Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #45

Mengenang Masa Lalu yang Dingin

Cahaya lampu gantung ruang tamu memantulkan pendar hangat di atas meja makan kayu mahoni yang kini bersih dari segala dokumen kantor maupun tumpukan buku catatan lama. Di luar jendela apartemen, hujan gerimis turun perlahan, menghadirkan suara ritmis yang menenangkan di tengah malam minggu yang damai. Arfan dan Shasmira masih duduk berhadapan setelah makan malam usai, menikmati secangkir teh lemon hangat yang mengepulkan aroma citrus yang menyegarkan.

Suasana di antara mereka begitu cair, dipenuhi oleh keintiman yang terjalin secara alami tanpa ada lagi sekat kecanggungan. Di sudut ruangan, sebuah album foto pernikahan lama tergeletak terbuka, memperlihatkan lembaran-lembaran kenangan dari lima tahun silam—masa ketika status suami istri baru melekat pada diri mereka, namun jiwa mereka masih asing satu sama lain.

Shasmira menunjuk salah satu foto di halaman tengah, lalu tertawa kecil hingga bahunya bergetar. "Coba lihat ekspresimu di foto ini, Fan. Kaku banget, kayak patung pameran baju pengantin di mal. Kalau ada orang lihat, pasti mengira kamu lagi disuruh berdiri di depan regu tembak, bukan lagi motret hari pernikahan kita."

Arfan melirik foto yang ditunjuk sang istri, lalu ikut tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala pelan. "Mana ada patung pameran yang keringat dinginnya separah itu, Shas. Aslinya aku bukan kaku, tapi waktu itu aku panik setengah mati. Aku benar-benar bingung bagaimana caranya bersikap jadi suami yang baik buat wanita anggun dan galeri-sentris seperti kamu."

"Galeri-sentris? Enak saja!" protes Shasmira pura-pura sewot, meski matanya menyipit karena geli. Ia menyeruput tehnya perlahan sebelum melanjutkan, "Dulu aku malah lebih parah lagi. Ingat nggak minggu pertama kita tinggal di apartemen ini? Kita saling mendiamkan seharian cuma gara-gara urusan siapa yang harus merapikan sepatu di rak depan. Rasanya kekanak-kanakan banget kalau dikenang sekarang."

"Oh, aku ingat betul hari itu," timpal Arfan terkekeh renyah, mengenang kembali memori masa lalu. "Kamu ngambek di kamar tidur sambil melipat tangan di dada, sementara aku sok sibuk di ruang kerja membaca laporan korporat sampai jam dua pagi demi menghindari muka cemberutmu. Kita waktu itu benar-benar dua orang asing yang egois dan keras kepala."

"Dan lucunya, kita sempat mengira pernikahan itu bakal otomatis berjalan mulus hanya karena ada stempel hukum dan restu keluarga besar," tambah Shasmira lirih, senyuman hangatnya melembut. Ia mengulurkan tangan di atas meja, menyentuh jemari suaminya yang hangat. "Kalau dipikir-pikir lagi, butuh teror di villa tua terpencil di lereng bukit itu buat menyadarkan kita betapa bodohnya menyia-nyiakan waktu dengan gengsi dan pertengkaran remeh."

Arfan menggenggam jemari istrinya erat-erat, mengusap punggung tangan Shasmira dengan ibu jarinya penuh kasih sayang. "Villa di gunung itu memang saksi bisu paling jujur buat kita, Shas. Tempat itu meruntuhkan semua topeng kesempurnaan yang kita bangun di kota, memaksa kita untuk telanjang secara emosional, mengakui kesalahan, dan belajar mencintai dari titik nol."

Gelak tawa kecil kembali berderai di antara mereka, menghapus sisa-sisa bayangan dingin masa lalu yang pernah mencengkeram erat pernikahan mereka. Masa-masa kaku dan canggung itu kini berubah menjadi bahan lelucon manis yang merekatkan ikatan batin keduanya.

❖ ❖ ❖

Namun, di balik kehangatan tawa tersebut, Titik Jepit 1 perlahan merapat ketika Shasmira membalik lembaran album foto ke bagian belakang—halaman yang memuat dokumentasi perjalanan mereka ke villa pegunungan beberapa bulan lalu. Di sana, terdapat foto pemandangan rumah tua beratap lumut dan jalan setapak berkabut tempat mereka sempat diliputi rasa takut yang luar biasa.

Senyuman di wajah Shasmira perlahan meredup, digantikan oleh tatapan haru yang mendalam. Ia mengusap permukaan foto tersebut dengan ujung jarinya. "Fan... kalau seandainya waktu itu kita menyerah pada ketakutan kita, kalau waktu itu kita milih buat tetap egois dan cerai setelah pulang dari sana... kira-kira bakal jadi seperti apa hidup kita sekarang ya?"

Arfan terdiam sejenak. Ia ikut menatap foto rumah tua di dalam album tersebut, merasakan aliran kelegaan yang luar biasa besar mengalir di dadanya. Pria itu menarik napas panjang sebelum menjawab dengan suara tenang namun tegas.

"Kalau waktu itu kita menyerah, Shas... mungkin kita sekarang hidup sebagai dua orang sukses secara materi di kota besar, tapi berjiwa kosong dan mati rasa," jawab Arfan jujur. Ia menatap lurus ke dalam mata istrinya. "Kita tidak akan pernah tahu rasanya tertawa lepas tanpa beban seperti malam ini. Kita cuma bakal jadi korban dari kebohongan kita sendiri."

Shasmira mendengus pelan, merasakan matanya sedikit menghangat. "Iya... benar juga. Dinginnya masa lalu kita ternyata bukan cuma soal canggungnya interaksi di awal pernikahan, tapi juga ketakutan kita buat saling membuka diri."

Lihat selengkapnya