Persimpangan tanpa tanda

Dhea Anil Safitri
Chapter #1

> Dibawah langit yang sama

Sentuhan remang sore mulai merayap masuk lewat celah tirai, membiaskan cahaya jingga yang lembut di atas permukaan meja riasnya yang rapi. Gestur tubuhnya tetap tenang dan tertata, namun ketukan jemarinya pada bingkai pintu lemari membocorkan sedikit sisa rasa cemas. Dengan gerakan jemari yang halus meski tergesa, ia memilih gantungan baju satu per satu. Sweater rajut berwarna pastel akhirnya menjadi pilihan, membungkus tubuhnya dengan kehangatan yang pas untuk melindunginya dari angin malam. Ada helaan napas panjang dan sunyi yang lolos dari bibirnya saat ia menatap pantulan dirinya di cermin. Ditengah keheningan suara ponsel genggamnya berbunyi, dengan cepat dia pergi meraih ponsel tersebut.


"Dimana? Udah sampe kah?"

"Sabar, nunggu gojek"

"Ok di food court ya,biar enak nyarinya"

"Kenapa ga di atrium aja sih? Gw tinggal masuk loby pertama kan?"

"Astaga anak kecil, ya udah deh. Kabarin ya kalok udah sampe"

"Ok"


Gadis itu menutup telfonnya dan bergegas keluar kamar kosnya yang disambut driver gojek yang dia pesan.


"Sesuai titik ya neng?"

"Iya pak"


Gadis itu pun meninggalkan tempat kosnya dan pergi bertemu dengan teman-temannya disebuah mall di jakarta yang tak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Tak butuh waktu lama gadis itu sudah berada didepan loby sebuah mall, dia bergegas masuk dan tak lupa membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih kepada driver gojek tersebut.


"Dhara" teriak seorang gadis disebuah meja di depan main atrium

"Dhar, sebelah sini" teriak gadis itu lagi


"Udah lama nunggunya mba?" Ucap dhara sembari duduk di depan mereka

"Engga,barusan juga kok. Mba kalia juga baru sampai" ucap nada salah satu temannya

"Lo sendiri dhar?" Tanya kalia

"Ya mau sama siapa?" Ia memutar kedua matanya tanda malas


Nada dan kalia yang mendengar itu tertawa bersamaan, mereka sengaja menggoda temannya yang sudah dianggap adiknya sendiri karena umurnya yang paling kecil. Ya, dhara adalah gadis berusia 21 tahun sedangkan nada dan kalia jauh lebih dewasa di bandingkan dia. Namun berteman bukan dengan siapa dan umur berapa kebanyakan mereka yang berselisih umur jauhlah yang lebih mengerti satu sama lain.


"Oh ya, kenalin ini pacar gw" ucap nada

"Dan ini pacar gw" tambah kalia

"Haa? Ga solid banget sih, katanya me time tapi bawa pasangan, dah lah mau pulang aja" jawab dhara ketus

"Ululu jangan kesel gitu dong dhar, gw ga sejahat itu sama lo, nih kenalin temen gw. Dhio" ucap nada sembari mengangkat kedua alisnya

"Kenapa malah saling diem bukannya kenalan?" Tambah kalia


Lelaki itupun mengulurkan tangan kearah nya, dengan tatapan yang dingin namun tenang, matanya yang sendu dan berwibawa sejenak mengalihkan pikiran dhara.


'Bagaimana manusia bisa memiliki mata seindah itu?'


Dhara menerima uluran tangan tersebut dan ketika jemari mereka bertaut, waktu disekelilingnya seolah terhenti sejenak. Tepat saat pandangan mereka bertemu keheningan diantara mereka mendadak riuh oleh hal-hal yang tak tersampaikan.

Tatapannya membuatnya tenang


"Dhio"

"Dhara"


"Udah gitu doang?" Perkataan nada itu sontak menyadarkan keduanya, "sangat mengecewakan" tambah kalia. Semua orang yang berada disitu sontak tertawa hanya dhara dan dhio yang sedari tadi terdiam tidak menanggapi


Rasa canggung menyelimuti keduanya, tak dipungkiri bahwa kedua insan itu paham tujuan akan pertemuan ini bagi mereka. Ada jarak yang tak kasatmata membentang di antara mereka, dingin dan membuat setiap gerakan yang terjadi seolah salah tempat.


"Gw mau ke toilet dulu, sekalian ada yang mau dibeli" dhara melangkah menjauh dari rombongan mereka. "Mau ditemani dhar?" Teriak kalia yang hanya dibalas lambaian tangan oleh dhara.


Ia berjalan lambat di antara kerumunan, menatap setiap langkah manusia yang tersenyum dan bergurau bak tanpa beban

Sebenarnya apa arti hidup yang sesungguhnya? Apa yang membuat manusia selalu tertawa?

Lihat selengkapnya