Persimpangan tanpa tanda

Dhea Anil Safitri
Chapter #2

Hujan di taman kota

Di antara derak gemericik yang membasahi seluruh kota, dhara berdiri tegak di pinggir jalan kota yang perlahan menggenang, membiarkan pakaian nya basah kuyup disiram hujan. Sementara orang-orang sibuk mengutuki cuaca yang berubah tanpa aba-aba, lain dengan gadis itu yang tersenyum bebas dengan sapuan air di seluruh wajahnya.


"Setenang itukah hujan?" Ucapan itu membuat dhara membuka matanya perlahan dan mencari asal suara itu, ia mendapati seseorang yang tak asing berdiri di belakangnya menyodorkan payung ke arah tubuhnya yang hampir setengahnya sudah basah karena air hujan.


"Dunia emang sempit ya, di antara banyaknya tempat lagi-lagi gw bertemu sama lo" ujar dhara sambil menggeser tubuhnya berpindah dari bawah payung itu.

"Maybe salah satunya adalah jawaban dari setiap doa yang selama ini dipanjatkan" jawab dhio dengan tenang,datar, dan tanpa ekspresi

"Terlalu awal untuk bilang itu sebuah jawaban"

"Bukankah lebih baik dari pada menyebutnya suatu kebetulan?" Tanya dhio

"Bukannya lebih logis?" Dhara mengernyit

"Ga ada yang namanya kebetulan dihidup ini ra, semua sudah diatur sesuai dengan porsi dan takarannya" perkataan dhio itu tepat mengenai hati dhara. Air matanya luruh jatuh bersamaan dengan air hujan yang mengguyur tubuhnya,badannya terasa panas meski cuaca tengah dingin, tenggorokannya bak terikat kawat yang dapat menelan seluruh hidupnya saat itu juga


"Apa yang buat lo suka hujan" ucap dhio sambil memberikan payung itu ke dhara

"Ga ada alasan, gw cuma suka" jawaban dhara itu kembali membuat dhio menggelengkan kepalanya

"Segala sesuatu yang kita jalani pasti semuanya mempunyai alasan ra,badut aja punya alasan untuk menghibur semua orang"

"Lalu apa alasan lo berdiri disini sama gw?apa alasan lo ngobrol sama gw?apa alasan lo kasih payung ke gw?"

"Simple! Karena gw nyaman ngobrol sama lo"


Alasan klasik


****


"Ga ada yang namanya kebetulan dihidup ini ra, semua sudah diatur sesuai dengan porsi dan takarannya"

Perkataan dhio tadi berputar-putar di kepala dhara, pertanyaan demi pertanyaan muncul mencari setiap jawaban. Dia terbisa memikul semuanya sendirian, perkataan itu berhasil membentur dinding pertahanannya. Apakah selama ini dia terlalu memaksakan diri melampaui takarannya karena takut tidak ada yang menopangnya?


Malam harinya ketika langit sedang menunjukan betapa cantiknya angkasa di atas sana,dhara tengah duduk di pingggir jendela tempat favoritnya membaca buku, sayu-sayu suara malam mulai terdengar, tak lama ponselnya berbunyi. Dhara pun, mendekatkan ponselnya ke telinga


"Halo" suaranya mengalun pelan, seperti hembusan angin yang membawa ketenangan membuat dhara sedikit terkejut dan mencoba melihat kembali siapakah sosok yang menelefonnya malam itu

Nomor baru?


"Siapa?"

"Dhio"

"Dapat nomorku dari mana?"

"Nada"

"Pantas, ada perlu apa?"

"Nada bilang lo suka baca buku, gw besok ada acara di deket gramed, lo mau nitip sekalian ga?"


Nada terbelangak kaget, bukan tanpa alasan tawaran ini begitu tiba-tiba baginya, menurutnya dia dan dhio tidak sedekat itu untuk sekedar menitip suatu barang.


"Sorry nih ya sebelumnya, kita ga sedeket itu lo btw?"

"Apa yang salah? Gw kan cuma nawarin karena lo suka buku katanya, so gw inisiatif buat tanya lo mau nitip atau ga? What's wrong?"

"Ini bukan salah engganya, walaupun lo tau gw suka buku ya kenapa lo harus tawarin gw?gw bisa beli sendiri! Yang gw maksud itu apa alasannya?"

"Ga ada reason apapun. Gw cuma ingat aja sama lo!"


Mendengar jawaban dhio, dhara terdiam matanya sempat terpaku melihat layar ponselnya, rasa dingin menjulur keseluruh badannya, dia memejamkan matanya sebentar menetralkan isi pikirannya sebelum dia menjawab ucapan dhio


"Ra? Lo masih disitu kan?" "Jadi gimana? Lo mau nitip apa? Gw ga tau lo suka genre yang seperti apa"

"Teserah!" Dhara menutup telfon itu dan melempar ponselnya ke tempat tidurnya. Ia sedang berusaha mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tak lama layar ponselnya menyala menangkap perhatiannya. Begitu membaca nomor pengirim dan baris pertama pesan itu, jemarinya membeku di udara. Tanpa dia sadari sebuah senyum tipis yang terukir di sudut bibirnya terbentuk


"Ra, save nomor gw ya, mungkin lo sedikit kaget karena gw. Sorry ya gw ga ada maksud apa-apa, gw cuma berpikir karena lo suka baca buku makanya gw tanya ke lo mau dibelikan sekalian atau ga. Dan ngeliat dari jawaban lo kayanya lo kesel ke gw tapi gpp berhubung gw yang salah jadi untuk pembahasan ini tolong jangan terlalu dipikirkan ya, night"

Lihat selengkapnya