Matahari pagi menyusup lembut lewat celah tirai sutra berwarna gading di kamar utama kediaman Arfan, memantulkan bias cahaya keemasan di atas lantai marmer putih yang bersih. Shasmira terbangun perlahan dari tidurnya, merasakan kehangatan yang tidak biasa merambat di sekujur tubuhnya. Di sampingnya, lengan kekar Arfan masih melingkar erat di pinggangnya, mendekapnya dengan sangat hati-hati—seolah-olah ia sedang memegang benda paling rapuh dan berharga di dunia ini.
Sejak hasil pemeriksaan dokter kandungan menyatakan bahwa Shasmira positif mengandung calon buah hati pertama mereka dua minggu lalu, seluruh atmosfer di dalam rumah besar itu berubah secara drastis. Dinding-dinding dingin yang dulunya menyimpan kesunyian dan ketegangan kini diselimuti oleh aura kelembutan yang luar biasa, terutama dari sosok Arfan yang menjelma menjadi suami dan calon ayah paling siaga sedunia.
Shasmira menggerakkan tubuhnya sedikit untuk meraih segelas air putih di atas nakas, namun gerakan kecil itu langsung membuat Arfan membuka matanya seketika. Sorot mata pria itu yang biasanya tajam dan penuh wibawa kini langsung melunak, dipenuhi oleh kepedulian yang teramat dalam.
"Kamu mau minum, Shas? Biar aku ambilkan," suara bariton Arfan terdengar serak khas bangun tidur, namun nadanya begitu lembut di telinga.
Shasmira tersenyum simpul, menggelengkan kepalanya pelan sambil mengusap lengan suaminya. "Tidak usah, Fan. Aku bisa mengambilnya sendiri. Kamu ini terlalu berlebihan, aku baru hamil beberapa minggu, bukan sedang sakit parah."
"Bagi seorang calon ibu dan bayi di dalam kandunganmu, setiap gerak kecil itu penting," balas Arfan dengan nada mutlak namun penuh kasih sayang. Pria itu bangkit dari ranjang, mengambilkan segelas air hangat dari nakas, lalu membantunya duduk dan memegang gelas tersebut sampai Shasmira selesai minum.
Perhatian ekstra yang diberikan Arfan ini sudah menjadi rutinitas harian mereka selama beberapa pekan terakhir. Pria yang dulunya dikenal kaku, dingin, dan otoriter itu kini bahkan melarang Shasmira menyentuh pekerjaan rumah sekecil apa pun, memindahkan jam kerja kantornya agar bisa lebih banyak mendampingi sang istri di rumah, serta memastikan bahwa setiap makanan yang dikonsumsi Shasmira memiliki nutrisi terbaik yang diawasi langsung oleh ahli gizi kepercayaan keluarga.
Bagi Shasmira, perubahan total pada diri suaminya adalah keajaiban terbesar dalam hidupnya. Dari seorang pria yang sempat ia anggap sebagai sipir di dalam sangkar emas, Arfan kini telah bertransformasi menjadi pelindung seutuhnya—rumah tempat ia menaruh seluruh sisa hidup dan cintanya.
"Pagi ini cuacanya sangat cerah," ucap Shasmira pelan, menatap ke arah luar jendela besar yang memperlihatkan hamparan taman hijau kediaman mereka. "Bagaimana kalau kita sarapan di gazebo halaman belakang?"
Arfan terdiam sejenak, menimbang-nimbang usulan istrinya dengan cermat sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi biarkan aku memakaikan mantel hangat terlebih dahulu. Udara pagi di luar masih cukup dingin untukmu."
❖ ❖ ❖
Beberapa menit kemudian, Shasmira sudah duduk dengan nyaman di kursi bersandar empuk di gazebo putih yang dikelilingi oleh bunga-bunga mawar bermekaran di halaman belakang. Di hadapannya, meja kecil telah dipenuhi oleh berbagai hidangan sarapan bergizi tinggi yang disiapkan khusus oleh Bi Inah atas instruksi ketat dari Arfan.
Bi Inah datang membawa semangkuk bubur ayam hangat beraroma harum rempah, lalu meletakkannya di hadapan Shasmira dengan senyuman ramah. "Silakan dinikmati, Nyonya. Ini resep khusus agar perut Anda tetap nyaman di pagi hari."
"Terima kasih, Bi," ucap Shasmira tulus. "Tapi rasanya Tuan Arfan terlalu merepotkan semua orang di rumah ini hanya karena kehamilanku yang masih sangat muda."
Bi Inah tertawa kecil. "Ah, Nyonya Shasmira, jangan berkata begitu. Tuan Arfan justru tampak sangat bahagia dan hidup sejak Anda mengandung. Sudah lama sekali saya tidak melihat Tuan tersenyum selebar akhir-akhir ini."
Arfan yang baru saja kembali dari mengambil selimut tambahan untuk istrinya mendengarkan percakapan tersebut. Pria itu meletakkan selimut wol lembut di pangkuan Shasmira, lalu duduk di kursi sebelah istrinya dengan ekspresi tenang.
"Bi Inah benar, Shas," kata Arfan lembut, mengelus rambut panjang istrinya ke belakang telinga. "Kehadiran anak ini adalah anugerah terbesar yang melengkapi seluruh lembaran hidup kita. Aku hanya ingin memastikan kamu dan bayi kita mendapatkan penjagaan terbaik."
Shasmira merespons perkataan itu dengan menggenggam tangan suaminya di atas meja. Jemari Arfan terasa hangat dan kokoh, memberikan rasa aman yang tidak pernah gagal menenangkan setiap kecemasan di dalam dadanya. "Aku tahu, Fan. Hanya saja... terkadang aku merasa risih diperlakukan seperti porselen rapuh yang bisa pecah kapan saja."
"Kamu memang porselen paling berharga di rumah ini, Shas," balas Arfan tersenyum tipis, sudut matanya menyiratkan kebahagiaan yang tulus. "Jadi, nikmati saja penjagaan ini."
Namun, di tengah suasana pagi yang tenang dan penuh kehangatan itu, kedamaian mereka mendadak terusik oleh suara dering telepon seluler milik Arfan yang diletakkan di atas meja. Arfan melirik layar ponselnya sekilas. Nama manajer operasional perusahaannya tertera jelas di sana.
Ekspresi wajah Arfan berubah sedikit serius. Ia mengangkat sambungan telepon tersebut dengan suara tegas. "Ada apa?"
Shasmira mengamati perubahan raut wajah suaminya, menyadari bahwa urusan bisnis besar di luar sana tidak pernah sepenuhnya berhenti menguji ketenangan mereka.
❖ ❖ ❖