Pertikaian Nalar

Larasita Apsari
Chapter #1

Pertikaian Nalar

Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana rasanya berada di dalam sebuah ambulans. Apakah suara sirene terdengar keras dari dalam? Apa penunggu sempat mengeluh karena gerah? Apa supir merasa panik karena harus tancap gas menyalip kendaraan di jalan raya?

Nyatanya, telingaku hanya mendengar dengung panjang dari dalam. Sekujur tubuhku terasa dingin, menggigil, dan jari-jari kakiku mati rasa. Di depanku, tertutup kain putih dan dibalut plastik, terbujur jenazahmu. Sebagian diriku merasa bersyukur kau meninggal akibat infeksi menular, karenanya aku tidak perlu melihat wajahmu yang kosong tak bernyawa sepanjang perjalanan pulang.

“Jadi Ibu, kalau nanti ada yang meminta melihat wajah Bapak, jangan boleh ya, bu. Bahaya kalau infeksi dari Bapak menular,” ucap perawat yang mendampingiku pelan.

Aku mengangguk pelan. Sudah berkali-kali dia mengatakannya.

Ambulans berhenti. Sudah sampai rumah ternyata. Dua petugas ambulans dengan sigap mengeluarkan jenazahmu. Dari dalam, aku melihat anak pertama kita berlari dari halaman. Dituntunnya aku ke luar. Dia memakai kaus dan celana yang biasa dipakainya sehari-hari, tak sempat berganti baju rupanya.

Sesampainya di pintu depan, aku melihat anak kedua kita. Kontras dengan kakaknya, tampaknya dia sempat berganti baju sebelum pelayat datang. Aku membayangkan dia berganti pakaian sambil menangis. Dia boleh berduka, tapi kita berdua tahu anak kedua kita tidak mau terlihat menyedihkan.

“Buk, jenazah bapak sudah diatur di ruang tamu. Terus bagaimana, bu?”

Aku terdiam. Rumahku sudah dipenuhi kerabatmu dari luar kota, kerabatku, tetangga, saudara, dan wajah-wajah yang bahkan aku tidak ingat pernah mengenal mereka di mana. Sedang kau, aku tak heran jika kau tahu siapa saja dari ujung kampung kita hingga satu kecamatan. Riuh. Beberapa ada yang mulai berjalan mendekatiku.

Dengung panjang yang sedari tadi terdengar dari dalam ambulans pun berhenti. Suara manusia memenuhi telingaku. Tiba-tiba segalanya terasa sesak. Susah untuk bernafas. Kulepaskan genggaman anakku, lalu mencoba bersuara,

“Aku mau ke kamar Bapakmu saja,”

 

***

 

Kau pernah bilang, jika aku menangis, yang menangis hanya mataku. Air mataku mengalir deras, tapi aku tidak terisak. Aku juga tidak meraung, katamu. Jika kau melihatku sekarang, mungkin kau akan bertanya-tanya apa aku benar istrimu, atau bukan?

Karena aku meraung seperti orang kerasukan. Aku menjerit. Suara-suara yang terdengar seperti bukan suaraku keluar dari mulutku. Suara yang serak, penuh geraman, seperti bukan suara manusia, suaraku, bercampur jadi satu.

Setelah tadi meminta untuk tidak ditemani, anakku menutup pintu kamar. Entah bagaimana aku mulai menangis--entah karena kamar yang masih dipenuhi aromamu, atau foto pernikahan kita di atas meja--yang aku tahu aku sudah meringkuk di atas kasur, menangis tanpa henti.

Di sela teriakanku, aku mendengar anak kedua kita yang bersikeras tidak mengizinkan siapapun masuk kamar.

Lalu, sepertinya aku tertidur. Sepertinya, karena aku tidak mendengar apapun lagi.

***

Suara anak pertama kita terdengar samar. Aku mulai membuka mata. Samar-samar terlihat adik perempuanku sedang berbicara lirih dengannya.

“Pagi nanti solat jenazah, lalu kita harus masak untuk para pelayat. Lalu nanti aku bagi tugas sama budhemu untuk beli bahan makanan untuk tahlil,”

“Tahlilnya cuma hari ini saja, Lik?” tanya anakku.

“Kelamaan di kota, lali ambek kebiasaan sini, kamu? Tahlilnya tujuh hari berturut-turut, nduk,”

“Dibuat satu hari saja apa tidak bisa? Lalu pakai uang siapa?”

“Hus! Mau bapakmu kekurangan bekal ke akhirat, kamu? Wis, kamu bantu-bantu juga. Soal uang wis ngkok ae dipikir,” adikku menjawab seiring dia ke luar kamar.

Anak pertama kita menatapku. Dia sadar aku terbangun.

“Repot di luar, Buk,”

Aku hanya memandangnya. Tampak air mata mulai memenuhi matanya. “Yang meninggal itu bapakku juga, Buk. Aku capek. Aku juga mau menangis. Tidak adil kalau ibu saja yang begini semalaman,” ucapnya sesenggukan.

Suara yang seperti bukan suara manusia itu kembali terdengar, menjawab mewakiliku. “Sudah puluhan tahun aku mengurus rumah, mengurusmu, adikmu, bapakmu. Saat ini aku yang paling berhak menangis sepuasku, berhak tidak menemui siapa-siapa. Sekali ini saja coba urus keluarga ini, atau kamu memang tidak bisa? Tidak heran kalau melihat keluargamu sekarang. Hancur,”

Air mata anak pertama kita mengalir deras. Suara pintu berdebum keras seiring dia keluar kamar.

Aku tahu pasti, suara yang bukan suara manusia tadi menyakitinya. Tapi aku hanya ingin sendiri. Aku heran. Selama aku dan kau bersama, aku selalu menikmati saat-saat dikelilingi orang-orang. Bahkan saat ibuku sendiri menginggal, aku yang mengurus semuanya bersamamu. Aku menyambut semua pelayat. Aku menyiapkan tahlil. Aku bahkan membantu memasak.

Lihat selengkapnya