Pesantren Dan Kutukan

Kamalsyah Indra
Chapter #6

Gangguan Bag. 1

Reyhan tak langsung merapihkan pakaiannya ke lemari, dia berdiri memperhatikan kamarnya yang sempit. Kasur yang hanya terbuat dari kayu. Dia berjalan, lalu menyentuh pelan tiap inchi perabotan yang akan dia tempati.

Pemuda itu menghela napas. "Kenapa harus ke sini sih?" keluhnya. Meja penuh debu, sepertinya, perabotan untuk para santri tidak terlalu banyak diganti. Hampir semua terlihat usang dan reot. Layaknya perabotan lama yang tak terurus.

Lalu, dia membuka jendela kamar. Kedua netranya menyipit, dia mendapati dua santri perempuan bermain tak jauh dari pohon beringin yang sempat ia lewati tadi. Suara tawanya begitu renyah, terdengar hingga ke telinga Reyhan. "Ngapain mereka bermain di sana? Di pohon beringin lagi," pikir Reyhan mengernyitkan dahi.

Kedua santri perempuan menoleh, tampak samar wajah mereka di mata Reyhan. Terlihat aneh, membuat pemuda itu mengucek matanya. "W-wajah mereka?" gumamnya pelan. Tak lama, wajah itu meleleh bak plastik hingga tulang tengkoraknya terlihat. Kemudian, kedua bola mata santri itu terjatuh ke tanah.

Bibir setengah tulang tengkorak itu tersenyum menyeringai mendapati Reyhan mendapati keberadaan mereka. Lalu, mereka merangkak pelan dengan kepala terbalik. Lambat laun kaki dan tangan itu melangkah cepat.

"Aaargh!" teriaknya.

Reyhan syok, dia bergegas menutup jendela kamar. Berbalik badan. Pemandangan mengerikan itu membuat jantungnya berdebar sangat kencang, darah berdesir hebat dan bulu-bulu haluspun menjadi meremang.

"Gila ... t-ternyata mereka s-setan!" bisik batinnya. Pengalaman mengerikan untuk kedua kali dia rasakan setibanya di pesantren. Tubuhnya bergetar hebat, apalagi sekarang suara gedoran terdengar jelas dari luar jendela. Mengagetkan Reyhan yang masih diam melamun.

Deg.

Jantungnya semakin hebat berdetak. Ketakutan membuat tubuh Reyhan gemetaran. Suara gedoran itu terus berbunyi di dekat daun telinganya.

"Sial! Kenapa aku bisa masuk ke pesantren kayak gini?"

Suara gedoran itu semakin kencang, bahkan sekarang kedua santriwati jadi-jadian itu mendorong paksa jendela. Pemuda itu berusaha menahan jendela sekuat mungkin. Ketakutan semakin jelas, buliran-buliran bening air keringat bertambah meyakinkan bahwa pemuda sedang ketakutan hebat menghadapi dua setan menjelma dua orang santriwati.

Lihat selengkapnya