Pernikahan via Perjodohan

Amrullah Ibrahim
Chapter #51

Amanah Baru

Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui tirai linen putih di kamar tidur utama kediaman Wiratama, memantulkan pendar keemasan yang hangat di atas lantai kayu jati. Udara pagi membawa kesegaran sisa embun dari taman belakang, berpadu dengan wangi samar teh chamomile yang mengepul di atas nampan kecil di meja samping tempat tidur. Di atas ranjang king-size yang luas, Shasmira terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap pelan, merasakan sensasi hangat yang berbeda dari hari-hari biasanya.

Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya ketika ia langsung merasa segar dan bersemangat menyambut aktivitas di galeri seni, hari ini tubuhnya terasa agak berat. Ada rasa mual samar yang bergejolak di dalam perutnya, disertai rasa pening ringan di kepala saat ia mencoba mengubah posisi tidurnya.

Di sampingnya, Arfan Baskoro masih terlelap dalam damai. Lengan kokoh pria itu melingkar erat di pinggang Shasmira, mendekap tubuh istrinya rapat-rapat seolah sang CEO muda itu tidak ingin kehilangan sedetik pun waktu berharga di sisi wanita yang dicintainya. Wajah Arfan tampak begitu tenang, tanpa kerutan beban korporasi atau ketegangan siber yang sempat menghantui hidup mereka beberapa waktu lalu.

Shasmira tersenyum kecil. Jemarinya terulur pelan untuk merapikan sehelai rambut hitam suaminya yang jatuh di dahi. Ia merasa sangat bersyukur atas ketenangan hidup yang mereka miliki saat ini. Galeri seni di bukit perkebunan teh telah berjalan sukses, hubungan mereka telah direstui sepenuhnya oleh memori sang kakek melalui surat wasiat terakhir, dan cinta di antara mereka tumbuh semakin dalam setiap harinya.

Namun, rasa mual di perutnya kembali datang, memaksa Shasmira untuk bergerak hati-hati agar tidak membangunkan suaminya. Ia perlahan melepaskan dekapannya, bergeser turun dari tempat tidur, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi dalam.

Beberapa menit berlalu di dalam kamar mandi. Setelah meredakan rasa mual yang melanda, Shasmira berdiri di depan cermin wastafel, mengatur napasnya yang sedikit tersengal. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, lalu pandangannya turun perlahan ke arah perut ratanya. Sebuah pikiran melintas di benaknya—sebuah kemungkinan yang sudah beberapa minggu terakhir ini mulai ia curigai namun belum berani ia pastikan. Siklus bulanannya telah terlambat hampir dua minggu, dan kebiasaan tubuhnya yang mendadak sensitif terhadap bau kopi pagi Arfan semakin memperkuat dugaan tersebut.

Dengan tangan sedikit gemetar, Shasmira membuka laci kabinet wastafel. Di sudut paling dalam, tersimpan sebuah kotak kecil alat uji kehamilan mandiri yang ia beli beberapa hari lalu di apotek dekat galeri.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang berdegup kencang melebihi batas normal.

Apakah benar? batinnya bertanya-tanya, antara rasa takut, cemas, dan kebahagiaan luar biasa yang mulai membuncah di dalam dadanya.

Beberapa menit kemudian, setelah mengikuti seluruh petunjuk penggunaan alat tersebut dengan teliti, Shasmira menutup matanya rapat-rapat sebelum akhirnya menunduk melihat hasil yang tertera di layar kecil benda plastik di tangannya.

Dua garis merah tipis namun sangat jelas terpatri di sana.

Sekejap, air mata kehangatan tumpah membasahi pipi Shasmira. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk meredam isak tangis bahagianya yang hampir lepas. Perasaan takjub, haru, dan cinta yang begitu melimpah ruah bergemuruh di dalam dadanya. Ia tidak sedang bermimpi. Kehidupan baru kini sedang tumbuh di dalam rahimnya—sebuah amanah suci yang akan menyempurnakan mahligai rumah tangga mereka.

Di luar pintu kamar mandi, suara serak bariton Arfan terdengar memanggil namanya dengan nada khawatir.

"Shas? Kau baik-baik saja di dalam? Kenapa lama sekali?" tanya Arfan, disusul suara ketukan pelan di daun pintu kayu kamar mandi.

Shasmira segera menghapus air matanya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan suaranya, lalu membuka pintu kamar mandi perlahan.

Di ambang pintu, Arfan berdiri dengan kemeja tidur kasual, rambut sedikit berantakan, dan sorot mata penuh kecemasan yang langsung melunak begitu melihat wajah istrinya yang tampak merona bahagia.

"Ada apa, Shas? Wajahmu pucat, tapi matamu... kenapa kau menangis?" tanya Arfan panik, langsung melangkah maju dan merengkuh kedua bahu istrinya dengan penuh perhatian.

Shasmira mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata hitam suaminya. Bibirnya bergetar membentuk senyuman paling indah yang pernah Arfan lihat seumur hidupnya. Ia mengangkat tangan kanannya, menunjukkan kotak kecil alat uji kehamilan yang masih digenggamnya erat-erat kepada sang suami.

Arfan terpaku seketika. Pandangannya beralih dari wajah Shasmira ke arah alat di tangan istrinya, lalu kembali menatap mata Shasmira dengan tatapan kosong tak percaya. Seluruh otot di tubuh CEO perkasa itu mendadak menegang, bukan karena ancaman bisnis, melainkan karena gelombang kejut kebahagiaan yang menghantam telak hatinya.

"Ini... apa artinya?" bisik Arfan lirih, suaranya parau dan bergetar hebat.

"Kau akan segera menjadi seorang ayah, Arfan," jawab Shasmira terisak bahagia.

❖ ❖ ❖

Detik berikutnya, dunia di sekitar Arfan Baskoro seolah berhenti berputar. Pria yang terbiasa memimpin ribuan karyawan dan menghadapi berbagai krisis korporasi tingkat tinggi itu mendadak kehilangan seluruh kata-katanya. Tanpa ragu sedikit pun, Arfan langsung menerjang maju, merengkuh tubuh Shasmira ke dalam dekapannya yang sangat erat namun lembut, seolah istri dan janin di dalam perutnya adalah harta paling rapuh dan berharga di muka bumi ini.

"Ya Tuhan... Shas..." bisik Arfan berulang-ulang di dekat telinga istrinya, suara pria itu pecah oleh air mata kebahagiaan yang akhirnya tumpah tak tertahankan. Pelukan itu begitu kuat, menyatukan detak jantung mereka dalam satu irama yang sama. "Benarkah? Kita akan memiliki anak?"

Shasmira membalas pelukan suaminya sama eratnya, membenamkan wajahnya di dada bidang Arfan sambil mengangguk mantap. "Benar, Arfan. Kita akan menjadi orang tua."

Pagi itu, sarapan pagi di kediaman Wiratama berubah menjadi perayaan kecil yang penuh air mata keharuan. Bibi Retno yang mendengarkan kabar tersebut dari bibir Arfan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, menjerit tertahan karena kegirangan, lalu buru-buru memeluk Shasmira sambil mengucap syukur berkali-kali.

"Puji Tuhan! Rumah ini akhirnya akan kedatangan tangisan bayi yang manis!" seru Bibi Retno berbinar-binar, matanya basah oleh air mata bahagia. "Nyonya, mulai hari ini tidak ada lagi pekerjaan berat di galeri. Semua urusan dapur dan penjagaan saya yang ambil alih!"

Arfan sepenuhnya menyetujui titah Bibi Retno. Sejak pagi itu juga, kehidupan di kediaman Wiratama mengalami perombakan total demi keselamatan sang calon buah hati. Arfan langsung menghubungi dokter kandungan pribadi paling terkemuka di ibu kota untuk menjadwalkan pemeriksaan rutin secara berkala langsung di rumah utama, menghindari risiko kelelahan jika Shasmira harus bolak-balik ke rumah sakit.

Meskipun Shasmira sempat protes kecil karena merasa suaminya terlalu berlebihan, Arfan tetap pada pendiriannya dengan tatapan memohon yang tidak bisa ditolak.

"Kau boleh memprotesku sesukamu, Shas, tapi untuk keselamatan anak kita, aku tidak akan mengambil risiko sekecil apapun," ujar Arfan tegas namun penuh kasih, memakaikan jaket hangat di bahu istrinya saat mereka bersiap berjalan-jalan santai di taman belakang rumah pada sore harinya.

Lihat selengkapnya