
Pesta Kelulusan SMA yang Meriah dan Bayang-Bayang Masa Depan.
Malam itu, aula terbuka Gedung Seni Megantara memancarkan kerlap-kerlip lampu fairy light yang digantung bersilang di antara pilar-pilar tua bergaya art deco. Angin malam bulan Juni berembus lembut, membawa aroma kue tart cokelat, wangi parfum remaja yang bercampur baur, serta kelembapan khas udara akhir pekan di kota kecil tempat Ghazi dan teman-temannya menghabiskan tiga tahun masa remaja mereka. Pukul sembilan malam tepat, suara dentuman bass dari pengeras suara portabel bergema memantul di dinding-dinding beton yang dihiasi spanduk raksasa bertuliskan: "Selamat Jalan Angkatan 2023, Terbang Tinggi Tanpa Batas!"
Bagi Ghazi, malam itu bukan sekadar perayaan akhir masa sekolah menengah atas, melainkan sebuah garis batas yang tak kasat mata. Garis yang memisahkan dunia penuh kepastian di mana mereka bisa berkumpul setiap jam istirahat, dengan dunia luar yang luas, asing, dan menakutkan. Ghazi berdiri di sudut aula, mengenakan kemeja flanel gelap yang lengannya digulung sebatas siku. Tangannya menggenggam gelas plastik berisi es teh manis, sementara matanya mengawasi kerumunan teman seangkatannya yang sedang menari, tertawa lepas, atau sibuk berfoto dengan kamera ponsel bergeser lampu kilat.
"Hei, kenapa malah jadi penonton gelap di pojokan begitu, Gha?" sapa sebuah suara akrab.
Arsen, sahabat karib Ghazi sejak mereka masih duduk di bangku SMP, muncul dari balik kerumunan sambil membawa dua porsi kecil puding mangga di atas piring kertas. Rambut Arsen yang ikal tampak agak berantakan akibat terlalu sering disugar ke belakang, dan kancing atas kemeja putihnya dibiarkan terbuka.
Ghazi tersenyum tipis, menerima piring sodoran Arsen. "Lagi menikmati pemandangan saja, Sen. Kapan lagi kita bisa melihat anak-anak kelas IPA 1 dan IPS 2 berjoget bareng tanpa ada guru BP yang mengawasi dari balik jendela?"
"Ya, benar juga," kata Arsen sambil terkekeh pelan, lalu menyendok pudingnya. "Tapi jujur, suasananya agak bikin dada sesak kalau dipikir-pikir. Tiga tahun kita nongkrong di kantin Bu Siti, pusing bareng mikirin rumus matematika peminatan, dihukum bareng karena telat upacara... dan sekarang? Sebentar lagi kita bubar jalan ke kota masing-masing."
Di dekat meja prasmanan, Nala dan Rian sedang sibuk berdebat sengit mengenai siapa yang menghabiskan sisa keripik singkong balado terakhir. Nala, dengan gaun midi berwarna hijau emerald yang senada dengan warna matanya, tertawa renyah sambil memukul pelan bahu Rian. Rian, yang mengenakan jaket bomber kesayangannya, memasang wajah seolah-olah ia adalah korban kezaliman yang paling menderita di muka bumi. Kehadiran mereka berdua selalu berhasil mencairkan suasana yang kaku, seolah-olah beban masa depan belum hinggap di pundak mereka.
"Lihat mereka," bisik Ghazi, menunjuk ke arah Nala dan Rian dengan dagunya. "Mereka kelihatan paling santai, padahal aku tahu betul Nala semalam hampir menangis karena bingung memilih antara jurusan arsitektur atau desain komunikasi visual."
"Nala itu jago menyembunyikan kepanikan di balik tawa, Gha. Sama seperti kamu yang suka menyembunyikan kecemasan di balik diam," balas Arsen tajam namun penuh kehangatan persahabatan. "Ngomong-ngomong, soal pengumuman beasiswa universitas luar kota minggu depan... kamu sudah bilang ke orang tuamu?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, menghantam permukaan kesadaran Ghazi dan membuyarkan ketenangan semu yang ia bangun di sudut aula.
❖ ❖ ❖
Ghazi menatap lurus ke arah gelas plastiknya yang mulai berembun. Tenggorokannya mendadak terasa kering. "Belum, Sen. Aku belum punya keberanian buat buka amplop emailnya di depan Bapak. Kamu tahu sendiri kondisi bengkel kecil di rumah. Setiap kali Bapak nanya soal biaya pendaftaran ulang kuliah swasta, aku selalu merasa jadi beban tambahan."
Arsen berhenti mengunyah pudingnya. Raut wajahnya yang tadinya jenaka berubah serius. Ia meletakkan piring kertasnya ke atas meja kecil di sebelah mereka. "Gha, dengar ya. Tujuanmu bukan cuma bertahan hidup atau membantu bengkel. Kamu punya potensi besar di bidang fisika terapan dan desain mesin. Waktu kita bikin proker robotik kemarin, semua guru puji hasil kerjamu. Kalau kamu tidak ambil kesempatan beasiswa ke universitas di ibu kota itu, kamu bakal menyesal seumur hidup."
"Bukannya aku tidak mau, Arsen," sahut Ghazi dengan nada suara yang sedikit meninggi, berusaha membendung gejolak emosi di dadanya. "Aku ingin kuliah. Aku ingin membanggakan Ibu dan Bapak. Tapi tujuanku tidak sesederhana mengejar cita-cita pribadi. Ada realitas finansial yang harus aku hadapi. Kalau aku pergi ke ibu kota, siapa yang bantu Bapak mengangkat mesin bubut yang berat itu? Siapa yang bantu Ibu mencatat pembukuan toko kelontong?"
Di tengah percakapan serius itu, Nala tiba-tiba muncul di antara mereka berdua, merangkul bahu Ghazi dan Arsen secara bersamaan. "Wah, wah! Topik apa nih yang dibahas pakai muka muram begitu? Ini malam pesta kelulusan, kawan! Bukan sesi konseling psikologi malam Jumat!"
"Ghazi lagi galau soal masa depan, Nal," adu Arsen cepat. "Dia mau jadi pahlawan kesiangan yang mengorbankan masa depannya demi usahanya bapaknya."
"Eh, enak saja!" protes Ghazi sambil tersenyum kecil, meski hatinya tersentuh.
Nala menatap Ghazi lekat-lekat dengan pandangan menyelidik yang selalu berhasil membuat Ghazi tidak bisa berbohong. "Ghazi, dengar sini. Tujuan kita malam ini adalah merayakan kerja keras kita selama tiga tahun. Tapi tujuan jangka panjangmu... itu hakmu sepenuhnya. Jangan jadikan rasa bakti sebagai alasan untuk mengubur mimpimu. Bapak dan Ibumu pasti ingin melihat anaknya terbang, bukan hanya duduk dikantor Al-Falimbani Tower selamanya."
Rian menyusul dari belakang sambil membawa dua gelas jus jeruk segar. "Betul kata Nala! Lagian, hidup ini bukan soal memilih antara keluarga atau cita-cita. Pasti ada jalan tengahnya. Yang penting, malam ini kita nikmati dulu pestanya. Besok, lusa, dan minggu depan, kita hadapi masalah itu satu persatu bersama-sama. Kita kan satu komplotan sejak mos SMA dulu!"
Ghazi menghela napas panjang. Kata-kata teman-temannya meresap perlahan ke dalam sanubarinya, memberikan secercah keyakinan bahwa apa pun keputusan yang ia ambil nanti, ia tidak akan berjalan sendirian. Ia memiliki tujuan yang jelas: ia ingin membuktikan bahwa anak tukang bengkel sepertinya berhak menaklukkan dunia teknik tanpa harus meninggalkan akar keluarganya.
❖ ❖ ❖
Musik di aula perlahan berubah dari yang tadinya menghentak cepat menjadi alunan lagu akustik yang lembut dan melankolis. Lampu-lampu sorot utama diredupkan, menyisakan kerlap-kerlip lampu kecil yang menyerupai bintang-bintang tiruan di langit-langit aula. Suasana yang tadinya penuh gelak tawa kini bertransformasi menjadi lebih intim dan reflektif.
"Yuk, ke luar sebentar," ajak Nala sambil menunjuk pintu samping yang mengarah ke halaman rumput dan taman belakang gedung. "Di dalam agak sesak, udaranya penuh asap makanan."
Mereka berempat—Ghazi, Arsen, Nala, dan Rian—berjalan berdampingan meninggalkan kerumunan. Udara malam menyambut mereka dengan kesejukan yang menyegarkan kulit. Di taman belakang itu, beberapa bangku taman kayu tertata rapi di bawah naungan pohon ketapang yang rindang. Suara bising musik dari dalam aula terdengar samar-samar, bercampur dengan suara jangkrik dan desir angin malam.
"Ah, akhirnya bisa bernapas dengan benar," ucap Rian sambil meregangkan kedua tangannya lebar-lebar ke udara. Ia kemudian menjatuhkan diri ke atas rumput hijau yang masih basah oleh embun. "Hei, kalian sadar tidak? Tiga tahun lalu, tepat di tempat ini, kita pernah merencanakan bolos massal pelajaran sejarah gara-gara Pak Broto mau ngasih kuis mendadak."
"Dan pada akhirnya cuma Rian yang ketahuan karena tertidur di perpustakaan dengan suara mendengkur paling merdu se-sekolah," timpal Arsen disambut tawa berderai dari semuanya.
Ghazi ikut tersenyum, namun matanya menerawang jauh ke langit malam yang tampak bersih tanpa awan. Transisi dari status mereka sebagai anak sekolah berseragam putih-abu-abu menjadi orang dewasa muda terasa begitu nyata detik itu juga. Seragam putih abu-abu itu sebentar lagi akan disimpan di dalam lemari, berbau kapur barus, hanya menjadi kenangan.
"Kalian sudah siap?" tanya Ghazi pelan, memecah keheningan yang sempat tercipta di antara tawa mereka.
"Siap atau tidak siap, waktu tidak akan menunggu kita, Gha," jawab Nala lirih. Ia duduk di atas bangku taman, merapatkan jaket denim yang ia kenakan. "Aku jujur merasa takut. Di kampus baru nanti, aku tidak punya kalian. Tidak ada Arsen yang bisa diminta tolong buat nyontek PR fisika, tidak ada Rian yang sedia belikan bakso kalau aku lapar pas jam pelajaran tambahan, dan tidak ada kamu, Gha, yang selalu jadi tempat mengadu kalau desain tugasku dikritik habis-habisan."
"Hei, kita cuma beda kampus, bukan beda planet," kata Arsen dengan nada meyakinkan, meski ia sendiri terlihat sedikit menelan ludah. "Zaman sekarang sudah canggih. Video call ada setiap hari. Kalau rindu, tinggal telepon."