
Haji Akbar dan Kerajaan Bisnis BBM yang Dibangunnya dari Nol.
Pukul tiga pagi di Bandar Lampung bukanlah waktu yang sunyi bagi mereka yang hidup di atas roda besi dan deru mesin pompa bensin. Langit masih pekat, diselimuti sisa-sisa embun malam yang menggantung di dedaunan ketapang tua di sepanjang Jalan Yos Sudarso. Di salah satu sudut kompleks Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) swasta terbesar di kawasan pelabuhan, sebuah lampu neon putih masih menyala terang, memantul di atas lantai semen yang baru saja disiram air bersih.
Di ruang kerja berukuran empat kali lima meter itu, aroma kopi robusta Lampung mengepul pekat dari cangkir keramik putih yang sudah retak di bagian gagangnya. Di balik meja kerja kayu jati yang tebal dan sarat dengan tumpukan map laporan keuangan, seorang pria paruh baya duduk tegak. Usianya hampir menginjak kepala tujuh, namun sorot matanya masih menyimpan ketajaman seekor elang yang mengintai buruan. Rambutnya telah memutih di bagian pelipis, sementara garis-garis kerut di wajahnya menceritakan kisah puluhan tahun bertarung melawan teriknya matahari dan kerasnya birokrasi perminyakan nasional.
Pria itu adalah Haji Akbar. Di dunia logistik dan perdagangan bahan bakar minyak bumi Sumatera bagian selatan, namanya bukan sekadar identitas; ia adalah institusi berjalan.
"Belum tidur, Pak Haji?" suara berat Malik, pengawas operasional senior yang telah mendampingi Haji Akbar selama dua puluh tahun, memecah keheningan ruangan. Malik berdiri di ambang pintu dengan membawa map tebal berisi data distribusi solar industri hari itu.
Haji Akbar tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopinya perlahan, membiarkan kepulan hangat menyentuh rongga hidungnya sebelum menatap Malik lekat-lekat. "Tidur itu bonus, Malik. Kalau kita tidur terlalu pulas di saat ombak sedang tinggi, kapal kita bisa karam sebelum sempat melihat dermaga," ujarnya dengan suara serak namun tegas, khas dialek lokal yang berpadu dengan ketegasan seorang nakhoda.
Suasana pagi itu terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk yang akan terjadi beberapa jam kemudian. Di luar pagar, deru truk-truk tangki bermuatan 24.000 liter mulai antre, bersiap menembus jalan lintas Sumatera menuju perkebunan sawit dan pabrik-pabrik pengolahan di pedalaman. Setiap tetes bahan bakar di dalam tangki-tangki besar itu adalah darah yang menghidupkan roda ekonomi regional—sebuah kerajaan bisnis yang dibangun Haji Akbar dari sebutir kerikil kepedihan di masa lalu.
❖ ❖ ❖
"Hari ini, kuota untuk wilayah tengah harus tuntas tanpa ada alasan truk mogok atau sopir mangkir," kata Haji Akbar sambil meletakkan cangkirnya di atas meja. Jemarinya yang kasar dan penuh bekas goresan masa lalu menunjuk pada peta besar Provinsi Lampung yang membentang di dinding ruangan.
Bagi Haji Akbar, bisnis BBM bukan sekadar soal meraup selisih harga dari seliter bensin atau solar. Di balik angka-angka margin keuntungan yang terpampang di laporan laba rugi, ada sebuah visi besar yang belum sepenuhnya terwujud. Tujuan utamanya hari ini—dan selama dekade terakhir dalam hidupnya—adalah memastikan bahwa imperium energi independen yang ia dirikan tidak hanya bertahan di tengah gempuran korporasi multinasional, tetapi juga menjadi benteng pertahanan bagi pasokan energi masyarakat kecil di pelosok-pelosok desa yang sering terabaikan oleh rantai pasok formal.
"Banyak yang bilang kita sudah di puncak, Malik," lanjut Haji Akbar, pandangannya menerawang jauh menembus kaca jendela yang mulai memperlihatkan semburat jingga fajar di ufuk timur. "Padahal, saya tahu betul, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menggoyang akarnya. Tujuan saya sebelum menutup mata nanti bukan cuma melihat SPBU ini berjajar di setiap kabupaten, tapi memastikan anak-anak muda lokal punya kedaulatan atas distribusi energi di tanah kelahiran mereka sendiri."
Malik mengangguk pelan, memahami betul beban mental yang diemban bosnya. "Tapi saingan kita sekarang bukan lagi pemain lokal, Pak Haji. Perusahaan-perusahaan raksasa dari ibu kota mulai merangsek masuk dengan modal tak terbatas dan sistem digital yang membuat SPBU kita terlihat kuno."
"Modal bisa dicari, teknologi bisa dibeli, Malik," balas Haji Akbar dengan senyum tipis yang menyiratkan keyakinan baja. "Tapi kepercayaan dan keringat yang kita tumpahkan di atas tanah ini tidak bisa diimpor dari Jakarta. Itu yang membuat kerajaan kita kuat."
Tujuan besar itu menuntut harga yang mahal. Di usianya yang senja, di saat orang sebayanya menikmati hari tua bersama cucu-cucu di teras rumah yang sejuk, Haji Akbar masih harus berjibaku dengan regulasi pemerintah yang berubah-ubah, fluktuasi harga minyak mentah dunia, serta intrik-intrik kotor para spekulan yang ingin menjatuhkan dominasinya di pasar regional.
❖ ❖ ❖
Matahari perlahan naik, mengusir kabut tipis yang tadi pagi menyelimuti area pelabuhan. Suhu udara mulai merayap naik, membawa serta debu jalanan dan bau pekat solar yang menguap dari selang-selang dispenser pengisian.
Haji Akbar memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya. Langkah kakinya yang mantap membawanya menelusuri pelataran beton SPBU utama miliknya. Di sana, para operator berseragam merah-hitam tampak sibuk melayani kendaraan yang datang silih berganti—mulai dari angkutan kota tua yang batuk-batuk hingga truk tronton bermesin modern yang mengonsumsi ribuan liter bahan bakar setiap pekannya.
Perjalanan hidup Haji Akbar tidak pernah terukir di atas karpet merah. Langkah-langkahnya di pelataran semen itu seakan mengingatkan kembali pada jejak masa lalunya yang penuh lumpur dan keringat asin.
"Ingat waktu kita masih pakai jerigen eceran di pinggir jalan raya, Pak?" tanya Malik yang setia berjalan di sampingnya, mencoba mencairkan ketegangan pagi itu.
Haji Akbar tertawa kecil, suara tawanya berat namun bergemerincing penuh nostalgia. "Mana bisa saya lupa, Malik. Waktu itu, basah karena hujan dan bau minyak tanah adalah seragam resmi kita sehari-hari. Kalau tidak ada tekad yang membara di dada, mungkin saya sudah menyerah sejak pertama kali dipalak preman terminal di Panjang."
Transisi dari masa-masa kelam itu terekam jelas dalam memori kolektif warga sekitar. Tiga dekade silam, Haji Akbar hanyalah seorang pemuda putus sekolah yang bekerja sebagai buruh panggul di pelabuhan bongkar muat minyak tanah curah. Dengan modal nekat, kejujuran yang luar biasa, dan sisa tabungan hasil menjual satu-satunya sepeda motor warisan ayahnya, ia mulai merintis usaha pengecer kecil-kecilan.
Dari bilik kayu berukuran dua kali tiga meter di tepi jalan raya lintas, ia membangun reputasi. Ketika orang lain mencampur minyak dengan air atau mengurangi takaran demi keuntungan sesaat, Haji Akbar justru memberikan takaran lebih dan jaminan kebersihan bahan bakar. Kepercayaan itu menyebar dari mulut ke mulut, menarik perhatian para sopir truk ekspedisi yang kemudian menjadi pelanggan setianya.
Kini, dari bilik kayu kumuh itu, berdirilah sebuah grup korporasi energi lokal yang menaungi belasan SPBU, armada truk tangki lintas pulau, serta jaringan depo penyimpanan mandiri. Namun, transisi dari pedagang eceran menjadi raja minyak regional tidak pernah berjalan mulus tanpa badai.
❖ ❖ ❖
Ketenangan pagi itu mendadak terusik ketika dering telepon satelit di saku jaket Malik berbunyi nyaring. Malik mengangkatnya dengan cepat, mendengarkan laporan dari salah satu kepala depo di wilayah utara. Wajah Malik yang tadinya tenang mendadak pucat pasi.
"Ada masalah apa, Malik?" tanya Haji Akbar tajam, menangkap perubahan ekspresi di wajah orang kepercayaannya itu.