orang-orang yang ada di ruangan ini sendiri."

Keributan kecil terjadi di antara para kerabat. Seseorang mendengus sinis. "Menyelamatkan? Dia mengkhianati kepercayaan kita! Dia adalah pengawas yang dikirim untuk memastikan kepentingan keluarga tetap aman, bukan untuk menjadi kaki tangan manajer yang membangkang!"

Shasmira hendak membuka suara, namun Arfan memberi isyarat dengan tangannya agar wanita itu tetap tenang. Arfan menoleh ke arah pamannya yang baru saja berbicara. "Paman menyebutnya pengkhianatan karena Shasmira tidak mendukung rencana Paman untuk menjual lahan Malabar ke pengembang asing melalui manipulasi audit? Jika itu yang Paman maksud dengan 'kepercayaan keluarga', maka saya bersyukur Shasmira tidak pernah memilikinya."

"Arfan!" bentak Pak Danu, wajahnya memerah karena amarah. "Jaga bicaramu! Kamu berdiri di depan orang tua dan keluargamu sendiri untuk membela orang asing yang baru saja kamu kenal beberapa bulan!"

Arfan berdiri, tidak lagi mempedulikan etika duduk yang sopan. Ia merasa bahwa membela Shasmira adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. "Orang asing ini lebih setia pada nilai-nilai perusahaan daripada kalian yang justru ingin merobohkan fondasi yang telah dibangun oleh kakek saya. Jika kalian menganggap membela kebenaran adalah sebuah kesalahan, maka saya siap menanggung konsekuensinya."

Shasmira menatap Arfan. Di matanya, pria itu tidak lagi terlihat seperti seorang manajer yang terikat oleh aturan-aturan korporat yang kaku. Arfan telah berubah menjadi sosok pelindung yang tak kenal takut. Di tengah ruang tamu yang terasa seperti medan perang, Shasmira menyadari bahwa ujian kesetiaan ini bukan hanya tentang membela nama baiknya, melainkan tentang mempertahankan integritas hubungan mereka di mata dunia yang berusaha memisahkan mereka.

❖ ❖ ❖

"Apakah kamu sadar apa yang sedang kamu pertaruhkan, Arfan?" suara Pak Danu kini lebih rendah, namun jauh lebih tajam dan mengancam. "Posisi sebagai manajer di Malabar bukanlah hak milikmu. Jika kamu terus membangkang dan bersikeras melindungi wanita ini, saya tidak akan segan-segan untuk mencopot jabatanmu dan menarik seluruh dukungan finansial atas proyek agrowisata yang kamu banggakan itu."

Arfan merasakan otot-otot di bahunya menegang. Ancaman itu nyata dan sangat mungkin dilakukan. Ia melirik Shasmira, yang kini menatapnya dengan kekhawatiran yang terpancar jelas di wajah cantiknya. Shasmira tampak merasa bersalah karena kehadirannya membawa dampak sebesar ini bagi masa depan Arfan.

"Jika mempertahankan integritas dan kejujuran berarti kehilangan jabatan, maka biarlah begitu," jawab Arfan tanpa ragu. "Tapi jangan pernah berpikir bahwa saya akan membiarkan Shasmira dikambinghitamkan hanya karena dia memilih untuk menjadi saksi atas kecurangan yang kalian lakukan."

"Dia bukan saksi, dia bagian dari masalah!" salah satu sepupu Arfan memotong dengan nada tinggi. "Dia datang ke sini, mempengaruhi pikiranmu, dan sekarang kamu berani melawan keluargamu sendiri. Dia pasti sudah memikatmu dengan cara-cara yang manipulatif!"

Shasmira akhirnya tidak bisa menahan diri. Ia berdiri perlahan, menghadap langsung ke arah kerabat Arfan yang menuduhnya. "Saya tidak memikat siapa pun dengan manipulasi. Saya datang ke Malabar dengan tugas yang jelas, dan saat saya menemukan bahwa tugas itu bertentangan dengan moral dan hukum, saya memilih untuk bertindak sebagai manusia yang memiliki nurani. Jika Anda merasa terancam oleh kejujuran, maka itu adalah cerminan dari kegelapan yang Anda sendiri ciptakan di dalam perusahaan ini."

Suasana ruangan seketika berubah hening. Keberanian Shasmira untuk membalas di depan keluarga besar Arfan membuat para kerabat itu ternganga. Mereka terbiasa dengan sosok Shasmira yang dingin sebagai perwakilan pusat, namun kini mereka melihat sisi yang sama sekali berbeda—seorang wanita yang tak gentar mempertahankan harga dirinya.

Arfan merasa bangga. Ia mendekat, berdiri tepat di samping Shasmira, merangkul bahunya dengan posesif dan penuh pelindung. "Dengar dengan baik. Shasmira adalah partner saya, dalam pekerjaan dan dalam hidup. Jika kalian menyerangnya, kalian menyerang saya. Dan saya tidak akan tinggal diam melihat kalian mencoba menghancurkan seseorang yang justru telah menyelamatkan perusahaan ini dari skandal hukum yang memalukan."

Genggaman Arfan di bahu Shasmira terasa seperti benteng yang tak tertembus. Di mata keluarganya, Arfan mungkin terlihat seperti orang gila yang sedang dibutakan cinta, namun di mata Arfan dan Shasmira, momen ini adalah titik jepit di mana mereka benar-benar bersatu melawan arus. Mereka telah meletakkan segalanya di atas meja: karier, reputasi, dan hubungan dengan keluarga. Mereka tahu bahwa setelah ini, tidak akan ada jalan kembali.

❖ ❖ ❖

Pak Danu menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan gerakan yang terlihat sangat lelah, bukan lagi marah. "Kalian berdua benar-benar keras kepala. Kalian pikir dunia bisnis itu seperti dongeng, di mana kebenaran selalu menang tanpa ada harga yang harus dibayar?"

"Saya tahu harga yang harus dibayar, Yah," Arfan menanggapi dengan tenang. "Saya tahu proyek agrowisata itu bisa dihentikan. Saya tahu saya bisa dipecat. Tapi apakah itu sebanding dengan rasa tenang saat saya tidur di malam hari? Apakah itu sebanding dengan kebanggaan saya saat melihat pekerja di Malabar hidup dengan layak dan jujur?"

"Kejujuran tidak membayar gaji karyawan!" sahut sepupu lainnya.

"Tapi korupsi dan manipulasi bisa membuat perusahaan bangkrut dalam semalam saat pihak berwenang datang menggeledah!" balas Arfan cepat. "Saya sudah memberikan bukti-bukti tersebut ke pihak hukum sebagai antisipasi jika kalian mencoba memecat saya tanpa alasan yang benar. Saya sudah menyiapkan semuanya."

Mendengar kata 'bukti hukum', suasana di ruangan itu berubah drastis. Wajah-wajah yang tadi penuh dengan angkara kini berubah menjadi pucat pasi. Ancaman mereka ternyata tidak lagi memiliki taring. Arfan telah selangkah lebih maju.

"Kamu mengancam keluargamu sendiri dengan hukum?" tanya Pak Danu dengan nada tak percaya.

Lihat selengkapnya