Malam itu, setelah mengantar Inge tidur, Jasper masuk ke kamarnya dan menutup pintu perlahan. Rumah kembali sunyi. Hanya suara kipas angin dan sesekali deru kendaraan dari kejauhan yang menemani kesendiriannya.
Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu tanpa tujuan membuka galeri dan folder-folder lama. Jarinya berhenti pada sebuah berkas audio yang sudah hampir terlupakan. Nama file itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat dadanya sesak.
Sebuah lagu.
Lagu yang dahulu dibuat dengan bantuan AI atas permintaan Vittoria. Liriknya lahir dari percakapan-percakapan panjang mereka, dari harapan yang pernah mereka bangun bersama, dan dari janji untuk saling menguatkan ketika dunia terasa terlalu berat. Jasper menekan tombol putar.
Melodi lembut memenuhi kamar.
You stand so tall, yet gentle as the breeze
Every word you speak, a map, a masterpiece
Structured thoughts like rivers carving through the stone
Every glance, every pause, makes me feel less alone
In your quiet, there’s a universe I can’t contain
Layers of feeling, a heart I can’t explain
Every careful step, every choice you make
Adds light to shadows, makes my own heart wake
You carry more than eyes can ever see
A mind so sharp, a soul that sets me free
Even when your silence weighs like rain
I’d follow it, feel it, again and again