“Jangan takabur.. Tuhan lah yang menyelamatkan ayahmu. Kalian hanya sebagai alat.. “ Ervanthe berkata lirih. Wajahnya berpaling pada Akasya yang duduk disebelahnya seperti sedang merenung.
“Entahlah El.. saya juga tidak tahu persis. Itu sebabnya saya mengurungkan rencana saya untuk ambil master di Jerman. Padahal saya dapat beasiswa dari Kemenlu..”
“Kenapa..?”
“Saya tidak ingin kehilangan momen berdekatan dengan dia. Karena ada begitu banyak hal yang belum kami bagi bersama. Kebersamaan kami menjadi sebuah addict yang tidak mampu saya hindari “ Akasya memandang langit yang membiru.
“ Saya senang mendengarnya. Karena kamu masih memegang nilai keluarga di atas segalanya. Tidak salah menjadi egois untuk orang lain. Tapi mempertunjukan keegoisan pada keluarga yang masih kita miliki hanyalah sebuah kesalahan besar..!”
“Masa..?”
“Kamu tahu.. saya cemburu dengan keberuntunganmu karena masih ada keluarga yang masih dapat diperjuangkan..! “
“ Memangnya kemana keluarga kamu? “
“ Satu-satunya orang yang masih saya miliki, telah menghadap langit setahun lalu. Makanya tidak ada lagi yang memberati langkah saya di kampung..” Ervanthe menelan ludah. Kemudian melanjutkan ceritanya dengan suara berat.
“Banyak yang bilang kalau saya terlambat untuk mengadu nasib ke Jakarta. Namun rencana tidakdir sungguh diluar dugaan. Siapa bilang kalau lelaki penakut seperti saya tidak mungkin bersaing dengan lelaki-lelaki Jakarta..?“
“ Ternyata kamu memiliki begitu banyak sisi yang menarik El..”
“ Tapi gak secanggih kamu.. hehe..”
“ Siapa bilang saya perempuan canggih? “
“ Setidaknya itulah yang saya lihat ketika melihat kamu membawakan sebuah presentasi untuk klien. Tooppp.. “ Ervanthe mengacungkan dua jempol tangannya sambil terkekeh. Akasya malah menangkap jempol Ervanthe dan memelintirnya. Hingga membuat Ervanthe terkaing-kaing kesakitan.
“ Sadis! “ Ervanthe meringis.
“ Membicarakan masalah kantor di saat senang-senang begini, membuat saya merasa bodoh dihadapanmu. Ahh.. andai kamu tahu.. kalau saya tidak se sempurna itu..! “ Akasya menengadahkan wajahnya ke udara untuk kesekian kali. Desahan nafasnya terdengar sangat berat.