Pesantren Dan Kutukan

Kamalsyah Indra
Chapter #4

Pergi Dari Sini!

Mobil Ridwan berhenti di halaman pesantren. Kedatangannya sedikit terlambat, keadaan sepi pun terlihat. Tak ada penjagaan di pintu masuk pesantren yang Erlita lihat tadi. Wanita itu sedikit ragu, sebagai seorang ibu perasaannya bekerja keras dalam keselamatan putra semata wayangnya.

"Apa benar ini pesantrennya, Yah?" tanya Erlita ragu. Terlihat di mata wanita itu, pesantren ini tidak seperti pesantren pada umumnya. Ada kejanggalan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata, tapi dia bisa merasakannya.

"Iya, ini pesantrennya. Ayo turun, kayaknya kita sudah terlambat," ajak Ridwan, laki-laki itu sangat yakin putranya akan berubah setelah belajar di pesantren itu. Ridwan membantu mengeluarkan koper besar berisi pakaian dan kebutuhan Reyhan selama di pesantren ini.

"Yah, kenapa kita gak balik aja sih, ke Jakarta. Perasaan Reyhan gak enak sama suasana pesantren ini!" ujar pemuda itu mengelus-elus bagian lengannya. Dia merasa bergidik ketika sampai di pesantren ini. Udara yang dingin, suasana sepi yang mencengkam. Bukan hanya itu saja, dia merasa ada ribuan pasang mata sedang mengawasinya.

"Jangan kayak anak kecil! Di sini kamu akan digembleng biar jadi anak yang lebih baik dan taat beragama!" Lagi, Ridwan selalu saja mencegah ucapan serta kemauan anaknya itu. "Udah, kamu masuk! Ini koper kamu," titah Ridwan. Pemuda itu mengambilnya dengan malas. Matanya mendelik, lalu berputar mengelilingi area pesantren itu. Sepi dan sedikit ada kesan mistisnya.

Erlita memeluk putranya, "Kamu baik-baik ya, di sini, Rey. Bunda akan merindukan kamu!" katanya sambil mengusap-usap punggung Reyhan.

"Iya Bun, doakan Rey biar betah. Dan tolong bujuk Ayah agar Rey pindah dari sini. Rey takut berada di pesantren ini!" bisik Reyhan.

"Iya, nanti Bunda bujuk Ayahmu," balas Erlita. Pemuda itu tersenyum, lalu melepaskan pelukkan ibunya. Perpisahan pun di akhiri dengan lambaian tangan Reyhan. Dia mulai menarik kopernya. Perasaan sedih menyelimuti Erlita, dia tidak bisa pisah dengan Reyhan. Ridwanpun ikut melambaikan tangan, kemudian mengajak istrinya untuk kembali pulang sebelum hari menjadi gelap.

Semua santri sudah mendapatkan kamarnya masing-masing. Mereka juga sudah memasukkan pakaiannya dari koper ke lemari. Lalu, bergegas mereka ke masjid untuk melaksanakan sholat dzuhur bersama. Sedangkan Reyhan, dia masih terus melangkah sambil melihat-lihat sekeliling pesantren. Banyak pepohonan rindang tumbuh subur di perkarangan pesantren. Bahkan ada pohon beringin dan bambu tumbuh sangat lebat. Tubuh Reyhan mendadak merinding melewati pohon beringin yang cukup menyeramkan. Dia merasa, di setiap langkahnya ada banyak pasang mata mengawasinya.

Reyhan menoleh, namun tidak ada siapapun di sekitar situ. Hanya dia saja yang berjalan seorang diri. "Sial! Kenapa pesantrennya jauh lebih menakutkan dari rumah hantu di pasar malam?" bisiknya bergidik. Lalu dia mempercepat langkahnya, agar menjauh dari pohon beringin itu. Kakinya sedikit berlari, dia merasa ada yang mengikutinya. Kadang Reyhan menoleh ke belakang sesekali tanpa memperhatikan depan. Lalu ...

Buk.

"Aaah ... sial, siapa sih, yang berdiri menghalangi jalan?" katanya setengah berteriak. Dia tampak kesal. Reyhan mencoba melihat sosok yang ditabraknya. Dia perhatikan dari kaki hingga ke pinggang, Reyhan merasa tak ada yang aneh untuk saat ini. Dia berdiri. "Mas, Mas tolong saya, Mas!" kata Reyhan sedikit ngos-ngosan.

Lihat selengkapnya