Aku sama saja dengan dia..
Hanya pelintas ombak yang lemah tak berdaya..
Pria kehausan yang mencoba seteguk lagi untuk menghirup nafas terakhir..
Agar bisa menikmati kedamaian di Tanjung Kasuari yang lengang...
Kebanggaan Mama Tua sebagai malaikat penolong jiwa Akasya sirna sudah. Berganti penyesalan yang tidak mengenal batas. Mama Tua menyesal telah menyelamatkan Akasya dengan darahnya. Dia mengutuk waktu karena telah mempertemukannya dengan gadis berambut halus itu.
Mama Tua kemungkinan besar tidak akan sanggup lagi menatap wajah gadis berlesung pipit itu kala bertemu. Tapi bagaimanapun caranya, Mama Tua bertekad untuk menebus dosa pada gadis yang tak tahu apa-apa itu. Sebelum kematian menjemputnya di keremangan derita.
Diagnosa dokter mengenai penyebab sakitnya membuat Mama Tua limbung. Dia merasa hidupnya tidak kurang suatu apa. Rumah besar di tengah kota, berhektar-hektar tanah di Sorong Selatan, ratusan ternak dan kedudukannya sebagai pengusaha wanita di Papua Barat. Membuat dirinya merasa lengkap sebagai perempuan diakhir paruh baya.
Namun semua itu tidak ada artinya ketika harus menghadapi kenyataan kalau dirinya selama ini berkarib dengan kematian. Penyakit sialan itu rupanya diam-diam tumbuh sebagai monster jahat yang siap menerkamnya setiap saat. Dan kini, dia harus mewariskan monster itu pada Akasya.
Tiga bulan setelah mengetahuinya, Mama Tua tidak pernah mampu berpikir jernih. Dia tidak mungkin berdamai dengan takdir. Bukan kerena mengutuki takdirnya sendiri. Tapi karena telah mengirim pesan kematian itu pada Akasya.
Padahal gadis itu tidak pernah tahu asal-usulnya. Tidak pernah tahu kematian suaminya. Tidak pernah tahu masa lalu dia dan suaminya.
Mama Tua tidak dapat membayangkan bagaimana hancur leburnya perasaan Akasya kalau dia tahu keadaan yang sebenarnya. Gadis itu harus membersihkan kotoran yang dimuntahkan olehnya dan suaminya.
Mama Tua sudah punya firasat kalau hidupnya tidak akan lama lagi. Dia sudah bertekad untuk membahagiakan Akasya dengan berbagai cara. Makanya selama dua bulan ini dia melelang semua harta yang dimilikinya.
Mama Tua tidak peduli dengan rengekan saudara-saudaranya yang meminta jatah. Dia beranggapan, semua harta yang dimilikinya tidak akan mampu mengganti kehidupan siapapun termasuk gadis itu.
Karena Akasya pasti lebih memilih hidup, daripada mati besok dalam gelimang harta. Namun itulah satu-satunya cara Mama Tua untuk menebus dosanya pada Akasya. Biar dia bisa melewati gerbang kematian dengan langkah tenang.