Aku dihujani begitu banyak cinta…
Hingga kewalahan menerimanya…
Ini pertama kalinya sejak aku lahir…
Ada sesuatu yang tidak ingin aku kehilangannya…
Bianca hanya bisa memandang iri ketika Ervanthe memproklamirkan jadiannya dengan Akasya dihadapan anggota touring. Dia berkali-kali menelan ludah getir. Perasaannya sesak bukan main. Pemburuannya berakhir anti klimaks di Bukit Cariang. Padahal Bianca sudah bermimpi tentang semua hal yang paling indah bisa terjadi ditempat ini.
Perempuan itu langsung meninggalkan arena menuju kamarnya dengan langkah gontai. Ekor mata Akasya menangkap keresahan Bianca. Ada rasa tidak enak seketika menyergap perasaannya.
Tapi inilah yang dinamakan pertempuran. Harus ada yang menang dan ada yang kalah. Mereka memang teman sejawat di tempat kerja. Namun untuk urusan asmara lain lagi. Tak ada yang namanya saudara, apalagi hanya teman sejawat.
Gilang dan teman-temannya sepakat menobatkan Akasya dan Ervanthe sebagai pengantin Bukit Cariang of the year. Akasya keberatan dengan istilah mereka, karena dirinya dan Ervanthe baru tahap pacaran. Baginya untuk menjadi pengantin masih terlalu jauh.
Apalagi Akasya masih harus bekerja extra keras untuk membiayai pengobatan ayahnya. Setiap minggu dia harus menyediakan dana segar yang tidak sedikit untuk cuci darah. Dalam kondisi seperti ini, pihak asuransi hanya angkat tangan dengan alasan limit tanggungan sudah habis.
Setelah malam ini, menyusuri pantai Sawarna dan sekitarnya dirasakan Ervanthe dan Akasya menjadi begitu berbeda. Tidak seperti tiga bulan lalu. Bahkan saat berjalan berduapun, keduanya lebih banyak diam.
Padahal di dalam hati maisng-masing banyak hal yang ingin mereka sampaikan. Baik Ervanthe maupun Akasya, perasaan mereka seperti terhimpit bongkahan karang Tanjung Layar. Sehingga tidak memberi ruang sedikitpun bagi keduanya untuk melepaskan diri.
“ Kenapa kamu jadi lebih pendiam sejak kemarin Sya ? “ Ervanthe membuka pembicaraan.
Keduanya kini tengah menikmati pemandangan Lagoon Pari. Sebuah cekungan laut yang lebih lengang dibanding pantai Sawarna. Ervanthe memandang ke dalam jernihnya air, terlihat ikan-ikan kecil sedang asyik berenang diantara gugusan karang.
Deburan ombak sesekali menerpa karang. Namun tidak berujung di tempat mereka karena sudah lebih dahulu dipecah gugusan karang yang menjorok ke laut.
“ Memangnya kemarin saya termasuk perempuan cerewet? “ Akasya balik bertanya. Perlahan dia duduk diatas batu karang yang berlumut. Tangannya menepuk-nepuk permukaan air. Beberapa ikan kecil yang tengah berenang seketika menjauh.