
Kemewahan dan Rutinitas Ghazi di Kota Palembang---
Matahari baru saja merayap naik di atas Sungai Musi, memantulkan kilau keemasan yang memecah kabut tipis pagi hari di Kota Palembang. Di seberang perairan, kemegahan Jembatan Ampera berdiri kokoh, menjadi saksi bisu atas denyut kehidupan yang tak pernah tidur di kota pempek ini. Namun, di dalam kawasan eksklusif di bilangan Demang Lebar Daun, kesibukan kota seolah diredam oleh dinding-dinding tinggi rumah mewah bergaya kolonial modern milik keluarga Haji Akbar Al-Falimbani.
Pukul 06.30 WIB. Udara pagi yang sejuk berpadu dengan aroma kopi Arabika yang baru diseduh dari mesin espresso otomatis di sudut dapur marmer putih. Di ruang makan yang luas, di atas meja kayu jati berukuran raksasa yang mampu menampung belasan orang, duduklah seorang pemuda berusia dua puluh empat tahun. Namanya Ghazi Al-Ghifari. Mengenakan jubah mandi sutra berwarna abu-abu arang, ia sedang membolak-balik halaman tablet mewahnya sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula.
"Ghazi, apakah mobilmu sudah disiapkan oleh Pak Joko?" suara lembut namun tegas menggema dari ujung meja.
Ibu Ghazi, Fatimah, berjalan mendekat dengan anggun. Wanita paruh baya itu mengenakan kaftan berbordir emas, menunjukkan status sosial mereka sebagai salah satu keluarga saudagar terpandang di Sumatra Selatan.
"Sudah, Ma. Seperti biasa, mobil sudah dipanaskan di garasi," jawab Ghazi tenang, matanya tak lepas dari layar tablet yang menampilkan grafik saham harian perusahaannya.
Bagi Ghazi, kemewahan bukanlah sesuatu yang harus dipamerkan, melainkan sebuah standar hidup yang sudah mendarah daging sejak ia lahir. Sebagai pewaris tunggal dari jaringan logistik dan perkebunan sawit terkemuka di Palembang, hidupnya berjalan di atas rel yang sangat teratur. Tidak ada ruang untuk kekacauan, tidak ada tempat bagi ketidakpastian. Setiap hari, rutinitasnya berputar dalam poros yang sama: bangun pagi, mengecek portofolio investasi, pergi ke kantor pusat di kawasan Ilir Barat, menghadiri rapat dewan komisaris, lalu menghabiskan malam di restoran kelas atas bersama rekan bisnis atau kekasihnya, Kirana.
Ghazi berdiri dari kursinya. Ia melangkah menuju jendela kaca besar yang menghadap ke halaman belakang—sebuah taman tropis pribadi lengkap dengan kolam renang infinity dan deretan pohon palem hias. Pelayan pribadinya, seorang pria paruh baya bernama Joko yang telah mengabdi selama puluhan tahun, berdiri siap di dekat pintu dengan membawa jas blazer desainer Italia milik Ghazi.
"Mari, Den Ghazi. Sopir sudah siap di depan," ucap Joko dengan nada hormat yang kaku.
"Terima kasih, Joko," balas Ghazi singkat. Ia mengenakan jasnya, merapikan kerah kemeja putihnya yang bermerek ternama, lalu mengambil kunci mobil dari atas konsol marmer di dekat pintu utama.
Keluar dari rumah, udara hangat Palembang langsung menyambut kulitnya. Di halaman depan, sebuah SUV hitam mengkilap berteknologi tinggi telah menanti. Ghazi masuk ke dalam kabin yang sejuk, mencium aroma kulit baru dan parfum ruangan beraroma kayu manis yang menenangkan. Perjalanan menuju kantor pusat dimulai. Selama di dalam mobil, Ghazi menikmati pemandangan jalanan Palembang yang mulai padat oleh kendaraan. Toko-toko kain songket dengan etalase berkilau, pedagang model dan es kacang merah yang baru membuka lapak, serta para pekerja kantoran yang bergegas, semuanya tampak seperti pemandangan biasa yang sudah ribuan kali ia saksikan dari balik kaca antipeluru mobil mewahnya.
Namun, di balik rutinitas yang tampak sempurna dan senyum tipis yang selalu ia tunjukkan di depan umum, tersimpan sebuah kehampaan yang perlahan menggerogoti jiwanya. Ghazi merasa terjebak dalam sangkar emas buatan keluarganya sendiri. Hari-harinya terasa seperti rekaman video yang diputar berulang-ulang tanpa ada kejutan, tanpa ada tantangan sejati yang bisa membuat darahnya berdesir kencang. Ia memiliki segalanya—kekayaan, kekuasaan, dan masa depan yang terjamin—namun ia tidak memiliki arah hidup yang benar-benar ia pilih sendiri.
❖ ❖ ❖
Setibanya di gedung pencakar langit Al-Falimbani Tower di kawasan Ilir Barat, para staf langsung membungkuk hormat setiap kali Ghazi melangkah melewati pintu lobi utama yang berlapis marmer hitam. Lift pribadi membawanya langsung ke lantai empat puluh, lantai tempat ruang kerjanya yang luas berada, menghadap langsung ke arah Sungai Musi yang membentang luas.
Ghazi duduk di kursi kerjanya yang terbuat dari kulit sapi asli. Di depannya terbentang meja kerja bersih dari kekacauan, hanya ada sebuah laptop, lampu meja antik, dan sebuah map biru tebal berisi laporan keuangan kuartal terakhir. Namun, hari ini pikirannya tidak berada di dalam angka-angka profit perusahaan.
Pintu ruangannya diketuk pelan, lalu muncullah Kirana, tunangannya yang juga menjabat sebagai direktur pemasaran di perusahaan tersebut. Kirana mengenakan blazer merah muda pastel dengan rambut tergerai rapi, memancarkan aura wanita karier modern yang ambisius.
"Ghazi, kamu melamun lagi?" tanya Kirana sambil meletakkan secangkir teh chamomile di sebelah meja Ghazi. Ia menarik kursi di hadapan Ghazi dan duduk dengan anggun.
Ghazi mendesah pelan, menutup laptopnya perlahan. "Aku tidak melamun, Kirana. Aku hanya... berpikir."
"Berpikir tentang apa lagi? Semuanya sudah berjalan sesuai rencana kita. Pernikahan kita tahun depan, ekspansi bisnis ke Jambi, semuanya on track," kata Kirana, sedikit mengernyitkan dahi.
"Itu masalahnya," tukas Ghazi menatap mata Kirana lekat-lekat. "Semuanya sudah diatur sejak aku lahir. Aku tidak pernah benar-benar memutuskan apa pun untuk diriku sendiri. Aku ingin sesuatu yang lebih dari sekadar menandatangani kontrak di ruangan ber-AC ini."
Kirana tersenyum kecil, menganggap ucapan Ghazi sekadar kejenuhan sesaat seorang pria kaya. "Kamu hanya butuh liburan, Ghazi. Bagaimana kalau akhir pekan ini kita terbang ke Singapura?"
"Bukannya liburan ke luar negeri yang kumaksud, Kirana," potong Ghazi serius. "Aku ingin mencari sesuatu yang nyata. Sesuatu yang bisa membuktikan kemampuanku sendiri tanpa membawa nama besar keluarga Al-Falimbani."
Sejak lama, Ghazi menyimpan sebuah ambisi rahasia. Ia tidak ingin selamanya hidup di bawah bayang-bayang kejayaan ayahnya, Dato' Haji Ahmad Akbar Al-Falimbani. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu membangun sesuatu dari nol, merasakan keringat dan perjuangan yang sesungguhnya. Dan hari ini, target itu akhirnya menemukan bentuknya. Di dalam laci meja kerjanya, tersembunyi sebuah dokumen proposal dari sebuah yayasan sosial lokal di kawasan pinggiran Palembang—sebuah proyek revitalisasi panti asuhan tua dan pusat keterampilan anak-anak jalanan di kawasan Seberang Ulu yang nyaris bangkrut karena kurangnya pendanaan dan pengelolaan yang buruk.
Tujuan Ghazi sudah bulat: ia ingin mengambil alih proyek penyelamatan panti asuhan tersebut secara diam-diam, tanpa sokongan dana keluarga, dan mengubahnya menjadi pusat pelatihan mandiri yang sukses. Ia ingin membuktikan kepada ibunya, kepada Kirana, dan yang terpenting, kepada dirinya sendiri, bahwa ia adalah seorang pemimpin yang memiliki hati dan ketangguhan mental, bukan sekadar pewaris takhta kekayaan.
"Aku punya rencana," kata Ghazi akhirnya, memecah keheningan di antara mereka.
Kirana mengangkat sebelah alisnya. "Rencana apa, Ghazi? Jangan bilang kamu mau investasi di proyek aneh lagi."
"Bukan investasi. Aku ingin merombak total sistem operasional Panti Asuhan Kasih Bunda di Seberang Ulu. Dan aku akan turun tangan langsung memimpinnya setiap akhir pekan," ujar Ghazi dengan nada penuh keyakinan.
Kirana tertawa kecil, mengira itu hanya candaan semata. "Kamu? Turun ke lumpur Seberang Ulu? Ghazi, tempat itu kumuh, jauh dari standar kenyamananmu. Jangan cari penyakit."
"Aku tidak main-main, Kirana," jawab Ghazi dingin, membuat tawa Kirana perlahan mereda. Tatapan mata Ghazi menyiratkan tekad baja yang sulit dipatahkan.
❖ ❖ ❖
Keputusan telah diambil. Sore harinya, setelah jam kerja berakhir, Ghazi tidak langsung pulang ke rumah mewahnya di Demang Lebar Daun. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia meminta Joko untuk membelokkan arah mobil ke selatan, menyeberangi Jembatan Ampera menuju kawasan Seberang Ulu—sebuah wilayah yang kontras dengan kemegahan pusat kota Palembang.
Semakin jauh mobil SUV mewah itu melaju, semakin sempit jalanan yang dilalui. Rumah-rumah mewah bergaya modern perlahan berganti menjadi rumah panggung kayu khas Palembang yang berdiri di atas rawa-rawa dan tepi sungai. Suara bising mesin kapal ketek yang lalu-lalang di sungai berpadu dengan suara teriakan anak-anak bermain bola di lapangan tanah berlumpur.
Ghazi menurunkan sedikit kaca jendela mobilnya. Bau lumpur sungai, asap bakaran ikan, dan aroma rempah khas masakan warga lokal langsung menyeruak masuk ke dalam kabin mobil yang steril. Ia menarik napas dalam-dalam. Ada sensasi asing yang menggelitik dadanya—sebuah perpaduan antara rasa asing, penasaran, dan ketidaknyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Den Ghazi, maaf sebelumnya... apa tidak sebaiknya kita kembali? Daerah sini kurang aman untuk mobil mewah seperti ini. Banyak anak-anak bermain bola liar," kata Joko dengan nada cemas sambil melirik ke arah spion tengah.
"Tidak apa-apa, Joko. Terus saja jalan pelan-pelan," jawab Ghazi tenang, meski jemarinya sedikit meremat bahan celana kainnya.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi berkarat yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Di atas gerbang tersebut, sebuah plang kayu pudar bertuliskan Panti Asuhan Kasih Bunda tergantung miring dengan satu sisi tali pengikatnya yang telah putus. Suasana di sekitar panti tampak sunyi, hanya terdengar suara deburan air sungai dan angin sore yang mendesir melalui dahan-dahan pohon mangga tua di halaman depan.
Ghazi membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Sepatu pantofel kulit buatan Italia miliknya langsung menginjak tanah berpasir kasar yang bercampur kerikil. Ia merapikan jasnya, lalu berjalan mendekati gerbang yang tidak terkunci.
"Siapa di luar?" sebuah suara serak memanggil dari arah teras bangunan utama panti.
Seorang wanita paruh baya dengan mengenakan daster sederhana dan jilbab yang dikenakan seadanya berjalan pincang menghampiri pagar. Namanya Bu Ratna, kepala pengurus panti asuhan tersebut yang telah mengabdikan separuh hidupnya di tempat itu. Wajahnya tampak lelah, garis-garis kecemasan tercetak jelas di sekitar mata dan mulutnya.
Ghazi mendekat dengan langkah tegap namun santun. Ia melepaskan kacamata hitamnya dan memasukkannya ke saku jas.
"Selamat sore, Bu Ratna. Saya Ghazi Al-Falimbani," ucap Ghazi memperkenalkan diri dengan suara baritonnya yang tenang.
Bu Ratna mengerjap, menatap Ghazi dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan pandangan menyelidik. Sebagai orang yang hidup dalam keterbatasan, ia tentu mengenali pakaian mahal dan mobil mewah yang terparkir di depan gerbangnya.
"Al-Banjari? Anak Dato' Akbar Al-Falimbani?" tanya Bu Ratna dengan nada curiga. "Mau apa Tuan besar datang ke tempat kumuh seperti ini? Kami tidak punya urusan bisnis dengan perusahaan besar."
Ghazi tersenyum tipis, berusaha menunjukkan sikap ramah. "Saya datang bukan sebagai perwakilan perusahaan keluarga saya, Bu. Saya datang secara pribadi. Saya membaca proposal pengajuan renovasi dan restrukturisasi panti ini yang sempat masuk ke meja kantor saya beberapa bulan lalu."
Bu Ratna terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang, tatapannya menyapu halaman panti yang tampak tak terurus. "Proposal itu... sudah lama kami kirimkan ke mana-mana, Nak Ghazi. Dan tidak ada satu pun pengusaha kaya yang peduli. Tempat ini akan disita oleh bank minggu depan karena kami gagal membayar cicilan pinjaman renovasi atap tahun lalu."
Kalimat itu menohok hati Ghazi. Di dunia tempat ia hidup, jutaan rupiah dihabiskan hanya untuk secangkir kopi di hotel bintang lima, sementara di tempat ini, sebuah atap tempat berlindung anak-anak yatim terancam disita demi nominal uang yang sangat kecil bagi ukuran keluarganya.
"Saya ingin membantu," kata Ghazi tegas. "Tapi bukan dengan cara memberikan sumbangan amal biasa. Saya ingin kita membangun ulang tempat ini dari dasar, dan saya akan memimpin langsung proyek ini."
Bu Ratna menatap Ghazi lekat-lekat, mencari kebohongan di mata pemuda itu. Namun yang ia temukan hanyalah sebuah sorot mata yang penuh dengan tekad membara—sebuah awal dari transisi besar dalam hidup Ghazi Al-Falimbani.
❖ ❖ ❖
Pekan-pekan berikutnya menjadi ujian terberat dalam hidup Ghazi. Hari Senin hingga Jumat tetap ia jalani sebagai direktur eksekutif di kantor pusat yang mewah, namun begitu akhir pekan tiba, Ghazi menanggalkan jas mewahnya, menggantinya dengan kemeja flanel sederhana, celana kargo kumal, dan sepasang sepatu bot lapangan. Ia mendatangi Panti Asuhan Kasih Bunda setiap Sabtu dan Minggu pagi tanpa mengeluh.
Namun, niat baik Ghazi tidak serta-merta disambut dengan karpet merah. Rintangan pertama datang dari internal panti sendiri—para remaja penghuni panti yang telanjur tidak percaya pada orang kaya dan janji-janji manis para pengusaha.
Pada suatu Sabtu pagi yang terik, Ghazi datang membawa tumpukan dokumen rencana anggaran biaya dan cetak biru renovasi bangunan. Ia mengumpulkan anak-anak panti yang berusia belasan tahun di aula utama yang dindingnya dipenuhi cat mengelupas.
"Anak-anak, mulai hari ini kita akan mulai membersihkan ruang aula ini. Kita akan mengecat ulang dan mengganti lantai kayunya yang rapuh," ujar Ghazi di hadapan belasan remaja dengan senyum ramah.