PERNIKAHAN YANG DISAKSIKAN MALAIKAT MAUT

DK Sumirta
Chapter #2

DAY BREAKER

Daybreaker...!!! Lewat momen itulah Ervanthe dan Akasya mulai saling tertarik. Awalnya Ervanthe tidak tahu kalau Akasya adalah seniornya di kantor yang sama. Maklum dia baru seminggu menginjakan kaki di Jakarta. Bahkan baru dua hari memulai karir sebagai IT Engineer di kantor mereka.

Tanpa saling tahu, Ervanthe dan Akasya yang sama-sama aktif di sebuah komunitas online, akhirnya mendapat undangan pesta Daybreaker. Lokasinya berada di sebuah tempat yang dirahasiakan.

Bagi sosialita yang sering menghabiskan waktu hang-out malam hari, daybreaker memang terkesan nyeleneh. Karena dilakukan di pagi hari sebelum orang-orang melalui aktifitas di kantor.

Budaya pesta pagi seperti ini sebelumnya berkembang di Amerika Serikat. Kemudian menjalar ke seantero jagat raya, termasuk Jakarta. Daybreaker langsung melejit sebagai alternatif memanaskan adrenalin di pagi hari. Terutama untuk kalangan komunitas dunia maya. Undangannyapun hanya lewat sosmed untuk kalangan dan lingkungan terbatas.

Ervanthe berkenalan dengan Akasya secara tidak sengaja, ketika keduanya saling bersenggolan di lantai dansa. Ditengah hiruk pikuk puluhan manusia dan suara DJ yang nyaring dari balkon, keduanya bertemu pandang.

Degg..! Keduanya merasakan jantung masing-masing berdegup agak berbeda dari biasanya. Bagi mereka dunia seperti berhenti berputar, saat dua pasang bola mata saling tatap dalam remangnya lampu ruangan pesta. Tanpa sadar keduanya saling melempar senyum.

Namun suasana romantis itu tidak berlangsung lama. Karena sirene tanda pesta usai tiba-tiba terdengar. Keduanya kemudian berlari dengan kelompok masing-masing, meinggalkan tempat pesta.

Ervanthe dan Akasya bertemu lagi di tangga menuju lantai lima kantor mereka. Ketika jam sudah menunjukan pukul Sembilan. Lift penuh sesak, hingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk menjejalkan badan.

Akhirnya mereka berlarian menuju tangga darurat yang biasa dipergunakan OB dan kurir. Keduanya kembali bersenggolan badan ditengah nafas yang ngos-ngosan meniti satu per satu anak tangga yang jumlahnya ratusan.

Ervanthe dan Akasya baru ngeh setelah keduanya sampai di kantor mereka. Karena baru hari itu Ervanthe menggunakan ruangan yang sama dengan Akasya. Setelah sebelumnya mengikuti short training di lantai dua. Sementara Akasya baru hari itu kembali ke kantor, setelah seminggu melakukan perjalanan dinas ke kota Batam.

“ Kamu berkantor disini juga? “ Akasya duluan yang menyapa, sambil mengalungkan tali name tag ke lehernya.

“ Ini hari ke tiga. Sebelumnya ngantor di Palembang “ Ervanthe melakukan hal yang sama dengan Akasya. Hingga mereka tidak perlu mengenalkan diri karena telah tahu nama masing-masing dari name tag mereka.

Ervanthe baru sadar kalau Akasya karyawan senior di tempat mereka kerja, setelah karyawan di tempat itu menyapa Akasya dengan sebutan Ibu. Padahal dari segi usia, Ervanthe lebih tua 2 tahun dari Akasya.

Tentu saja hal ini menjadi dilema tersendiri buat Ervanthe. Karena terlanjur menganggap Akasya sebagai teman hang out di pesta daybreaker tadi pagi.

“ Gak perlu merasa sungkan. Saya tetap menganggap kamu sebagai lelaki dewasa di luar pekerjaan. Junior atau senior hanya sebuah istilah. Kita tetap harus bekerja sebagai team yang solid “

Akasya memberi penjelasan ketika keduanya barengan lagi makan siang di kantin. Saat keduanya lagi-lagi tidak sengaja makan di meja yang sama.

Sikap Akasya memang sangat dominan di tempat kerja. Sebagai profesional di bidang marketing, Akasya kerap kali menjadi decision maker dalam keputusan-keputusan penting perusahaan.

Lihat selengkapnya