Lalu di masjid, para santri perempuan dan laki-laki mulai mengambil air wudhu. Berbaris rapih, melakukan secara bergantian. Di tempat wudhu wanita, Amalia mendapatkan giliran terakhir. Dia sedikit mengeluh, sebab, beberapa kali antriannya diselak santri lain. "Akhirnya dapat giliran juga," bisik batinnya. Keran air dibuka, dia hendak memulai mengambil air wudhu.
Namun Amalia menghentikannya, dia merasa terganggu dengan satu sosok yang tiba-tiba berdiri di samping. Amelia yakin, bahwa dirinya lah yang mendapatkan giliran terakhir antrian mengambil air wudhu. Tak ada siapapun selain dirinya sesaat tadi. Matanya melirik, sosok mengenakan baju batik dan kerudung abu-abu berdiri membelakanginya.
"S-siapa dia?" tanyanya di batin. Gadis itu memperhatikan orang itu, diam mematung tanpa bicara. Gerak-geriknya tak terbaca oleh Amalia. "Hei ... kita harus cepat ambil air wudhu, sebentar lagi sholat dzuhur berjamaah akan segera dimulai," kata Amalia berusaha akrab dan memperingatkannya. Tetap saja, gadis misterius itu terdiam tanpa respon.
"Ya sudah, terserah kamu saja." Gadis itu melanjutkan mengambil air wudhu.
"Pergi dari sini!" Suara itu mengusik Amalia sekali lagi. Suara berat dan membuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika. Dia menoleh, tetapi sosok perempuan itu sudah tidak ada.
"K-kemana orang itu? Gak mungkin dia pergi secepat ini? Dan seharusnya dia melewati aku dulu kan?" bisiknya. Amalia kembali menghentikan kegiatannya. Rasa penasarannya membuat dia mencari sosok itu ke kamar mandi. Tetapi tidak ada siapapun di situ selain dirinya sendiri. Jantungnya mendadak berdegub kencang. Darah berdesir hebat, mengalir keseluruh tubuh dengan cepat. "Atau Jangan-jangan dia--" Kalimatnya menggantungkan. Wajahnya seketika menjadi pucat, ketakutan mulai menjalar ke seluruh tubuh. Tanpa banyak bicara, dia bergegas mengambil air wudhu dan kakinya hendak melangkah.
Namun, tak lama suara rintihan terdengar menyayat hati dari kamar mandi. Amalia menghentikan gerakan kakinya, "S-suara o-orang nangis!" bisik batinnya. Gadis itu menoleh, lalu tanpa disuruh kakinya bergerak menuju ke arah suara. Berjalan pelan dengan jantung berdebar ketakutan.
Matanya terbelalak, seorang perempuan seumurannya duduk meringkuk dengan kepala tenggelam di antara dua lutut dan tangannya. Tetapi bukan perempuan yang tadi dia lihat. "K-kamu s-siapa? K-kenapa menangis di sini?" tanya Amalia. Perempuan tanpa kerudung itu bergeming, diam dan terus menangis. Suaranya semakin lirih, Amalia menjadi iba pada perempuan itu.
Sebagai seorang perempuan, Amalia merasa kasihan pada perempuan di hadapannya. "Kamu kenapa? Apa ada masalah?" Dia memberanikan diri untuk menyentuh pundaknya.
Deg.
Hawa dingin menyelimuti kulit telapak tangannya. Dan terlihat jelas leher perempuan itu tak normal, pucat pasi. "K-kamu b-bisa cerita sama saya kalau mau," tandas Amalia memberi tawaran, dia membuang semua prasangka buruknya, memberanikan diri untuk mendekati perempuan misterius itu. Namun, bau daging terbakar menyelinap ke rongga hidungnya.
Tak seberapa lama dia menjadi bergidik ngeri saat kedua netranya melihat kulit tubuh wanita itu meleleh bagai lilin. "A-apa ini? Kenapa dia--" Lagi, dia menghentikan kalimatnya yang belum tuntas. Segera Amalia menarik tangannya dan merasa jijik. Dia bergegas membersihkan jari-jarinya dari lelehan yang menempel. "Ini ... bau busuk dan hangus!"
"S-siapa sebenarnya kamu?" tanya Amalia. Suara tangisan berubah menjadi suara tawa yang melengking.