Aku memilih melarikan diri ke tempat ini..
Dan tidak lagi memainkan perasaan untukmu..
Karena disini adalah tempat terbaik..
Untuk mengenang cinta yang menghilang..
Ervanthe memilih segera mengganti pakaiannya saat Akasya masih di kamar mandi. Sambil bersiul kecil dia membasuh muka di wastafel. Mengeringkannya, lalu kembali ke ruang keluarga. Melanjutkan nonton berita malam yang terpotong gara-gara insiden kecil yang ditimbulkan istrinya.
Ervanthe sudah terbiasa tidak mandi besar malam-malam. Takut terkena reumatik. Cukup membasuh muka dan menyepon tubuhnya dengan handuk kecil yang dibasahi air. Kebiasaan ini sudah diketahui Akasya sejak menikah.
“ Keringat saya terlalu bau ya Sya? Maaf..” Ervanthe berkata sambil menyeruput teh yang telah dingin.
Akasya baru saja kembali dari kamar mandi sambil memegang perut. Bau kayu putih mengikutinya. Rupanya Akasya sudah mengoleskan minyak kayu putih pada perutnya untuk meredakan mual.
“Gak apa-apa El.. Baru kali ini saya mual ketika membaui keringatmu. Padahal sejak awal tidak pernah ada masalah. Kenapa hidung saya menjadi begitu sensitive seperti ini ya. Jangan-jangan…“ Akasya tidak melanjutkan perkataannya. Raut mukanya tiba-tiba berubah keruh. Kepalanya menggeleng-geleng.
“Jangan-jangan apa? “ Ervanthe mengejar perkataan Akasya.
“Bukankah penderita HIV kekebalan tubuhnya perlahan menurun..?“ Akasya menundukkan kepala. Keharuan tiba-tiba menyelimuti perasaannya.
“Jangan berandai-andai. Kamu tahu, masa inkubasi virus itu minimal lima tahun? Jadi tidak mungkin mulai menampakan gejalanya lebih awal..!“