PERNIKAHAN YANG DISAKSIKAN MALAIKAT MAUT

DK Sumirta
Chapter #10

AKHIR PERJALANAN PEREMPUAN DARI SORONG SELATAN

Teka-teki seputar Mama Tua sedikit demi sedikit terkuak, saat beliau mengunjungi Ervanthe dan Akasya di pesta pernikahan mereka.

Tidak tanggung-tanggung, seminggu sebelum hari H dan seminggu sesudah hari H, Mama Tua berada di Jakarta. Bahkan dia ikut sibuk mengurus pernak-pernik acara pernikahan. Mama Tua tidak segan mengeluarkan dana tambahan untuk beragam biaya tidak terduga untuk pernikahan mereka.

Dalam hati Ervanthe tambah heran. Begitu mudahnya Mama Tua mengeluarkan uang, seakan-akan tinggal memutar kran. Lalu uang tercurah seperti air. Dia mengeluarkan uang sambil tutup mata. Bahkan tidak pernah berusaha menghitung.

Saat Ervanthe bertanya, Mama Tua hanya berkata sambil tersenyum.“ Bagi Mama, uang tidak ada harganya dibanding kebahagiaan Akasya dan kamu..!”

“Apa ini tidak terlalu berlebihan..?”

“Kalian terlampau istimewa. Hingga dalam waktu singkat telah menghuni kapling khusus di hati Mama. Jangan kamu biarkan ada hal kecil yang mengusik kebahagiaan kalian..!”

“Tapi Ma..”

“Meski terjadi hujan badai sekalipun, kalian harus tetap bersama. Kalian berhak bahagia meski dunia runtuh sekalipun “

“ Saya malu kalau Mama terus-terusan membantu kami seperti ini..” Ervanthe memandang lemah. Dia semakin tidak mengerti dengan semua yang terjadi dikehidupannya setelah kehadiran Mama Tua.

“ Mengapa harus malu? “ Mama Tua menepuk-nepuk pundak Ervanthe.

“ Seharusnya saya dan Akasya yang memperlakukan Mama seistimewa ini. Bukan sebaliknya..”

“Mama tidak memerlukan perlakuan istimewa siapapun..!”

“Tapi Mama yang dipilih kehidupan untuk menyelamatkan Akasya. Mama pula yang menjadi jalan Akasya untuk tersenyum kembali. Kami begitu banyak berutang budi pada Mama..!”

“Mama tidak merasa seperti itu..”

“Please.. Saya mohon jangan menambahnya lagi. Kami tidak akan mampu membayarnya. Bunganya terlalu tinggi..! “ Ervanthe mengeluh.

“ Takdir, yang mempertemukan Mama dengan Akasya. Takdir pula yang menyatukan darah kami. Sebagai sama-sama mahluk Tuhan, tidak ada seorangpun yang bisa menghindar dari takdir..”

“Saya tahu Ma.. Tapi..”

Lihat selengkapnya