Pesantren Dan Kutukan

Kamalsyah Indra
Chapter #3

Sebuah Peringatan

Lalu di pesantren.

Suasana hening terlihat di sekitar area halaman pesantren. Udara sejuk, pohon-pohon rindang yang cukup banyak tumbuh dengan subur. Seorang wanita berjalan ke arah aula pesantren. Wajahnya sumringah, tersenyum ceria bak matahari yang bersinar cerah.

"Selamat pagi semua Ustadzah," sapanya sangat ramah.

"Selamat pagi juga ustadzah Widia!" sapa yang lainnya serempak. Wanita bernama Widia itu duduk di antara ustadzah-ustadzah yang mengajar serta mengabdi di pesantren itu. Pesantren yang belum lama rampung dan dibuka itu akan menerima santri dan santriwati baru tahun pertama.

"Bagaimana nih, ustadzah-ustadzah sudah siap mengajar belum?" tanya Widia, tangannya ikutan menyusun hiasan-hiasan untuk menyambut kedatangan para santri dan santriwati yang akan menimba ilmu di pesantren itu.

"Sudah dong, Ustadzah. Kita semua semangat untuk mengajar," kata salah satu ustadzah berkerudung biru dan bermata indah.

"Kalau begitu bagus, kita akan berjuang mencerdaskan para santri ya," katanya sambil tersenyum.

"Siap!" Antusias para pengajar. Mereka sibuk menghias aula untuk menyambut para santri-santri dari berbagai daerah Indonesia. Di tahun pertama itu, santri yang mendaftar cukup banyak. Ada sekitar seratus lima puluh ribu orang.

Aula sudah dihias. Spanduk gede bertuliskan "SELAMAT DATANG PARA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU." sudah terpasang di dinding aula. Bukan hanya di aula saja, spanduk dengan bacaan sama pun terpampang jelas di pintu masuk pesantren, bahkan ukurannya dua kali lebih besar dari di aula.

"Ayo Ustadzah-ustadzah, kita bereskan. Sebentar lagi para santri akan datang," ujar Widia membantu membereskan alat-alat bantu pembuatan hiasan aula.

Satu persatu para santri berdatangan. Semua diantar oleh kedua orang tua dan kendaraan masing-masing. Para pengajar sudah siap menyambut di tempat yang sudah dibagikan. "Semua para santri yang baru datang, harap segera ke aula terlebih dahulu. Nanti akan ada pengarahan untuk pembagian kamar," ujar Widia memberitahu melalui toa. Suaranya terdengar hingga ke luar pesantren. "Untuk santri laki-laki masuk di sebelah kanan, sedangkan santri perempuan kalian bisa masuk lewat sebelah kiri. Ingat, kalian gak boleh bercampur selama di pesantren!" lanjutnya. Para santri mengikuti intruksi Widia.

Amalia turun dari mobil. Papahnya membantu dia menurunkan koper berisi pakaian dia selama belajar di pesantren. Gadis cantik itu berdiri di depan kedua orang tua serta adiknya. "Mah, Pah, aku masuk dulu, ya!" katanya, lalu memeluk sambil mencium kedua pipi Mamahnya.

"Iya, kamu jaga diri baik-baik selama di pesantren ini. Semoga, apa yang kamu cita-citakan tercapai," kata Devina memberi wewejangan pada putri kesayangannya itu. Amalia mengangguk. Lalu dia memeluk laki-laki gagah itu.

"Doain Amalia ya, Pah, biar betah dan bisa mempelajari ilmu agama dengan baik!" bisi Amalia dipelukan papahnya.

"Iya, Papah pasti doain yang terbaik buat kakak!" ujar Nugroho, begitu dia menyayangi putrinya itu. Membelai lalu mencium keningnya. Lalu, Amalia berpindah ke Adik laki-lakinya.

"Kamu dik, jagain Mamah. Jangan main game mulu. Ingat, selama kakak gak ada sering-sering bantuin Mamah. Kasihan Mamah ngurus rumah sendirian!" Nasehat panjang keluar dari bibirnya itu. Ferdinan langsung cemberut mendengar nasehat bukan kata pamitan padanya.

"Apaan sih, bawel banget. Udah sana masuk, belajar yang benar, nanti aku panggil "Buk Ustadzah" kalau udah keluar dari pesantren," gerutunya kesal. Amalia justru gemas dengan adiknya yang baru menginjak usia 12 tahun itu.

Lihat selengkapnya