Sore, belum terlalu gelap. Warna jingga masih mendominasi di atas langit. Burung-burung masih berkicau di halaman sebuah bangunan megah yang bersusun-susun, membentuk garis horizontal.
Seorang wanita berkerudung biru tua berjalan tergopoh-gopoh menelusuri lorong yang mulai sepi. Dia tampak resah, tatapan matanya selalu berkelit ke satu kamar ke kamar lain, gerak - geriknya sangat mencurigakan. Kadang juga menoleh ke belakang, memastikan bahwa tidak ada orang yang melihatnya. Lalu dia keluar dari bangunan utama asrama putri. Ketakutan menjalar, dan mata berbulu lentik itu sangat liar mengawasi ke seluruh halaman luas yang ditumbuhi hijaunya rerumputan.
Lalu, dia berjalan bergegas setelah memastikan tidak ada orang yang melihat dia mendatangi sebuah rumah besar bercat abu-abu yang berada di area rumah dinas para pengajar. Suasana hening nan mencekam begitu terasa di rumah itu. Lampu-lampu temaran tampak malas menerangi perkarangan. Dia berdiri tegang di depan pintu. Menarik napas, menghembuskan pelan-pelan dengan irama berat terdengar.
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu diketuk wanita itu, jantungnya masih berdebar kencang. Tubuhnya masih gemetaran setelah melakukan tugas yang diberikan pemilik rumah yang sekarang dia berada.
"Masuk!" teriak seseorang bersuara bariton dari dalam. Wanita itu masuk buru-buru sambil melongok kembali ke luar rumah itu. Lalu menutup pintu. Netranya melihat seorang laki-laki bertubuh tegap, mengenakan jas berwarna hitam dan peci di kepalanya. Tampak rapih di senja kelabu hari ini. Lalu, ada buah koper tergeletak di dekat meja kerja laki-laki itu.
"Maaf Pak, saya sedikit terlambat," kata wanita itu sedikit menundukkan kepalanya.
"Gak apa-apa! Oiya ... apakah kamu sudah menjalankan semua perintahku?" tanya laki-laki itu melirik sebentar. Wajahnya tampak samar terlihat oleh kedua netra perempuan itu.
"Sudah Pak, semua orang di tempat ini sudah tertidur setelah saya memberikan obat tidur di makanan mereka tadi," jawab wanita itu tak lagi berani menatap lama-lama. Jari-jarinya sibuk memainkan baju bagian bawah.
"Bagus!" kata laki-laki itu, berbalik badan. Lalu merogoh saku dalam jasnya. Sebuah amplop coklat tebal di keluarkan dari jas. "Ambil ini," lanjutnya melempar amplop coklat tebal itu ke atas meja. "Ini bayaranmu untuk pekerjaan tadi. Besok pagi, aku akan memberikan bayaran tambahan untukmu setelah kau selesaikan pekerjaan yang lainnya!" lanjut laki-laki terlihat samar wajahnya. Sinar lampu luar ruangan tidak mampu memperlihatkan siapa laki-laki itu, hanya bulu-bulu tebal menggelayut di sekitar bawah hidunh dan dagunya.
Wanita itu bergegas mengambil amplop coklat itu, "Terima kasih, Pak!" katanya dengan bibir bergetar. Dia belum pernah memegang duit sebanyak yang ada di amplop itu. Menyimpannya kemudian dalam selipan roknya.
"Sekarang keluar lah, dan laksanakan tugasmu setelah aku pergi jauh dari sini!" titah laki-laki itu kembali memandang luar jendela.
"Maaf Pak, kalau boleh saya tau ... kenapa Bapak melakukan hal ini? Apakah Bapak tidak merasa bersalah pada mereka semua?" tanya wanita itu sangat penasaran. Sebab, tak seperti biasanya laki-laki itu menginginkan orang-orang yang berada di tempat ini mati.