"Kalau nanti kita sama-sama sehat, kita coba lagi, ya."
Jasper menatap lama pesan yang memenuhi layar ponselnya.
Pesan itu dikirim tiga bulan lalu.
Belum pernah ia hapus.
Belum pernah pula ia balas.
Hanya ia baca ulang setiap hari.
Jari telunjuknya menyentuh foto profil pengirimnya.
Vittoria.
Tidak ada lagi foto wajah perempuan itu. Hanya langit senja berwarna jingga dengan siluet seorang anak kecil yang menggenggam tangan ibunya.
Jasper tahu siapa anak itu.
Elia.
Putri semata wayang Vittoria.
Ia menggulir percakapan mereka ke atas.
Ratusan pesan.
Ribuan kata.
Putus.
Baikan.
Putus lagi.
Saling menyalahkan.
Saling meminta maaf.
Saling mendoakan.
Hingga akhirnya hanya tersisa percakapan tentang obat, jadwal kontrol, dan harapan agar masing-masing tetap bertahan.
"Jangan berhenti minum obat."
"Kamu juga."
"Kalau suatu hari kita benar-benar sehat..."
"Aku akan cari kamu lagi."
Jasper memejamkan mata.
Janji itu tak pernah ia tepati.
Ponselnya bergetar.
Inge.
"Sudah berangkat? Jangan lupa kabarin kalau sudah masuk tol."
Jasper menarik napas panjang.
"Iya."
Hanya satu kata.
Ia memasukkan ponselnya ke saku.
Di ruang kontrakan yang sudah hampir kosong, hanya tersisa sebuah koper hitam dan kardus berisi buku-buku.
Bandung telah menjadi rumahnya selama bertahun-tahun.
Bukan karena kota itu istimewa.
Melainkan karena di kota itulah ia pernah merasa dimengerti.
Oleh seseorang yang selalu dipanggilnya...
Ria.
Perjalanan menuju Jakarta berlangsung hampir tiga jam.
Hujan turun sejak memasuki gerbang tol.
Radio mobil memutar lagu-lagu yang tidak benar-benar didengarnya.
Pikirannya terus kembali pada satu nama.
Ria.
Sesekali ia bertanya dalam hati apakah perempuan itu masih tinggal di rumah yang sama.
Apakah Elia sudah tumbuh lebih tinggi.
Apakah Ria masih menyimpan lagu-lagu yang dulu sering ia buat dengan bantuan kecerdasan buatan.
Atau...
Apakah dirinya sudah benar-benar menjadi bagian dari masa lalu perempuan itu.
Sore menjelang ketika Jasper tiba di sebuah rumah dua lantai di kawasan Jakarta Selatan.
Seorang perempuan membuka pagar sambil tersenyum.
"Ingat jalan juga akhirnya."
"Inge."
Mereka berjabat tangan singkat.
Dua puluh tahun berteman membuat sapaan canggung itu terasa cukup.
"Capek?"