Bangunan setengah jadi kokoh berdiri di antara keheningan dan sunyi nya malam hari. Langit malam tanpa bintang dan bulan, hanya awan bergemuruh diikuti suara petir dan kilat yang menyambar berkali-kali.
Di tengah keheningan malam yang mencekam. Seorang lelaki berdiri mematung, mengangkat kedua tangannya yang menggenggam keris dengan gagang berbentuk kepala kerbau. Mulutnya tiada henti membacakan mantra, mantra dari seorang dukun yang dianggap nya sakti dan bisa memenuhi permintaannya.
Ada beberapa sesajen di hadapan lelaki itu, termasuk satu buah kepala kerbau dan darah yang tersimpan di cawan kaca. Bunga kamboja dan melati yang mengelilingi kepala kerbau bertanduk itu. Aroma kemenyan menyeruak sekeliling. Lilin-lilin berwarna merah pun turut menjadi pengantar dirinya untuk meminta suatu hal mustahil pada iblis atas keserakahan.
Ia masih membaca mantra, seketika asap mengepul keluar dari dalam air berisi bunga melati yang dicampur darah. Asap itu kian menebal, meluas dan mengelilingi dirinya.
Lilin merah bergoyang, semakin kencang dan akhirnya padam. Jantungnya seolah berhenti, perlahan lelaki itu memejamkan mata dengan tangan gemetar dan mengubah posisi menjadi bersujud pada siluet hitam di hadapannya.
Tinggi dan berbau amis, bentuknya bukanlah manusia ataupun menyerupai hewan. Hanya terlihat dua tanduk di kepalanya, banyak rambut di sekujur tubuhnya, matanya merah menyala.
"Lakukanlah seperti yang aku perintahkan!" ujar lelaki itu memohon. Siluet itu seperti tertawa dengan auman yang menggema.
Ia melakukan perintah tuannya. Berdiri di kerangka bangunan, menyulap beberapa pekerjaan yang belum selesai. Senyum menyimpul pada sudut bibir lelaki itu saat ia bangkit dan duduk dengan beralaskan tanah.
"Pak Barata! Tunggu!"
Suara lantang itu membuatnya kaget, matanya membulat, wajahnya panik. Tetapi,ia tahu apa yang harus dilakukan ketika rahasianya terbongkar.
"Pak! Apa yang Bapak lakukan salah besar!" teriak temannya itu dengan nafas terengah-engah.