Ervanthe memandang lekat sepasang bola mata Akasya yang bening tanpa jelaga. Tapi yang dipandang malah mengerjapkan bola matanya. Membuat Ervanthe terhenyak seketika. Karena melihat dua telaga keteduhan yang luar biasa damai di dalamnya.
Perasaan Ervanthe semakin tidak menentu. Dia ingin menemukan kelepak sayap asmara di dalam mata Akasya, meski hanya sehelai. Namun Akasya terlalu pandai menyembunyikan perasaannya. Hingga Ervanthe perlahan menunduk semakin resah.
“ El.. apa lagi yang kamu tunggu? “
“ Saya.. saya tidak ingin segalanya berubah setelah ini. Setelah terbangun sekian lama, saya tidak ingin meruntuhkannya dalam sekejap. Tapi.. “
Akasya menatap lekat mata Ervanthe. Jantungnya semakin berdegup kencang. Dia tahu, momen seindah ini tercipta bukan secara kebetulan.
Sudah lama Akasya memimpikan momen luar biasa seperti ini dalam hidupnya. Tapi mengapa Ervanthe seperti susah sekali untuk memahami keinginannya..? Dia sebenarnya kesal dengan tidak tanggapnya Ervanthe pada keadaan.
Namun Akasya juga tidak sadar, kalau Ervanthe sedang berusaha keras mencari keping hati di dalam matanya.
Baru saja Ervanthe hendak membuka mulut, tiba-tiba Bianca, Luna, Gilang dan Marcel sudah berada dibelakang mereka. Bahkan dengan kehebohan luar biasa, Bianca mengejutkan Ervanthe.
Tidak segan Bianca langsung menggelendot manja. Tak peduli dengan muka Ervanthe yang seketika berubah menjadi sekeruh air sungai.
Sementara Akasya hanya tersenyum kecil melihat Ervanthe menggerutu tidak jelas. Bahkan dengan rengekan khasnya, Bianca mengajak Ervanthe menemaninya berkeliling pantai.
“ Dalam suasana gelap begini, apa yang harus dilihat? Cuma deburan ombak yang terdengar! “ Ervanthe bersungut-sungut.
“ Jangan hanya Akasya yang kamu manjakan dong Er.. Memangnya gue tidak cukup mempesona dimata kamu? “ Bianca merajuk.
“ Gilang lebih mampu membuatmu mengalami peristiwa yang menakjubkan. Catat itu..! Iya kan Bro..? “ Ervanthe menoleh pada Gilang meminta pembenaran.
Namun Gilang yang dimintai pendapat malah nyengir. Ervanthe tahu kalau sebenarnya Gilang naksir berat pada Bianca. Tapi juga seperti dirinya, Gilang tidak punya cukup keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Apalagi dia sangat menyadari kalau dirinya bukan tipe lelaki yang disukai Bianca.
Karena masing-masing tidak ada yang mau mengalah, akhirnya mereka beriringan pulang menuju resort. Suasana sudah benar-benar gulita. Deburan ombak yang terdengar semakin keras mengiringi langkah mereka dalam kebisuan.
Dari kejauhan terlihat lampu-lampu resort yang berbinar kecil-kecil. Seperti kunang-kunang yang menyemarakan malam dengan cahaya temaram. Ervanthe sibuk dengan pikirannya. Lagi-lagi dia harus menelan kepahitan karena tidak berhasil menyatidakan perasaannya pada Akasya. Kepalanya tambah pusing.
“ Mengapa aku begitu sulit bilang cinta pada seorang Akasya? Padahal sejak awal hati aku sudah berhenti di binar bola matanya..
Kamu tahu Akasya.. di langit sana banyak bintang bertabur saling mengedip. Tapi mataku hanya melihat kamu.. Mengapa aku harus merasakan kegilaan ini sendirian..? Sementara aku tidak tahu kemana sebenarnya perasaanmu kamu labuhkan“ Ervanthe menggumam dalam hati.
…
Andri sang pemilik resort telah menyiapkan pesta pantai yang meriah. Api unggun sengaja disiapkan di halaman resort. Harum ikan dan daging barbeque langsung tercium begitu Ervanthe dan teman-temannya memasuki halaman resort.
Anggoro dan David tampak asyik membolak-balik ikan dan daging di pembakaran. Sementara Calista dan Marina malah asik mengobrol dekat api unggun. Sementara Andri dan beberapa stafnya sibuk berkeliling melayani tamu lain.