Suara alarm ponsel Jasper berbunyi pukul enam pagi.
Ia terbangun dalam kamar yang masih terasa asing. Butuh beberapa detik sebelum ia mengingat bahwa ia tak lagi berada di Bandung. Tak ada lagi suara kereta yang sesekali melintas di kejauhan. Tak ada lagi udara dingin yang biasa menyusup dari celah jendela kontrakannya.
Ia berada di Jakarta.
Di rumah Inge.
Jasper meraih ponselnya. Kebiasaan pertama setiap bangun tidur adalah membuka WhatsApp. Jemarinya berhenti di satu nama yang sejak semalam tak pernah benar-benar ia tinggalkan.
Ria.
Tak ada pesan baru.
Tak pernah ada lagi sejak mereka memutuskan berpisah.
Ia menutup layar ponselnya sebelum pikirannya kembali melayang terlalu jauh.
"Pagi."
Suara Inge menyambutnya dari dapur.
"Aku buat roti sama telur. Kamu minum kopi, kan?"
"Iya."
"Nggak pakai gula?"
Jasper mengangguk.
"Kamu masih ingat."
Inge tersenyum kecil.
"Teman dua puluh tahun, masa lupa."
Kalimat itu membuat Jasper ikut tersenyum, meski hanya sebentar.
Mereka memang telah saling mengenal sejak bangku sekolah. Bertahun-tahun hanya menjadi teman. Bertukar kabar sesekali. Tak pernah ada sesuatu yang istimewa di antara mereka, setidaknya menurut Jasper.
Namun akhir-akhir ini ia mulai merasa, mungkin Inge memandang hubungan mereka dengan cara yang berbeda.
"Aurel!" panggil Inge.
"Ya, Ma."
Seorang gadis kecil muncul dari lorong sambil membawa tas sekolah yang hampir sebesar tubuhnya.
"Sapa dulu Om Jasper!"
Aurel mengangguk.
"Pagi, Om."
"Pagi."
Hanya satu kata.
Sopan.
Datar.
Lalu ia duduk di kursi paling dekat dengan ibunya.
Sarapan berlangsung tenang.
Inge banyak berbicara tentang kantor, jalanan Jakarta, dan beberapa tempat yang mungkin menarik untuk dikunjungi Jasper.
Aurel lebih banyak makan dalam diam.
Sesekali ia mencuri pandang ke arah Jasper.
Begitu ketahuan, ia buru-buru mengalihkan tatapan.
Jasper tak tahu harus memulai percakapan dari mana.
"Kelas berapa sekarang?"
"Empat."
"Suka sekolahnya?"
"Iya."
"Pelajaran favorit?"
"Bahasa Indonesia."
Jawabannya selalu pendek.
Tidak kasar.
Tetapi juga tidak mengundang percakapan.
Jasper akhirnya menyerah.
Ia merengut.
Inge memperhatikannya, wajahnya merengut balik pada Jasper.