Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #44

Semakin Erat Bersatu

Matahari sore memantulkan bias cahaya kemerahan di balik kaca jendela rumah susun yang kini tampak begitu bersih dan tertata rapi. Tidak ada lagi tumpukan berkas yang berserakan tanpa aturan, tidak ada lagi sekat-sekat imajiner yang membatasi ruang gerak, dan yang terpenting, tidak ada lagi dinding ketidakpercayaan yang membentang di antara mereka. Di ruang keluarga yang hangat, Maya duduk bersandar di sofa sementara Aris menyiapkan dua cangkir teh chamomile di dapur kecil yang terhubung langsung.

"Kau melamun lagi, Maya," suara Aris memecah keheningan sore itu dengan nada lembut, berjalan mendekat sambil membawa baki kecil berisi cangkir teh yang masih mengepulkan uap tipis.

Maya mendongak, menyambut uluran cangkir dari suaminya dengan senyuman kecil. "Aku tidak melamun, Aris. Aku hanya sedang merenungkan betapa jauh perjalanan yang sudah kita tempuh sampai di titik ini."

Aris duduk di samping istrinya, merapatkan posisi hingga bahu mereka bersentuhan erat. "Dan kau menyesalinya?" tanyanya setengah menggoda, menatap lekat mata wanita di sampingnya.

"Menyesal?" Maya menggeleng pelan, meneguk tehnya perlahan. "Kalau bukan karena badai besar, tekanan keluarga besar, hingga masa lalu yang sempat datang menguji, kita mungkin tidak akan pernah tahu seberapa kuat fondasi yang sebenarnya sedang kita bangun."

Aris tersenyum tulus, merangkul pinggang Maya dan menariknya sedikit lebih dekat. "Kau benar. Cobaan-cobaan itu bukanlah penghalang bagi pernikahan kita, melainkan tempaan yang membuat ikatan batin kita semakin tak terpisahkan."

Pernyataan itu merangkum seluruh lembaran kisah yang telah mereka lewati bersama—sebuah bukti nyata bahwa cinta yang diuji oleh kesulitan jauh lebih kokoh daripada cinta yang tumbuh di atas kemudahan semata.

❖ ❖ ❖

Titik jepit pertama dari sore itu hadir tatkala kenangan tentang hari-hari pertama mereka di rumah susun ini kembali melintas di ingatan Maya. Ia meletakkan cangkirnya di atas meja kecil, lalu menoleh menatap suaminya dengan tatapan serius namun hangat.

"Ingatkah kau saat kita bertengkar hebat hanya karena cangkir kopi yang diletakkan melewati garis imajiner?" tanya Maya, tawanya kecil pecah mengingat kepolosan mereka di masa lalu.

Aris ikut terkekeh, menggelengkan kepalanya pelan. "Tentu saja ingat. Aku bahkan sempat berpikir kita tidak akan bertahan melewati bulan pertama karena ego kita yang sama-sama keras."

"Waktu itu kita adalah dua orang asing yang dipaksa hidup berdampingan oleh takdir dan perjodohan," lanjut Maya dengan nada lebih lembut. "Kita saling mencurigai, saling menjaga jarak, dan takut terluka."

Lihat selengkapnya