Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai sutra berwarna gading di kamar tidur utama kediaman Wiratama. Udara pagi yang sejuk membawa serta aroma khas tanah basah setelah hujan gerimis semalam, berpadu dengan wangi lembut teh hijau yang menguar dari arah dapur lantai bawah. Di atas ranjang berukuran king-size yang luas, Shasmira terbangun dari lelapnya. Ia mengerjap perlahan, menyesuaikan retinanya dengan pendar cahaya lembut yang menyapa ruangan.
Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan atau kecemasan yang kerap menghantui hari-harinya di masa lalu. Yang ada hanyalah kehangatan luar biasa dari sebelah lengannya yang masih melingkar erat di pinggangnya. Arfan Baskoro, sang CEO muda yang dulunya dikenal sebagai sosok sedingin es dan kaku, kini tidur dengan napas teratur, wajahnya tampak begitu damai tanpa topeng arogansi korporasi. Kepala Arfan sedikit miring, dengan beberapa helai rambut hitam yang jatuh menutupi dahinya.
Shasmira tersenyum kecil. Ia mengangkat tangannya yang bebas secara perlahan, berniat merapikan helai rambut suaminya tanpa membangunkan pria itu. Namun, baru saja ujung jarinya menyentuh dahi Arfan, lengan kokoh yang mendekapnya mendadak mengerat. Tarikan lembut itu membawanya merapat hingga menempel sempurna di dada bidang sang suami.
"Jangan bergerak dulu," suara serak bariton Arfan terdengar rendah di dekat telinganya, sarat akan kehangatan pagi yang malas beranjak. Pria itu bahkan belum membuka matanya, namun sudut bibirnya telah terangkat membentuk lengkungan senyuman tipis yang sangat memesona.
"Kau sudah bangun?" bisik Shasmira malu-malu, merasakan pipinya merona hangat.
"Aku sudah terjaga sejak kau membuka mata tadi," jawab Arfan pelan. Ia membuka matanya perlahan, memperlihatkan sepasang bola mata hitam legam yang kini sepenuhnya hanya memancarkan kelembutan dan cinta mutlak untuk istrinya. "Bagaimana tidurmu, Nyonya Wiratama?"
"Sangat nyenyak. Terlalu nyenyak hingga rasanya aku tidak ingin beranjak dari tempat tidur ini," aku Shasmira jujur, membiarkan kepalanya tetap bersandar nyaman di dada suaminya.
Arfan mengecup puncak kepala Shasmira lembut, lalu mengeratkan dekapannya. "Kalau begitu, kita bisa menghabiskan seluruh pagi ini di tempat tidur. Tidak ada rapat darurat, tidak ada laporan audit, dan tidak ada gangguan dari siapapun."
Meskipun tawaran itu sangat menggoda, Shasmira menggeleng pelan sambil terkekeh kecil. Ia mendongakkan kepalanya, menatap lurus mata suaminya. "Hei, sebagai CEO perusahaan multinasional yang sahamnya baru saja melonjak tajam minggu lalu, apakah pantas jika kau bermalas-malasan di tempat tidur lewat pukul delapan pagi?"
"Di hadapan istriku, aku bukan CEO," ralat Arfan tegas namun bernada jenaka yang jarang sekali ia tunjukkan kepada dunia luar. "Aku hanya Arfan, suamimu."
Pernyataan sederhana itu selalu berhasil membuat dada Shasmira berdesir hangat. Siapa sangka, pernikahan kontrak yang dulunya dimulai dari paksaan surat wasiat sang kakek—sebuah ikatan dingin penuh kecurigaan—kini telah bertransformasi menjadi mahligai cinta yang begitu kokoh dan membahagiakan. Mereka telah melewati berbagai badai mematikan: mulai dari intrik pengkhianatan paman mereka, teror peretas siber, hingga kemunculan masa lalu yang mencoba merusak. Dan kini, setelah seluruh debu itu tersapu bersih, masa depan terbentang luas di hadapan mereka, menunggu untuk dirajut bersama.
Beberapa saat kemudian, setelah perdebatan kecil yang manis di atas tempat tidur, mereka akhirnya bangkit dan bersiap untuk memulai hari.
Suasana di ruang makan utama kediaman Wiratama terasa sangat hidup. Bibi Retno, asisten rumah tangga senior yang telah mengabdi puluhan tahun di keluarga itu, menyajikan sarapan spesial berupa pancake madu hangat dan buah-buahan segar. Wanita paruh baya tersebut tersenyum lebar melihat keakraban pasangan muda di hadapannya.
"Pagi, Bibi Retno," sapa Shasmira ramah saat menarik kursi makannya.
"Pagi, Nona... ah, maksud saya, Nyonya Shasmira," ralat Bibi Retno sambil tersenyum tulus. "Tuan Arfan, sepertinya hari ini udara di luar sangat cerah. Sangat cocok jika Anda berdua menghabiskan waktu sore nanti di taman belakang."
Arfan mengangguk singkat sembari menikmati tegukan pertama kopi hitamnya. "Terima kasih, Bi. Kami akan mempertimbangkannya."
Sembari menikmati sarapan, Shasmira meletakkan garpunya sejenak. Ia menatap Arfan dengan binar mata yang memancarkan antusiasme tersendiri. Topik yang sudah beberapa hari ini mengganjal di benaknya akhirnya siap ia utarakan.
"Arfan," panggil Shasmira lembut.
"Ya, Shas? Ada apa?" Arfan langsung meletakkan cangkirnya, memusatkan seluruh perhatian kepada istrinya.
"Kemarin malam, aku dan kurator galeriku berdiskusi panjang lebar tentang rencana ekspansi galeri seni kita tahun depan," mulai Shasmira dengan nada bersemangat. "Kami berencana membuka cabang baru di kawasan Menteng, khusus untuk menampung karya-karya pelukis muda independen yang kurang terekspos."
Arfan mendengarkan dengan penuh seksama, sebelah alisnya terangkat menunjukkan ketertarikan yang mendalam. "Ide yang bagus. Ruang galeri yang lebih besar akan memberikan panggung yang layak bagi para seniman berbakat. Apakah kau butuh bantuan dalam hal perizinan tata kota atau pendanaan awal?"
"Bukan soal pendanaan atau perizinan," Shasmira menggeleng pelan, lalu tersenyum manis. "Aku ingin merancangnya sendiri, Arfan. Mulai dari desain arsitektur interiornya, pemilihan material kayu jati daur ulang, hingga sudut pencahayaan alaminya. Tapi... aku ingin kita membangunnya di atas tanah kosong milik keluarga Wiratama yang berada di dekat bukit perkebunan teh."
Arfan tertegun sejenak. Mendengar penyebutan lokasi itu, ingatannya langsung melayang pada paviliun tua di bukit perkebunan teh tempat mereka pernah menghabiskan akhir pekan romantis beberapa waktu lalu—tempat di mana mereka pertama kali membuka seluruh isi hati masing-masing tanpa sekat.
"Di bukit perkebunan teh?" ulang Arfan memastikan.
"Ya," jawab Shasmira mantap. "Bayangkan sebuah galeri seni minimalis berkonsep terbuka, dikelilingi hamparan hijau kebun teh, tempat orang-orang bisa menikmati lukisan sekaligus ketenangan alam. Tempat itu memiliki nilai historis yang kuat bagi kita berdua. Bukankah itu tempat yang sempurna?"
Arfan terdiam selama beberapa detik, mencerna setiap detail rencana yang diutarakan istrinya. Alih-alih menolak atau menganggapnya berlebihan, sorot mata Arfan justru berbinar penuh persetujuan. Ia mengulurkan tangan melintasi meja makan, menggenggam jemari Shasmira erat-erat.
"Jika itu impianmu, Shasmira, maka aku akan memastikan proyek itu bukan hanya sekadar galeri seni," ucap Arfan dengan suara rendah yang penuh keyakinan. "Kita akan membangunnya menjadi pusat kebudayaan dan tempat peristirahatan keluarga—sebuah mahakarya abadi yang merangkum perjalanan hidup kita."
❖ ❖ ❖
Siang menjelang sore, setelah menyelesaikan beberapa urusan administrasi korporasi secara daring dari ruang kerjanya, Arfan mengajak Shasmira meninjau langsung lahan kosong di kawasan bukit perkebunan teh yang dimaksud. Mobil SUV hitam yang dikemudikan Arfan melaju membelah jalanan tol luar kota, meninggalkan hiruk-pikuk gedung pencakar langit ibu kota menuju dataran tinggi yang sejuk dan asri.
Perjalanan selama hampir satu jam itu diisi oleh percakapan ringan dan canda tawa. Shasmira tampak begitu antusias, mencorat-coret buku sketsa kecilnya dengan berbagai rancangan kasar bentuk bangunan galeri impiannya. Arfan, meskipun sesekali melirik desain di buku tersebut, tetap fokus mengemudi sambil sesekali memberikan masukan logistik yang tajam namun konstruktif—mencerminkan naluri bisnisnya yang tidak pernah libur sepenuhnya.
Ketika mobil akhirnya membelok memasuki gerbang perkebunan teh dan berhenti di dekat paviliun tua, udara sejuk pegunungan langsung menyambut mereka begitu pintu mobil dibuka.
"Udara di sini selalu bisa membuatku melupakan seluruh kepenatan di kantor pusat," ucap Arfan pelan, merenggangkan sedikit otot bahunya yang kaku, lalu membukakan pintu untuk Shasmira.
"Makanya, jangan terlalu sering lembur di ruang kerja sampai larut malam," balas Shasmira tersenyum meledek, melangkah turun dan menghirup aroma daun teh segar dalam-dalam. "Lihat? Tempat ini jauh lebih baik daripada layar monitor komputer dan tumpukan laporan keuangan."
Mereka berjalan berdampingan menelusuri jalan setapak berbatu menuju area tanah lapang yang dikelilingi pohon-pohon pinus tua di sisi barat perkebunan. Lahan itu cukup luas, menghadap langsung ke lembah hijau yang membentang indah di bawah sana.
Shasmira membuka buku sketsanya, menunjukkan gambar denah kasar kepada Arfan. "Di sinilah letak bangunan utamanya. Pintu masuk menghadap ke timur agar mendapat cahaya matahari pagi secara maksimal. Di bagian belakang, kita bisa membangun beranda kayu terbuka tempat pengunjung menikmati teh hangat sambil melihat panorama lembah."
Arfan mengamati garis-garis sketsa buatan istrinya dengan saksama. Ia berjongkok sedikit untuk memeriksa kontur tanah di area tersebut, lalu berdiri kembali sambil merangkul pundak Shasmira.
"Struktur tanahnya stabil, dan akses jalan dari gerbang utama cukup mudah diperlebar untuk kendaraan pengangkut material," analisis Arfan profesional. "Aku akan segera memanggil tim arsitek pribadi perusahaan untuk merancang fondasi dasarnya minggu depan. Tapi ingat, desain interior dan tata letak seninya tetap berada di bawah kendali mutlakmu sebagai pemilik utama."
Shasmira mendongak, menatap suaminya dengan binar kekaguman yang teramat besar. "Kau tidak keberatan jika aku melibatkan diriku secara total dalam proyek ini?"