Ervanthe merasa hatinya dag-dig-dug tak karuan. Bagaimana tidak..? Tujuh jam perjalanannya dari Jakarta menuju Sorong tak bisa dinikmatinya sama sekali. Pesawat Batavia Air yang menjadi alat untuk menerbangkannya ke bumi Papua itu, seolah menjadi neraka kecil baginya.
Apalagi saat dia harus transit selama dua jam di Makassar, Ervanthe seperti menemukan bentuk kegelisahannya yang maha berat. Beragam prasangka berseliweran di dalam otaknya.
Dia tak menyangka jika keputusannya mengijinkan Akasya pergi ke Sorong hanya berbuah tragedi yang membuatnya tak dapat tidur semalaman. Hatinya tambah tak karuan, ketika kaki Ervanthe menginjak Bandar Udara Dominique Edward Osok.
Masih terbayang kata-kata terakhir dari perempuan yang sangat dikasihinya itu. Mata bulat Akasya mengerjap indah ketika mencoba menjadi penawar kegalauan hati Ervanthe. Hingga membuatnya tak kuasa membendung hasrat petualangan Akasya. Walau dalam hati, Ervanthe gundah tiada tara.
“ Saya hanya pergi sepuluh hari Eel sayang.. berhentilah memperlihatkan sisi androgynmu. Bukan waktu yang tepat untuk merajuk. Kau tahu.. saya pengen ketawa melihat dirimu merengek seperti anak kecil. Kau tidak terjangkit skizofrenia hebefrenik kan? “ Akasya tersenyum simpul menggoda Ervanthe.
“ Jahat! Semua saya lakukan karena begitu sayangnya sama kamu. Apakah kekhawatiran saya terlalu berlebihan? “ Ervanthe merengut kesal.
“ Ohwhh.. Eel sayang.. saya tersanjung. Tapi tak perlu menjadi paranoid begitu. Kekhawatiranmu hanya akan membuat langkah saya tak lagi ringan. Ketahuilah.. kau adalah lelaki pertama yang bersedia mengoyak dadaku, meluruhkan harga dirimu untuk perempuan sederhana seperti saya..”
“Sya…”
“Terima kasih untuk semua yang telah kau persembahkan atas nama cinta. Dimanapun saya berada, tak semestinya kau khawatir. Tak akan pernah ada seorangpun yang bisa merampok tahtamu dalam hatiku “ Akasya memeluk Ervanthe. Mencoba menenangkan kegundahan hatinya.
Ervanthe menghela nafas dalam-dalam. Sambil duduk dengan tegang, pikirannya dipenuhi beragam andai. Sebagai seorang kekasih, dia merasa seperti pecundang tak berguna. Karena tidak mampu menghentikan keinginan Akasya. Dia yang seharusnya lebih bisa tegas untuk menaklukan kemanjaannya.
Laki-laki bermata teduh itu sangat menyayangi Akasya, tapi bukan berarti harus mengikuti semua kehendaknya. Tak dapat dipungkiri kalau logika seorang perempuan terkadang menjadi tumpul apabila dihadapkan pada pilihan yang menguras emosi. Disinilah tugas seorang laki-laki yang paling dekat dengan dirinya untuk mengingatkan.
Semua yang berkecamuk dalam pikiran Ervanthe tak ada lagi gunanya lagi. Sebab kekhawatiran itu sudah telanjur menjadi kenyataan. Yang dibutuhkan Akasya sekarang adalah dukungan yang tulus, baik moril maupun materil. Saatnya Ervanthe mengesampingkan semua andai yang melintas dipikirannya. Dia harus secepatnya mengembalikan Akasya pada kondisinya semula.
…
Kaki Ervanthe melangkah tergesa ke luar pelataran bandar udara Dominique Edward Osok. Dengan berbekal petunjuk dari seorang kenalannya di Sorong, dia bergerak dengan percaya diri. Tanpa banyak tanya, dia langsung naik angkutan warna kuning menuju pusat kota.
Di dalam mobil hanya ada dua orang termasuk dirinya yang berkulit coklat dan berambut lurus. Selebihnya penumpang pribumi yang asik bersendagurau dalam bahasa mereka. Pikiran Ervanthe seketika blank.
Jantung Ervanthe berdebar kencang ketika angkutan kuning yang ditumpanginya berhenti, tepat di depan gerbang RSUD Sele Be Solu. Entah kenapa pikiran jelek tentang Akasya kembali timbul. Membuat perasaannya tambah gundah. Untungnya di lobi rumah sakit, Ervanthe disambut seorang perempuan tua berwajah ramah. Ervanthe sedikit terkejut dengan sapaannya.
“ Pasti, anak yang namanya Ervanthe. Bukan begitukah? “ Sang perempuan tua menyodorkan tangannya meminta bersalaman.
“ I..iyya.. darimana ibu tahu? “ Ervanthe tergagap.
“ Dari ini..” Sang perempuan tua memperlihatkan ponselnya sambil tersenyum. Ervanthe melihat photo dirinya di layar ponsel itu. “ Mama tahu.. kau tengah gelisah dengan kondisi Akasya kan. Jangan khawatir, kondisinya sudah membaik..”
Ervanthe menatap sang perempuan tua. Dalam situasi di tempat asing seperti ini logikanya bergerak lebih cepat. Dia harus tetap waspada dengan sekeliling. Tak semestinya percaya begitu saja pada orang asing yang baru ditemui. Walaupun orang yang ditemuinya bersikap sangat ramah.
“ Kalau tak percaya, ayo ikut dengan Mama.. “ Sang perempuan seakan paham dengan kecurigaan Ervanthe. Tanpa meminta persetujuannya, dia melangkah duluan ke dalam rumah sakit. Dengan penuh kewaspadaan, Ervanthe mengikutinya. Dia sengaja menjaga jarak sekitar satu meter dari sang perempuan tua.
Tiba di sebuah ruangan, Ervanthe disambut sapaan lembut Akasya yang tengah terbaring di tempat tidur. Wajahnya tampak sudah segar. Ervanthe langsung memeluk kekasihnya itu dengan haru.
“ Saya tak sampai hati melihatmu seperti ini sayang.. Maafkan saya, karena tidak mampu mencegahmu untuk tak menyongsong peristiwa menyedihkan ini. Sya.. sepanjang perjalanan kemari, otak saya dipenuhi ketakutan. Bagaimana jadinya kalau waktu tak mempertemukan kita lagi.. “
“ Adakalanya, manusia tak mampu menghindar dari takdir yang sudah tertulis dilangit. Sekeras apapun kita mencoba, tak akan pernah bisa berpaling darinya.
Kalaupun saya tidak melangkahkan kaki ke tempat ini, mungkin saja kecelakaan itu akan menimpa saya di Jakarta. Jangan melakukan penghakiman kejam pada dirimu Eeel sayang.. Karena hal itu justru akan membuat saya lebih merasa bersalah “ Akasya mengusap-usap kepala Ervanthe.
“ Saya paham.. syukurlah.. semua telah kau lalui dengan baik. Saya senang, karena wajahmu telah kembali tersenyum “ Ervanthe mengetatkan pelukannya.
“ Ini semua karena pertolongan Mama Tua. Saya berutang kehidupan padanya..” Akasya berbicara lirih. Membuat Ervanthe perlahan melepaskan pelukannya. Lalu berpaling ke arah sang perempuan tua yang tadi mengantarnya menemui Akasya.
Ervanthe melihat sang perempuan tua tengah tersenyum sambil memandangnya di sudut kamar. Dalam hati Ervanthe menyesal, karena telah berprasangka buruk padanya. Dia hanya terpaku memandangnya. Begitupun ketika sang perempuan tua menghampirinya. Seyum manis tak lekang dari bibirnya.
“ Itulah tugas seorang laki-laki. Selalu waspada dengan keadaan. Tak perlu merasa bersalah karena telah salah paham. Akasya.. kau beruntung bertemu lelaki yang teguh pendiriannya seperti Ervanthe.. “
Sang perempuan tua menghampiri Ervanthe, kemudian menyodorkan tangannya. Kali ini Ervanthe tak menolak. Dia menggenggam tangan perempuan itu dengan hangat.