Perspektif

Mala Armelia
Chapter #1

Orang kok gitu

Beberapa tahun lalu, bukan saya yang sekarang, saya yang masih duduk di bangku sekolah (Sedari dasar sampai menengah), selalu merasa kesal setiap kali berada pada kejadian saat mengajari orang lain yang sampai dijelaskan dua atau tiga kali masih belum paham apa yang saya jabarkan, lebih-lebih pada pelajaran matematika yang menurut saya pelajaran ini adalah ilmu pasti, kunci mengerjakan persoalan yang ada pada matematika hanya menghafal. Meskipun memang banyak komponen yang harus kita hafal mulai dari penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, pangkat, rumus dan beberapa lagi, namun jika sudah dihafalkan asal beberapa saja dari yang sudah saya sebutkan matematika tidak sampai sesulit itu yang harus dicerna sampai mulut ini kering, rasa hati ingin mengumpat ketika teman yang saya ajarkan tidak hafal bahkan untuk perkalian satuan, hampir sebesar gunung merapi saking otak ini terheran-heran.

Pasalnya bagaimana bisa manusia yang diberikan kesempatan belajar hampir enam tahun untuk menghafal perkalian dari satu sampai 10, masih harus berpikir lama atau malah menebak ketika soal berhubungan dengan perkalian keluar. Bisa dibilang saya akan menggerutu setengah mampus di dalam hati saat mengajari seseorang matematika yang bahkan perkalian atau pembagian saja mereka tidak hafal, ini baru dasar, belum jika diaplikasikan pada rumus.

"Orang kok gitu." Biasanya begini umpatannya.

Orang kok gitu bebel banget,

Orang kok gitu aja gabisa,

Orang kok lama banget mikirnya.

Kunci matematika adalah menghafal, itu dulu saja, karena di atas menghafal ada memahami rumus, kalau memahami rumus saya pun belum tentu bisa memahami semua rumus, ini hal yang wajar menurut saya dengan waktu yang hanya hitungan hari atau minggu kita dituntut menghafal kemudian memahami rumus demi rumus. Padahal sebenarnya ada saja pasti orang lain yang bisa memahami sebuah rumus hanya dalam hitungan jam dan tidak se-tinggi hati saya melihat orang lain yang kemampuannya di bawah.

Padahal, kalau dipikir lagi, banyak juga yang harus dihafal dalam sebuah hal yang bernama matematika, padahal lagi, saya juga bebal sekali dalam hal yang bernama 'Biologi'. Tapi tetap saja, beberapa tahun lalu saya kesal bukan main saat saya yang berbicara saja maunya cepat dan to the point ini yang mendengar hal yang sudah diulang tiga kali masih masih direspon dengan cengiran macam bicara dengan anak balita.

"Kenapa kalau tidak bisa, tidak memanfaatkan waktu luang dengan baik untuk mempelajari hal ini?" Salah satu pertanyaan hati saya ketika selesai menjelaskan dan berakhir dengan respon unjuk gigi, dan ini tidak hanya berlaku pada matematika.

Lihat selengkapnya