Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #47

Restu yang Sempurna

Matahari sore menyusup lembut lewat jendela kaca besar di paviliun utama kediaman keluarga besar Arfan, memantulkan bias cahaya keemasan di atas lantai marmer putih yang bersih tanpa noda. Udara di dalam ruangan terasa sejuk, berpadu dengan aroma teh hijau melati yang mengepul tipis dari cangkir porselen antik di atas meja rendah. Shasmira duduk di dekat ranjang pesakitan dengan balutan dress selutut berwarna biru pastel, wajahnya tampak tenang namun menyiratkan ketegangan batin yang mendalam. Di sisinya, Arfan berdiri tegap dengan kemeja putih berlengan digulung sebatas siku, merangkul bahu istrinya lembut sebagai bentuk dukungan moral yang tak pernah putus.

Di atas ranjang besar berseprai putih bersih, Kakek—patriark agung keluarga besar yang selama bertahun-tahun memegang kendali penuh atas seluruh dinasti bisnis dan aturan ketat keluarga—berbaring setengah bersandar pada tumpukan bantal empuk. Usia senja telah menggoreskan keriput di wajahnya yang dulu dikenal sangat ditakuti, namun sorot mata tajam dan penuh wibawa itu masih menyisakan ketegasan yang luar biasa. Hari ini adalah hari yang telah lama dinantikan oleh seluruh anggota keluarga, sekaligus hari yang paling menentukan bagi hubungan Shasmira dan Arfan di hadapan tetua tertinggi keluarga tersebut.

Pintu kamar terbuka perlahan tanpa suara. Bi Inah melangkah masuk dengan membawakan nampan kecil berisi handuk hangat, lalu membungkuk hormat sebelum meletakkannya di nakas sebelah tempat tidur.

"Bagaimana perasaan Kakek sore ini?" tanya Shasmira dengan suara lembut, memecah kesunyian yang sempat menyelimuti ruangan tersebut.

Kakek menoleh perlahan, menatap cucu menantunya lekat-lekat dengan pandangan yang sulit diartikan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang hampir tidak terlihat. "Kakek merasa jauh lebih baik, cucuku. Terutama setelah melihat kalian berdua berdiri berdampingan di hadapanku tanpa ada lagi rahasia atau dinding pembatas yang menyiksa."

Mendengar ucapan sang kakek, Shasmira merasakan dadanya bergemuruh hebat. Ingatannya melayang kembali pada bulan-bulan pertama kedatangannya di rumah besar ini—masa-masa di mana ia dianggap sebagai orang asing, tahanan yang dikurung dalam sangkar emas, dan perempuan yang tidak pantas bersanding dengan pewaris tunggal keluarga Arfan. Namun, melalui berbagai badai eksternal, intrik keluarga, ancaman dari bibi tirinya, hingga ujian kepercayaan yang hampir merenggut kewarasan mereka, semuanya kini telah terlewati.

Arfan mengeratkan rangkulannya di bahu istrinya, lalu melangkah mendekati sisi tempat tidur, menunduk sedikit untuk mensejajarkan pandangannya dengan sang kakek. "Kami datang ke sini bukan hanya untuk menjenguk, Kek. Kami datang untuk memastikan bahwa Kakek melihat langsung... bahwa apa yang Kakek khawatirkan tentang pernikahan kami telah sepenuhnya berubah menjadi sebuah kebahagiaan yang nyata."

Kakek mengalihkan pandangannya dari Arfan ke arah Shasmira, lalu kembali lagi kepada cucu kesayangannya itu. Napas pria tua itu terdengar sedikit berat, namun sorot matanya memancarkan ketenangan batin yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Kakek tahu," bisik Kakek parau namun tegas. "Kakek sudah melihat semuanya dari balik layar selama ini. Kakek tahu bagaimana kerasnya Arfan memperlakukanmu di awal, Shas... dan Kakek juga tahu bagaimana keteguhan hatimu berhasil melunakkan hati cucuku yang keras kepala itu. Kalian berdua adalah bukti nyata bahwa cinta sejati tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari keberanian untuk saling menopang dalam badai."

Shasmira tidak mampu lagi menahan bendungan air matanya. Air mata kebahagiaan itu tumpah membasahi pipinya, bukan karena kesedihan, melainkan karena pengakuan tulus yang akhirnya ia terima dari figur paling dihormati di keluarga tersebut.

❖ ❖ ❖

Keheningan yang penuh makna kembali merayap di dalam paviliun luas itu, diselingi oleh suara detak jam dinding antik yang berirama tenang. Kakek mengulurkan tangan kanannya yang keriput dan kurus ke arah luar selimut, memberi isyarat agar Shasmira mendekat.

Tanpa ragu, Shasmira melangkah maju, melepaskan rangkuman tangan Arfan sejenak, lalu berlutut di sisi ranjang. Ia meraih tangan rentan sang kakek dengan kedua telapak tangannya yang hangat, lalu mencium punggung tangan tua itu dengan penuh takzim dan rasa hormat yang mendalam.

"Terima kasih, Kek..." bisik Shasmira dengan suara bergetar. "Terima kasih karena telah merestui pernikahan kami, dan maafkan aku jika di awal kedatanganku aku sempat menjadi sumber kekacauan di keluarga ini."

Kakek menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk mengelus puncak kepala Shasmira dengan lembut, sebuah gestur kelembutan yang sangat langka ditunjukkan oleh sang patriark semasa hidupnya.

"Jangan pernah meminta maaf atas hal yang bukan kesalahanmu, Shas," ucap Kakek bijak. "Rumah ini dulunya adalah benteng dingin yang dipenuhi aturan dan ambisi bisnis tanpa jiwa. Aku mendidik Arfan untuk menjadi pemimpin yang kuat, tapi aku lupa mengajarkannya bagaimana cara mencintai dengan tulus. Dan kamulah... kamulah yang datang untuk melengkapi kekurangan itu."

Arfan ikut berlutut di sebelah istrinya, menggenggam tangan kakek dan istrinya secara bersamaan. "Kakek tidak pernah salah dalam memilih jalan untukku. Meskipun caraku di awal salah, Shas adalah anugerah terbaik yang pernah kumiliki dalam hidup ini."

Di ambang pintu kamar, Bi Inah yang masih berdiri memperhatikan interaksi tersebut menyeka sudut matanya dengan ujung apron, merasa terharu menyaksikan pemandangan yang begitu langka dan menyentuh hati di kediaman besar yang selama bertahun-tahun terkenal kaku dan tanpa ampun.

Namun, di tengah suasana haru biru tersebut, pintu kamar utama kembali berderit pelan. Seorang pengawal pribadi masuk dengan langkah tergesa-gesa, membawa sebuah map dokumen penting di tangannya. Pengawal itu berhenti beberapa langkah di belakang Arfan, membungkuk hormat ragu-ragu untuk menginterupsi momen keluarga tersebut.

"Maaf mengganggu Tuan Arfan dan Kakek," ucap sang pengawal dengan suara tertahan. "Tapi ada hal penting yang harus segera diselesaikan berkaitan dengan sisa aset Madam Clarissa dan Tuan Handoko yang kemarin mencoba menggugat keputusan dewan direksi."

Mendengar nama Madam Clarissa disebut, ekspresi wajah Arfan langsung berubah dingin. Ketegangan seketika merayap kembali di udara paviliun yang tadinya hangat.

❖ ❖ ❖

Kakek menghela napas panjang, menarik tangannya perlahan dari genggaman Shasmira dan Arfan, lalu menatap cucunya dengan sorot mata yang menyiratkan ketegasan mutlak seorang pemimpin lama.

Lihat selengkapnya