Kembali lagi ke masa lalu, semasa sekolah, saya termasuk dari anak yang pernah menginginkan orang tua yang berbeda keadaannya, atau orang lain yang benar-benar lain dari orang tua saya sesungguhnya. Kenyataan waktu itu sungguh membebani saya dengan orang tua yang tidak sempurna di mata saya dan saudara kandung, dengan ibu yang hanya tau bekerja saja dan ayah yang entah kemana dia.
Tapi, lambat laun di hening malam saat saya lelah meratapi semua, pikiran di kepala menarik lagi ke masa ibu saya kecil, ketika beliau masih seorang anak yang penuh ego seperti saya, lalu beralih ke bapak saya begitu seterusnya sampai saya menyadari sesuatu.
Sebagai seorang anak tentu kita pasti pernah berpikir tentang; tidak bisa memilih lahir dari orang tua seperti apa. Seperti saya yang waktu kecil sering berpikir; andai aku lahir dari ayah yang bisa bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya. Pasti hari-hari pulang sekolah masih bisa bertemu ibu dan bisa digunting kuku oleh ibu, sungguh skill menggunting kuku ini perlu dilatih sebaik mungkin ternyata agar tidak mudah cantengan.
Jangan tanya bagaimana kerasnya ibu saya jika sudah bekerja. Beliau bisa tidak tidur demi anak-anaknya berhasil dapat makan dan jajan besok hari, meskipun hamil beliau pernah tetap berkeliling berjualan baju untuk dapat uang, meskipun harus pulang larut malam, masak untuk puluhan orang sampai merawat anjing semua dikerjakan, alhasil lihat sekarang anaknya tidak ada yang tidak bersekolah dengan benar walaupun belum ada yang mendapat gelar.
Dan sebaliknya, jangan tanya bagaimana bapak saya dengan hidupnya yang senang menganggur.
Seperti fenomena keluarga kebanyakan, ketika memiliki pasangan yang seharusnya memberi nafkah tetapi tidak didapatkan selama bertahun-tahun, ibu saya akhirnya menyerah.
(Sungguh jika kamu berpikir ini adalah sebuah aib keluarga yang tidak boleh semua orang tau karena perceraian, saya justru berharap akan banyak pelajaran yang didapatkan apalagi tulisan ini khusus sekali saya dedikasi untuk para anak-orang tua.)
Perpisahan ini membawa saya dan keempat saudara saya pada pengalaman hidup yang inspiratif sekali untuk diceritakan berulang kali kepada anak dan cucu kami sampai telinga mereka panas, tentu dengan bagian cerita masing-masing sesuai dengan posisi di dalam keluarga. Pada bagian saya, sudah saya ceritakan di awal tulisan ini bahwa saya tidak senang dengan pikiran ayah saya yang entah mengapa lemah sekali dalam berkarir, bayangkan selama hampir dua puluh tahun menikah dengan ibu, dia hampir pula tidak pernah bekerja. Hal buruk yang membuat seorang istri tentu saja akan muak. Lalu, bertahun-tahun menikah dan bekerja, setelah berpisah keadaan semakin memaksa ibu untuk bekerja.
Tentu kepada siapa lagi beliau akan bergantung, selain finansial yang terganggu keadaan mental kecil kami terkadang tidak lebih baik dari keluarga yang lain. Ibu, jarang di rumah, saking terlalu sering pulang malam karena sibuk bekerja saya pernah mengambil raport tanpa wali murid alias ambil sendiri alias sungguh santai sekali sebagai siswa menengah, ibu juga sering tidak mengindahkan keluh kesah anak-anaknya dan cenderung mudah marah jika tanggal tua. Sifat tempramen ibu kepada anak-anaknya ini pernah membawa kami tidak berhubungan hampir setahun, meskipun sebenarnya lebih banyak loss contact dengan bapak tetapi berasa sekali hidup tanpa orang tua itu.