Kehilanganmu berarti kehilangan masa laluku
Kamu terlalu berani mempertaruhkan pernikahan kita
Sementara aku belum sempat mempersiapkan diri
Selama seminggu, Akasya dan Ervanthe menghabiskan bulan madu di pantai Sawarna. Tanpa tahu kalau kepergian mereka ke Sawarna menimbulkan kehebohan tersendiri di kantor. Karena baik Ervanthe maupun Akasya tidak meminta ijin ke atasan masing-masing. Tentu saja hal ini membuat keduanya langsung berhadapan dengan manajer HRD begitu kembali masuk kerja.
Beda dengan Ervanthe yang mengakui kesalahannya, Akasya malah mencak-mencak dihadapan manajer HRD. Hingga membuat suasana meledak seperti gas melon tiga kilogram. Berulangkali Ervanthe berusaha menenangkan istrinya. Tapi Akasya tak bergeming dengan emosi yang ditumpahkannya.
Akasya malah meledakkan segala unek-uneknya pada sang manajer. Ervanthe baru tahu kalau selama ini Akasya memendam kemarahan pribadi terhadap pekerjaannya. Momen yang dia hadapi sekarang seakan menjadi waktu yang tepat untuk meledakkan semua kekesalannya terhadap kantor ini.
Manajer HRD tidak kalah sengit. Sebagai pimpinan karyawan, dia tidak mau direndahkan oleh bawahannya. Adu argument berlangsung alot. Hingga Akasya pun menyerah. Dia menangis sejadi-jadinya. Lalu ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan ruangan. Sementara Ervanthe dan Manajer HRD hanya mampu terpaku dikursinya masing-masing.
“ Tenangkan istri kamu.. saya tahu dia sedang depresi hebat. Tiga tahun saya berhubungan baik dengannya. Ini bukan gaya dia. Saya benar-benar terpukau dengan pilihan dia untuk memberontak secara sporadis seperti ini “
Manajer HRD menyuruh Ervanthe yang masih terpaku serba salah. Bukannya dia tidak sayang dengan istrinya, hingga memilih terpaku di depan sang manajer. Namun Ervanthe sangat paham apa yang tengah berkecamuk di dalam batin Akasya.