PERNIKAHAN YANG DISAKSIKAN MALAIKAT MAUT

DK Sumirta
Chapter #21

MUARA KERESAHAN

“Tuh kan.. apa ibu bilang..?! Makanya sebagai anak muda, sekali-kali mbok ya nurut orang tua gak ada ruginya toh..?“ Ibunda Akasya menyambut perkataan dokter dengan suka cita.

Perempuan paruh baya itu langsung menepuk-nepuk perut Akasya sambil bergumam lirih. Wajahnya begitu sumringah. “Sayangku.. Oma tidak menyangka kalau kamu akan hadir begitu cepat ke dunia. Tadinya Oma khawatir kalau kamu terlambat menemui Oma dan Opa kamu. Jadilah anak yang sehat.. hanya itu yang Oma harapkan sekarang “

“Untuk seorang ibu baru, ada kalanya tidak terlalu sensitif ketika ada sedikit perubahan pada siklus kewanitaannya. Apalagi bagi seorang wanita karir, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya ditempat kerja..”

Dokter Rahadian mulai memberikan wejangan ditengah suasana hati Akasya yang tidak menentu.

“Sebenarnya ada positif dan negatifnya keadaan seperti demikian. Namun saya harap.. dengan adanya kehidupan baru di dalam rahim anda, maka anda akan mulai memperhatikan hal detail dalam setiap perubahan yang terjadi. Sekecil apapun itu. Sudah saatnya anda memahami lebih mendalam diri anda sendiri..“

Ervanthe dan Akasya hanya saling pandang. Di dalam hati masing-masing ada dua kekuatan yang saling bertempur. Antara perasaan bahagia dan sedih. Sebagai pasangan pengantin tentu saja mereka mendambakan kehadiran seorang anak dalam keluarga mereka.

Banyak pasangan menikah yang susah mendapat keturunan, tapi mereka langsung mendapatkannya di bulan ke empat mereka menikah. Ini sebuah karunia yang teramat besar bagi siapapun. Bukankah salah satu tujuan menikah adalah untuk mendapatkan keturunan..?

Tanpa meminta persetujuan Akasya, sang ibu meminta jadwal pemeriksaan selanjutnya pada dokter Rahadian. Dia beranggapan kalau Akasya masih belum mengerti apapun yang seharusnya dilakukan seorang ibu.

Akasya dan Ervanthe hanya manut. Keduanya masih bingung dengan semua yang terjadi. Bukan mereka tidak bahagia, tapi perasaan ketakutan tentang masa depan sang bayi lah yang membuat kebahagiaan mereka ternodai. Bagaimana kalau anaknya kelak positi membawa virus HIV dalam tubuhnya..?

Kebahagiaan ibunda Akasya terus dibawa sampai rumah. Dia tidak mampu menyimpan suka citanya sendirian. Dengan semangat dia langsung menelepon saudara-saudaranya.

Ervanthe dan Akasya hanya tersenyum resah. Melihat yang dilakukan mertuanya, Ervanthe tambah gundah. Malah langsung membayangkan kejadian yang mengerikan beberapa tahun kemudian. Andai mertuanya tahu, kalau suka cita yang didapatnya sekarang akan berubah menjadi kisah menyedihkan tujuh bulan lagi.

“ Pokoknya.. mulai sekarang kamu harus menjadi suami siaga El. Apa perlu, ibu dan ayah pindah kemari..?”

Lihat selengkapnya