Saat tidak ada yang menyukaiku.. aku merasa lapar dengan cinta
Jangan berkata tidak.. tapi periksa perasaanmu dengan jujur
Aku bahagia dengan apa adanya diriku
Bilang pada takdir.. bimbinglah aku mendekat padanya
Berhari-hari Ervanthe mencari pencerahan sambil memantau lebih intens keadaan Akasya. Dia takut kalau sang istri akan melakukan hal-hal yang konyol. Ditengah depresi hebat yang tanpa akhir ini, setangguh apapun seorang manusia pasti ada saatnya menemui titik drop.
Begitupun dengan Akasya. Siapa tahu dibelakang Ervanthe dia berniat melakukan sesuatu yang unpredictable. Bukan hanya keselamatan Akasya yang dicemaskan Ervanthe, tapi juga janin yang tengah dikandungnya.
Meski kecemasan mengiringi kehadiran calon manusia itu ke dunia. Tapi Ervanthe tetap ingin memperlakukan janin yang dikandung istrinya sebagai anugerah terindah dalam hidupnya.
Bahkan semakin hari Ervanthe semakin merasakan suka cita mengiringi kehadiran anaknya. Laki-laki itu semakin merasa menjadi lelaki seutuhnya kala mengingat kehadiran sang bayi dalam beberapa bulan ke depan.
Sekeras apapun perjuangan yang harus dia lakukan, Ervanthe tetap ingin mempertahankan sang jabang bayi dengan sekuat kemampuannya. Dia harus berjuang agar bayinya tidak ikut merasakan kecemasan yang tengah dialami orang tuanya. Ervanthe percaya kalau keajaiban itu selalu ada.
Untuk menambah kegiatan di rumah, Ervanthe dan Akasya sepakat untuk membuka usaha florist. Mereka membuka gerai di garasi. Sementara bunga-bunganya didatangkan dari Cianjur, Lembang dan beberapa bunga impor dari sebuah pemasok di Jakarta Utara.
Awalnya marketingnya dilakukan secara on-line. Namun seiring waktu, mereka menerima pesanan yang datang langsung ke gerai. Tujuan Ervanthe tadinya hanya iseng, tapi perlahan pesanan malah terus mengalir setiap bulan. Bahkan beberapa kantor mulai rutin memesan rentalan bunga setiap minggu.
Akhirnya mau tidak mau Ervanthe harus merekrut 2 karyawan di bulan ketiga. Apalagi di saat yang sama, kandungan Akasya semakin membesar. Keduanya baru sadar kalau waktu ternyata begitu cepat berjalan. Hingga tidak begitu memperhatikan kondisi Akasya.
Untungnya ibunda Akasya rajin mendatangi rumah mereka setiap jadwal check up kandungan. Sehingga mau tidak mau Akasya manut. Tidak ada alasan baginya untuk tidak memeriksakan kandungan ke dokter, karena sang ibunda sudah datang menjemput.
Sejauh ini kandungan Akasya menunjukan perkembangan yang normal. Ervanthe melihat sendiri calon bayinya bergerak lincah di dalam perut Akasya ketika mereka melakukan USG.
Melihat keajaiban alam yang menakjubkan itu, Ervanthe tidak kuasa menahan haru. Air matanya jatuh satu-satu tanpa sadar. Betapa dirinya menyesal, karena masih meragukan anugerah yang telah dikirimkan langit.
Saat ada acara pengajian menyambut empat bulanan pun, Ervanthe masih mengurai haru. Dia merasa semakin berdosa karena berusaha mengingkari apa yang telah digariskan takdir.