PERNIKAHAN YANG DISAKSIKAN MALAIKAT MAUT

DK Sumirta
Chapter #12

PENGHANCUR KEBAHAGIAAN

Degghh..! Akasya dan Ervanthe tersentak kaget. Sementara dokter kembali melanjutkan perkataannya. Dia bilang kalau Mama Tua sudah terinveksi HIV sejak lama. Dari jejak rekam medisnya, dia tertulari HIV dari suaminya.

Sepersekian detik kemudian Akasya pingsan. Sementara Ervanthe seketika lunglai. Pandangan matanya berkunang-kunang. Dia merasa seperti tersambar petir di siang bolong.

Akasya pernah menerima donor darah dari Mama Tua setahun lalu. Sudah pasti, lambat laun dirinya akan terbukti terinfeksi HIV. Begitu pula dengan Ervanthe. Sebagai pengantin baru, sudah lima hari ini keduanya melakukan hubungan suami istri setiap saat mereka inginkan.

“ Saya mengerti, anda pasti terkejut mendengarnya pak Ervanthe.. Banyak hal yang menyebabkan penderita HIV menyembunyikan penyakitnya dari banyak orang. Hal inilah yang membuat penyakit ini seperti fenomena gunung es di negara kita..

Pengetahuan dan pemahaman yang begitu minim tentang kesehatan, menyebabkan semua ini terjadi. Semua hal yang berhubungan dengan sex, selalu menjadi hal tabu di negara kita.

Tapi jangan khawatir, kami akan merahasiakan semuanya. Apalagi saudara anda ini baru pertama kali ke Jakarta bukan? “ Dokter Alain menerangkan panjang lebar kondisi Mama Tua.

Namun Ervanthe tidak begitu memperhatikan. Baginya, dunia seakan runtuh begitu saja. Mama Tua telah membelikan mereka dua tiket menuju kematian lebih cepat.

Permohonan maaf dan uang ratusan milyar yang diwariskan Mama Tua tidak ada artinya. Karena sebentar lagi mereka bakal mati. Ervanthe dan Akasya adalah calon mayat berikutnya.

“ Pak Ervanthe.. anda masih mendengarkan saya bukan? “ Dokter Alain mengejutkan Ervanthe yang tengah melamun sambil menunggu Akasya siuman dari pingsannya. Dengan tergagap Ervanthe menoleh padanya.

“ Eh.. iy.. iyya dok? “

“ Ibu Akasya sepertinya harus menjalani rawat inap. Kondisi beliau sangat lemah. Perlu dilakukan observasi menyeluruh untuk menemukan penyebab pingsannya. Saya belum tahu persis mengapa kondisi beliau langsung drop dalam waktu cepat “

“ Sa.. saya.. menyerahkan sepenuhnya pada dokter “ Ervanthe tersenyum getir. Mengingat bayangannya tentang kematian semakin menggila.

Memang hanya Tuhan yang tahu kapan manusia dijemput maut. Namun bagi mereka. Dengan penyakit yang tidak sengaja mereka miliki saat ini, bayang-bayang kematian itu telah ada dipelupuk mata.

Ervanthe tidak tahu, harus bagaimana melanjutkan hidup dalam pernikahan mereka. Apa kata semua orang disekeliling mereka, kalau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.

Laki-laki itu mengutuk dirinya sendiri dengan berbagai umpatan gila. Mengapa kegembiraan dan kebahagiaan yang baru saja mereka raih harus lenyap tanpa bekas..? Dia merasa menjadi lelaki paling bodoh di muka bumi. Karena tidak melakukan investigasi tentang Mama Tua sedetail-detailnya.

Lihat selengkapnya