PERNIKAHAN YANG DISAKSIKAN MALAIKAT MAUT

DK Sumirta
Chapter #8

PENYESALAN ATAS NAMA KEBAIKAN

Mama Tua memandang tetes demi tetes cairan infus di sebelah kanan ranjang rumah sakit. Sejak mendonorkan darahnya lima bulan lalu pada Akasya, sudah tiga kali dia masuk rumah sakit. Perempuan itu mengalami diare hebat. Hingga harus mendapat tambahan cairan karena diarenya tidak kunjung sembuh.

Meski beberapa kali sakit, namun dia tidak pernah memberi tahu Akasya. Bahkan ketika ditelepon pun, Mama Tua tetap memperdengarkan suara yang tersenyum. Padahal dirinya tengah tergolek lemah di tempat tidur.

Seperti saat ini, ditengah kondisinya yang lemah tiba-tiba Akasya menelepon dengan suaranya yang sumringah.

Mama susah sekali dihubungi seminggu ini.. Akasya kangen..! “ Suara Akasya terdengar begitu renyah di seberang telepon.

“ Memang kapan Akasya telpon? “

Aduh Mama.. coba cek voice notenya.. Mama kenapa?

“ Hehe.. Mama ini generasi oldish.. Mana mungkin ngerti yang begituan. Bagi Mama, ponsel itu yang penting bisa memanggil dan menerima telpon. Nulis pesanpun Mama sudah tidak begitu mengerti, tulisannya terlalu kecil “

Ntar Akasya ajarin... Tapi Mama sehat kan?

“ Iy.. iyaa.. Mama sehat.. “ Mama Tua segera menjauhkan ponsel dari telinganya. Tangan kirinya langsung membekap mulutnya supaya suara batuk tidak terdengar Akasya.

Beberapa kali dia menghela nafas panjang. Sementara di seberang sana Akasya terus nyerocos memberitahukan sesuatu.

Ma.. Ma.. Mama denger Akasya kan?

“ Iy..iyya.. sayang.. “

Ervanthe sudah melamar Akasya secara resmi sama ayah dan ibu..”

“Oh ya..?”

“Duuhh.. Akasya seneng banget. Ternyata menjadi perempuan itu begitu menyenangkan ya Ma. Ervanthe seperti kapal besar yang merapat di teluk indah. Dia meneriakan rindu berulang-ulang.

Lihat selengkapnya