“Ibu sebenarnya sedih karena tidak mampu berbuat apa-apa saat kamu selalu berkata jika dirimu baik-baik saja. Padahal ibu tahu kalau kamu sedang menderita..“
“Akasya tahu. Tapi ada yang lebih penting melebihi apapun di dunia ini. Ayah..! Mana mungkin Akasya menukar perhatian ibu untuknya demi Akasya. Sakit yang diderita Akasya bukan apa-apa dibanding Ayah...!”
“Kamu dan ayahmu sama-sama penting buat ibu..!”
“Apa Ibu tahu..? Dengan memandang mata ayah saja Akasya selalu merasa bersalah.. Karena tidak mampu berada disampingnya. Padahal sudah tugas seorang anak untuk mengabdi sepenuh hati pada orang tuanya..”
“Kamu sudah melakukannya dari dulu sayang…”
“Bagi Akasya, Surga bukan hanya ditelapak kaki ibu, tapi ditelapak kaki ayah juga. Karena kalian orang yang dipilih Allah untuk memunculkan Akasya di dunia..“
“ Ibu tahu.. nak.. Tapi kamu jangan bersembunyi di tengah penderitaan. Keluarlah sejenak dari persembunyianmu. Niscaya kamu akan mendapati, bahwa masih banyak orang-orang yang akan dengan senang hati mendengar keluhanmu. Bila tidak menemukannya, kamu masih punya ibu dan ayah.. kamu.. “
Perkataan ibunda Akasya tidak berlanjut karena Akasya keburu mual-mual. Entah kenapa membaui keringat ibunya pun Akasya merasakan mual yang tiada tara. Dia buru-buru berlari ke kamar mandi.
“Sudah berapa lama dia mual-mual El..? “ Ibunda Akasya berpaling pada Ervanthe yang ada dibelakangnya.
“Setahu El sudah tiga hari. Itulah bu.. Akasya tidak mau dibawa ke dokter. El sudah kehilangan akal untuk membujuknya. Makanya meminta bantuan ibu “
“Dari dulu Akasya memang bandel untuk urusan penyakit sederhana. Kalau sudah tidak bisa bangun, baru mau dibawa ke dokter. Tapi sepertinya kali ini bukan penyakit yang biasa..!”