PERNIKAHAN YANG DISAKSIKAN MALAIKAT MAUT

DK Sumirta
Chapter #18

SINYAL BAHAGIA

Akasya memutuskan untuk resign dari kantor. Tentu saja keputusan mendadaknya membuat direksi mengadakan meeting khusus. Maklum Akasya yang terbanyak memegang klien potensial. Dan klien pegangan Akasya tentu akan mempertanyakan sebab-musabab Akasya resign.

Sudah menjadi hukum alam kalau klien besar selalu memiliki karakter unik yang tidak mudah dimengerti staf biasa. Mereka biasanya punya interest tersendiri terhadap seseorang di dalam perusahaan. Selama ini Akasya lah yang berhasil menaklukan mereka. Hingga terus bertahan menjadi partner perusahaan.

Kepergian Akasya dari perusahaan akan membuat klien yang terkoneksi secara khusus dengan Akasya perlahan mundur. Ini akan membuat perusahaan rugi besar. Akasya harus marathon menjelaskan alasannya mengundurkan diri ke beberapa direksi secara personal.

Dewan direksi merasa kalau alasan Akasya resign hanya mengada-ada. Mereka sepakat menolak pengunduran dirinya. Bahkan meminta Akasya untuk berpikir ulang dan memberi cuti khusus satu minggu. Mereka tetap berharap kalau Akasya akan kembali ke kantor seminggu lagi dengan semangat seperti sebelumnya.

Orang yang paling terkena imbas dengan keputusan Akasya, tentu saja Ervanthe. Dia dianggap sebagai orang yang paling bertanggungjawab dengan keluarnya Akasya. Anggota direksi yang berpikiran picik bahkan mempunyai niat busuk untuk menyingkirkan Ervanthe dari perusahaan.

Tidak dipungkiri, di dunia yang sudah kapitalis ini, manusia tidak lagi punya nurani berbeda untuk memahami manusia lain. Segala cara dilakukan untuk tetap mempertahankan miliknya agar tetap menjadi yang terdepan.

Selama Akasya masih mendatangkan keuntungan untuk perusahaan, mereka tidak ingin melepaskannya dengan mudah. Cara-cara picik siap dilakukan agar Akasya tetap bertahan. Termasuk menghakimi Ervanthe secara kejam sebagai biang keroknya.

Status Akasya akhirnya digantung. Begitupun dengan status Ervanthe. Setiap hari dia menjadi bulan-bulanan bos-bos yang sakit hati. Pekerjaannya menjadi selalu salah di mata atasannya. Padahal Ervanthe sudah melaksanakan sesuai instruksi.

Ervanthe sudah berusaha menunjukkan kalau dia bukan staf tolol yang melakukan hal-hal konyol menyangkut tugasnya sebagai karyawan. Meski menjadi pihak yang tersudut setiap hari, namun Ervanthe tetap bertahan. Dia tetap tersenyum manis ketika pulang ke rumah.

“Saya tahu apa yang sedang kamu alami El.. Mengapa kamu tetap bertahan..?”

Akasya menegur suaminya di satu malam yang hening. Ervanthe baru sampai rumah jam sembilan malam. Tubuhnya terlihat lesu sambil memandang kosong ke arah televisi yang tengah menyiarkan berita malam.

Lihat selengkapnya