Blurb
"Dari kilau kemewahan kota Palembang menuju kedisiplinan bilik-bilik pesantren di Jawa Timur—inilah kisah tentang hijrah, air mata, dan ketulusan yang mengubah segalanya."
Bagi Ghazi, hidup adalah tentang kenyamanan. Sebagai putra tunggal seorang pengusaha BBM sukses, hari-harinya berjalan tanpa beban. Namun, permintaan sang ayah untuk masuk pesantren demi memperdalam agama mengubah arah hidupnya 180 derajat.
Beradaptasi dengan ritme hidup santri bukan hal mudah. Di bawah bimbingan Kiai Mahmud, Ghazi harus berjibaku dengan kerasnya kehidupan asrama serta lautan kitab kuning tingkat tinggi—mulai dari Alfiyah Ibnu Malik, Fathul Qorib, hingga samudra tasawuf Ihya" ‘Ulumuddin—bersama para sahabat setianya: Daffa, Fathan, Ghalib, Kamil, Fardhan, dan Yafiq.
Di tengah beratnya perjuangan itu, takdir mempertemukannya dengan Varisha, putri Kiai Mahmud yang anggun dan cerdas. Pertemuan tanpa sengaja ini menumbuhkan rasa, namun keduanya memilih jalan yang diridai-Nya: merajut cinta dalam koridor syariat, di mana rindu diselipkan dalam doa dan ikhtiar memperbaiki diri.
Sanggupkah Ghazi bertahan di tengah gemblengan ilmu pesantren? Dan mampukah ia membuktikan diri hingga layak mendapatkan restu sang kiai untuk mempersunting Neng Varisha?