Dengan langkah diseret, Ervanthe menuju rooftop. Perasaannya dipenuhi gulana. Bagaimana seharusnya dia menghadapi Akasya yang tengah terluka dengan beragam sebab. Dia tahu Akasya sedang ingin sendirian. Dia tahu Akasya butuh mid-time untuk berpaling dari kekacauan yang sudah ditimbulkannya.
Ervanthe yakin kalau Akasya sedang mengutuk dirinya karena menyesal. Manajer HRD sudah seperti ayah kedua baginya. Lelaki beruban itu merupakan kolega sang ayah. Ervanthe sangat tahu kalau Akasya begitu menghormatinya.
Sementara itu di rooftop, Akasya tengah menatap hiruk pikuk jalan Sudirman dengan pandangan resah. Rambut sebahunya tergerai begitu saja. Hembusan nakal angin siang mencerai-beraikan helaian rambut itu.
Padahal biasanya Akasya selalu mengikat rambut kalau di kantor. Alasannya karena hawa Jakarta sudah semakin panas belakangan ini. Disamping tentunya juga untuk menjaga agar rambutnya tidak gampang kusut.
Kuncir ekor kuda selalu menjadi trademarknya selama ini. Saking khasnya, dari kejauhan orang langsung mengenali keberadaan Akasya lewat rambut ekor kudanya yang melonjak-lonjak ditengah derap langkah tergesanya.
Suara nafas Akasya terdengar begitu resah ketika Ervanthe menyentuh pundaknya. Ada banyak beban yang mencoba dilepaskan laki-laki itu ketika Akasya menghembuskan nafasnya. Tangan Ervanthe sedikit gemetar menyentuhnya. Dia merasa seperti menyentuh pundak Akasya untuk pertama kalinya.
“Saya sungguh keterlaluan ya El. Beliau adalah ayah bagi semua orang di kantor ini. Termasuk saya. Saya yang salah.. saya yang memercikan api.. mengapa justru saya yang berteriak kencang padanya..?”
“Saya tahu kamu tidak bermaksud seperti itu..”
“Tapi saya sudah menguliti semua kelemahannya..! Padahal saya pernah berjanji untuk tidak pernah mengatakan sisi paling pribadinya dihadapan orang lain..! Cukup saya yang tahu. Karena saya yang dipercaya beliau untuk menyimpannya serapi mungkin. Mengapa saya berubah menjadi anak yang jahat dalam sepersekian detik..?“
“Saya paham perasaan kamu…”
“Kamu tahu El.. Beliaulah orang kantor yang paling cemas ketika saya kecelakaan di Sorong selain kamu. Bahkan beliau pula yang paling berbahagia saat kita menikah selain ayah dan ibu..”
“Saya juga melihatnya demikian..”
“Saat kamu mulai menebar perhatian, saya berkonsultasi sama dia. Beliaulah orang yang meyakinkan saya untuk menerima kamu sebagai belahan jiwa saya.. Beliau yakin kalau kamu lelaki sempurna yang dikirim langit. Sejauh ini perkataannya selalu benar tentang segala hal..”