Matahari baru sepenggalah, ketika Ervanthe berhasil membawa beberapa ikan kakap, sotong dan lobster hijau. Dia meminta koki resort memasaknya untuk makan siang. Kemudian kembali ke dalam cottage menemui Akasya.
Hati Ervanthe langsung trenyuh melihat perempuan yang sangat dikasihinya itu termenung sendirian. Padahal beberapa bulan lalu, Akasya yang paling semangat berburu ikan segar ke kampung nelayan. Bahkan dia sendiri yang terjun ke dapur memasaknya bersama koki resort.
Dengan langkah perlahan, Ervanthe menghampiri istrinya. Lalu memeluk tubuh ramping itu dengan lembut. Beberapa jenak mereka larut dalam kebisuan. Semilir angin laut menerpa wajah keduanya.
Di kejauhan terlihat ombak bergulung-gulung di tengah laut. Menerpa karang dan terhempas di pantai. Hingga menyisakan buih-buih yang sebentar kemudian tersedot kembali ke tengah samudera.
“Kamu harus berjanji untuk tidak mengucapkan selamat tinggal sebelum pergi El..” Akasya menyusupkan kepalanya didada Ervanthe.
“Kamu adalah kampung halaman saya. Mana mungkin saya sanggup mengucapkan selamat tinggal sama kamu..?“
“Gombal..”
“Sejauh apapun saya melangkah.. kedua kaki saya akan tetap kembali sama kamu. Karena begitu banyak hal yang belum kita bagi bersama. Bahkan saya belum menghujanimu dengan kalimat cinta sampai kamu bosan mendengarnya. “
“Sejak pertama ketemu kamu.. Setiap hari saya begitu merindukanmu..”
“Benarkah..?”
“Sebelum kita jadian, saya takut sekali kalau saya hanya memendam kangen sendirian. Kamu nakal sekali El.. Karena berhasil membuat saya cemburu setiap detik. Sampai-sampai saya harus pura-pura tidak punya perasaan apa-apa ketika Bianca mengeluh karena tidak berhasil membuatmu berpaling padanya..”
“Saya tidak tahu kalau saat itu kamu juga sudah menaruh hati sama saya..!”
“Kecemburuan saya ternyata tidak berarti apa-apa saat ini. Ternyata kekhawatiran saya sekarang lebih hebat dari cemburu di masa lalu..!”
“Oh ya..?”
“Ternyata cemburu itu membuat hati manusia seolah dihabisi perlahan. Saya begitu takut dengan masa depan kita El.. “, Akasya melingkarkan tangannya ke leher Ervanthe.
“Saya janji untuk menemani kamu selamanya. Saya janji akan memegang tangan kamu hingga detik-detik terakhir.. Saya janji akan menyediakan bahu saya untuk sandaran kamu ketika bahagia.. ketika sedih maupun resah..”