Pesantren Dan Kutukan

Kamalsyah Indra
Chapter #5

Wanita Tua

Wanita tua itu terduduk di kursi kamar dekat jendela. Setelah kejadian tadi, dengan keluarga Reyhan, anak laki-lakinya mengantar masuk ke kamar agar tidak mengganggu pembeli lain. Di bawah terpaan senja sang raja surya, tatapan wanita tua itu tampak terlihat kosong. Tubuh renta dan kurus kering milik wanita tua itu bergerak tak bisa diam, bibirnya tak berhenti komat-kamit. Ada ketakutan di antara kerutan-kuratan tipis di wajah wanita berusia lebih dari 50 tahun itu. Tampak tegas, namun sedikit samar oleh cahaya keemasan dari luar jendela.

"Mati ... mati ... mati ... semua akan mati," ocehnya sambil memainkan ujung baju.

Lalu di dalam pikirannya, ada segudang ingatan kelam yang selalu mengusik jiwa dan pikiran. Rasa bersalah terpupuk semenjak kejadian dua puluh tahun lalu, menghapus jejak kenangan-kenangan indah menjadi kenangan hitam mengerikan. Ditambah dengan kejadian-kejadian yang menimpa keluarganya satu persatu. Mati secara mendadak dan mengenaskan. Dia terlalu serakah untuk menjadi kaya, rakus akan uang, tergiur oleh lembaran demi lembaran merah yang bertumpuk-tumpuk. Dulu, tak pernah terbesit sedikitpun dibenaknya akan balasan Tuhan yang akan ditanggung kini secara tunai.

Sebuah balasan Tuhan itu bikin jiwanya terguncang, bermula dari suaminya yang mati mengenaskan, diserang ribuan anjing gila yang tiba-tiba datang menyerbu suaminya sepulang dari bekerja di pabrik tahu. Tak berselang lama, kedua orang tuanya harus mengorbankan nyawa secara mengerikan, seluruh tubuhnya harus bergilir oleh mesin pembajak sawah.

Disusul kematian anak sulungnya yang hampir menikah, tiba-tiba saja beberapa orang perampok menyantroni rumahnya. Anak sulungnya diperkosa, lalu dibunuh secara brutal dengan tubuh dipotong menjadi bagian-bagian kecil. Tak sampai disitu, anak nomor dua wanita tua pun ikut merasakan karma atas perbuatannya. Ratusan karung beras tanpa ada yang menyenggol menimpa anak kedua wanita itu hingga tewas.

Penderitaan terus datang, giliran adik dan istrinya wanita tua itu. Adik dan istrinya harus mati mengenaskan terlindas truk hingga kepalanya pecah.

Dia cukup terpukul, akan tetapi pikiran tentang karma dia abaikan. Hingga suatu hari, halusinasi datang menghantui dan bikin jiwanya terganggu. Kewarasan pikirannya terkikis oleh waktu yang ternodai dosa yang amat besar. Hidupnya hanya tersisa ditemani anak laki-lakinya. Kejadian demi kejadian itu membuat rasa bersalah menghantui dia terus menerus. Bayangan-bayangan kematian selalu muncul dan seolah sedang mengawasi gerak-gerik dia di setiap detik denyut nadinya.

Bukan hanya itu saja, bisikan-bisikan berdengung di telinga menuntut keadilan. Membuat gangguan jiwa semakin jadi.

Sebenarnya, dosa apa yang dia perbuat dulu? Semua menjadi rahasia, namun menjadi momok jelas di antara seluruh warga desa mengetahui kejadian yang terjadi pada wanita itu. Rahasia kelam yang tersimpan dulu di dalam dirinya sedikit demi sedikit diketahui warga. Apalagi kasus kematian keluarga wanita itu, membuat para warga semakin yakin akan kejahatan yang wanita itu lakukan.

"Tidak ... bukan aku, bukan aku ... jangan ganggu aku!" Suara bisikan-bisikan itu mulai terdengar lagi, bahkan hampir tiap hari dia mendengar hingga menusuk selaput gendang telinganya. Tangan penuh garis-garis halus itu segera menutup telinga, mata terpejam sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia tampak tersiksa oleh tiap bisikan menuntut keadilan atas perbuatannya. "Bukan aku ... jangan ganggu aku!" pekiknya, lalu berdiri dan melempar benda di meja.

Praang.

Menghantam tembok kemudian hancur berkeping-keping.

Suara-suara itu semakin banyak, menggaung di telinga. Seolah mengerubungi dirinya yang ketakutan. Wanita itu berputar sambil melihat setiap sudut kamar, tak ada siapapun bagi orang lain tidak bisa melihat apa yang dia lihat di dalam kamar. Ada ratusan roh yang menampakan diri memenuhi tiap inci dalam kamarnya. Berdiri mengelilingi dengan tatapan bengis penuh dendam. Roh-roh berwajah menyeramkan mereka menginginkan kematian wanita itu sebagai pembalasan hidup mereka yang direnggut paksa.

"Jangan ... jangan mendekat! Jangan bunuh aku, bukan aku yang bunuh kalian!" Kakinya mundur pelan-pelan, tubuhnya terhimpit oleh desakan roh-roh penasaran yang semakin mendekat. Wajah-wajah menyeramkan, bau busuk yang menyengat, membuat wanita itu tak berkutik di dinding kusam berlumut.

"Pergi kalian! Jangan ganggu aku!" teriaknya lebih kencang sambil mengambil radio tua di atas meja. Lalu ...

Braaak.

Radio itu menghantam pintu, hampir saja mengenai wajah anak laki-lakinya.

"Bu ... Ibu gak apa-apa?" tanyanya berlari dan memeluk wanita tua yang ketakutan itu. Berjalan kemudian saat ibunya sedikit tenang.

"Mereka datang! Mereka ingin membunuhku. Aku tidak mau mati, ini bukan salahku," ocehnya sambil menutup telinga dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Me-mereka?" Anak laki-lakinya melihat sekeliling rumah, tak ada siapapun. Jendela kamar wanita tua itupun masih tertutup rapat. "M-mereka siapa? Gak ada siapapun di sini, Bu?" kata pemuda itu heran.

"Apa itu roh Kakak, Om, bibi, Bapak dan Kakek juga Nenek? Apa Ibu berhalusinasi lagi?" pikirnya. "Jangan-jangan Ibu merasa bersalah atas kematian mereka?" pikirnya lagi. "Atau ini benar-benar karma dari masalah pesantren itu seperti orang-orang bilang? Apa mungkin Ibu ada hubungannya dengan pesantren itu?" pikirnya sekali lagi. Mulai membuatnya pusing akan tiap masalah yang terjadi pada Ibu dan keluarganya.

Pemuda itu adalah anak bungsu dari wanita tua itu, sebut saja namanya Tian. Usianya dulu masih terlalu dini untuk mengerti tentang kejadian pesantren yang hangus terbakar dan menyebabkan semua santriwati juga para pengajarnya tidak ada yang selamat dalam peristiwa kebakaran itu. Tian hanya tau dari warga desa, dan tuduhan mereka mengarah pada Ibunya atas kejadian dua puluh tahun silam. Para warga menuduh bahwa Ibunya yang membakar pesantren itu, mereka juga mengatakan bahwa penyakit Ibunya derita akibat karma dari perbuatan di masa lalu. Namun tuduhan itu tak ada bukti, sehingga Ibunya tidak ditahan.

"Lebih baik Ibu istirahat saja di kasur." Tian mulai membaringkan tubuh renta itu di ranjang. Lalu selimut ditarik dan mulai menutupi tubuhnya sedikit demi sedikit. Pemuda itu menghela napas, lalu beranjak bangun dan berjalan pelan menuju pintu kamar ibunya. Hendak keluar.

Lihat selengkapnya