Persinggahan Terakhir

Vitri Dwi Mantik
Chapter #3

Chapter tanpa judul #3

Bab 3 – Bertahan

Hari-hari berlalu dengan ritme yang mulai terasa akrab. Jasper perlahan mengenali kebiasaan-kebiasaan kecil di rumah itu: suara langkah Inge setiap pagi, aroma kopi yang selalu memenuhi dapur, dan keheningan panjang yang sering muncul di antara mereka. Namun, di balik semua itu, ia mulai menyadari sesuatu yang membuatnya gelisah.

Bagi Jasper, mereka hanyalah dua orang yang saling membantu bertahan hidup. Namun bagi Inge, kebersamaan mereka tampaknya memiliki arti yang lebih dalam. Tatapan yang terlalu lama, perhatian yang berlebihan, dan harapan-harapan yang tersirat dalam setiap percakapan membuat Jasper merasa hubungan mereka perlahan bergeser dari sekadar teman serumah.

Di sisi lain, Inge masih membawa luka yang belum sembuh. Masa lalu yang penuh kehilangan membuat emosinya mudah meledak. Ketika rasa takut datang, ia menjadi cemas. Saat kecewa, ia melampiaskannya kepada orang-orang yang berada paling dekat dengannya. Dan orang yang paling sering menerima semua itu adalah Jasper.

Tidak jarang percakapan sederhana berubah menjadi pertengkaran. Hal-hal kecil dapat memicu kemarahan Inge, lalu disusul tangis, penyesalan, dan permintaan maaf. Jasper berusaha memahami bahwa semua itu lahir dari rasa sakit yang belum selesai. Meski demikian, setiap kali menjadi tempat pelampiasan emosi, ia merasakan beban yang semakin berat.

Beberapa kali ia berpikir untuk pergi. Ia membayangkan mencari kamar kos murah atau pekerjaan yang menyediakan tempat tinggal. Namun setiap kali niat itu muncul, ia teringat malam ketika Inge membuka pintu rumahnya dan mempersilahkannya masuk tanpa banyak pertanyaan. Tanpa pertolongan itu, mungkin ia masih hidup berpindah-pindah tempat atau tidur di jalanan.

Rasa utang budi itulah yang membuat Jasper tetap bertahan.

Lihat selengkapnya