
Obrolan di Ruang Kerja Ayah: Tawaran yang Mengubah Segala Rencana
---
Jam dinding antik di sudut ruang kerja itu berdetak pelan, memecah kesunyian malam yang mulai merayap di luar jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah halaman belakang rumah. Jarum panjang menunjuk tepat ke angka sembilan, sementara jarum pendek bergeser perlahan mendekati angka sepuluh. Udara malam kota Palembang terasa agak lembap, membawa aroma khas tanah basah sehabis hujan sore tadi yang menyapu dedaunan mangga di pekarangan. Ruang kerja Haji Akbar selalu memiliki atmosfer yang khas—sebuah kombinasi antara wewenang, ketenangan, dan aroma kayu jati tua yang mendominasi seluruh ruangan.
Di salah satu sudut ruangan, lampu meja berpenutup hijau menyala temaram, memancarkan cahaya kekuningan yang hangat di atas tumpukan berkas dokumen bisnis, beberapa kitab tafsir tebal bersampul kulit, serta sebuah cangkir porselen berisi teh jahe yang masih mengepulkan uap tipis. Ruangan ini adalah jantung dari segala keputusan besar keluarga, tempat di mana Haji Akbar—pria berusia paruh baya dengan garis-garis ketegasan di wajahnya namun menyiratkan kelembutan seorang ayah—menghabiskan waktu berjam-jam untuk merenung, menghitung, atau sekadar membaca Al-Qur'an selepas shalat Isya.
Ghazi berdiri di dekat ambang pintu yang setengah terbuka, merasakan detak jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia mengenakan kaos polos berwarna abu-abu tua dan celana bahan katun hitam, penampilannya kontras dengan nuansa formal yang melekat pada ruangan tersebut. Tangannya menggenggam erat gagang pintu seolah mencari pegangan di tengah ketidakpastian yang telah lama menggelayuti pikirannya. Ghazi tahu, panggilan malam ini dari ayahnya bukan sekadar obrolan santai biasa. Ini adalah momen krusial yang sudah ia bayangkan, sekaligus ia takuti, sejak keputusannya untuk meniti jalan hidup sendiri mulai berseberangan dengan ekspektasi sang ayah.
"Masuklah, Ghazi. Jangan biarkan pintu itu terbuka lebar, angin malam tidak baik untuk kesehatan," suara bariton Haji Akbar terdengar tenang namun tegas, memecah lamunan pemuda itu tanpa sang ayah mengalihkan pandangannya dari selembar kertas kalkir di atas meja kerja.
Ghazi menelan ludah, melangkah masuk dengan hati-hati, lalu menutup pintu itu perlahan hingga berbunyi klik yang nyaris tak terdengar. Langkah kakinya terasa berat di atas permadani tebal berwarna merah marun yang membentang di lantai kayu ruangan itu. Ia berjalan mendekati meja kerja, berdiri tegak di hadapan kursi putar tempat ayahnya duduk. Haji Akbar perlahan melipat kertas di tangannya, meletakkannya dengan rapi, lalu mendongak untuk menatap anak laki-laki satu-satunya itu lekat-lekat. Tatapan mata ayahnya selalu memiliki daya magis yang mampu membuat Ghazi merasa kembali menjadi anak kecil yang sedang menunggu penilaian atas PR sekolahnya, meskipun usianya kini telah menginjak kepala dua.
"Duduklah, Nak," kata Haji Akbar sambil menunjuk kursi kayu berukir dengan bantalan jok empuk yang berada tepat di seberang meja kerjanya. "Ada hal penting yang harus kita bicarakan malam ini. Sesuatu yang menyangkut masa depanmu, dan juga masa depan tanggung jawab yang selama ini kita pikul bersama di keluarga ini."
Ghazi mengangguk pelan, menarik kursi itu sedikit ke belakang, lalu duduk dengan postur tegap namun kaku. Ia meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, mencoba meredakan gejolak di dadanya. Lampu meja yang menyorot wajah Haji Akbar memperlihatkan uban yang mulai mendominasi di pelipis sang ayah, serta kerutan di sudut matanya yang terbentuk bukan karena usia semata, melainkan karena beban pikiran yang bertahun-tahun dipikulnya sebagai pemimpin keluarga sekaligus pengusaha terkemuka di kota ini.
"Ayah tahu kamu akhir-akhir ini sering melamun, Ghazi," mulai Haji Akbar membuka pembicaraan, nada suaranya terdengar sabar namun menyelidik. "Pikirannya sepertinya tidak ada di rumah, selalu melayang ke tempat-tempat jauh yang belum tentu jelas ujung pangkalnya. Betul begitu?"
Ghazi mendongak, menatap mata ayahnya sekilas sebelum kembali menunduk menatap tepi meja. "Bukannya melamun, Yah. Ghazi hanya... sedang memikirkan banyak hal. Tentang apa yang sebenarnya ingin Ghazi lakukan ke depan."
❖ ❖ ❖
Haji Akbar menarik napas dalam-dalam, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja yang berderit pelan. Ia meraih cangkir teh jahenya, menyesapnya sedikit untuk membasahi tenggorokan, lalu meletakkannya kembali dengan presisi yang sama seperti sebelumnya. Pria paruh baya itu paham betul karakter anaknya. Ghazi mewarisi sifat keras kepala dan idealisme tinggi darinya, tetapi terkadang idealismenya itu membuat Ghazi lupa pada realitas dan fondasi yang telah dibangun dengan susah payah oleh keluarga mereka dari nol.
"Ayah tahu kamu punya impian besar, Ghazi," ucap Haji Akbar memulai penjelasan dengan nada yang lebih melunak, mencoba menjembatani jarak emosional di antara mereka berdua. "Kamu ingin membuktikan diri, ingin mandiri tanpa bayang-bayang nama besar Ayah, ingin menjelajahi dunia fotografi dokumenter dan independensi kreatifmu itu. Impian itu tidak salah. Bagus, bahkan menunjukkan bahwa kamu adalah pemuda yang punya gairah."
Ghazi mendengarkan dengan saksama. Ada kelegaan kecil mendengarnya tidak langsung disalahkan, namun di sisi lain, ia tahu ada kalimat sambungan yang tidak akan mengenakkan di telinganya.
"Tapi gairah saja tidak cukup untuk merajut masa depan, Nak," lanjut Haji Akbar dengan tatapan teduh namun penuh keyakinan. "Tujuan hidup bukan sekadar mencari kebebasan semu di jalanan, melainkan membangun stabilitas yang bisa melindungimu dan orang-orang di sekitarmu ketika badai datang menerpa. Tujuan Ayah memanggilmu ke sini malam ini adalah agar kita bisa menyelaraskan langkah. Ayah ingin kamu mengambil alih pengelolaan divisi logistik dan ekspansi perusahaan distribusi kita mulai bulan depan."
Mendengar kalimat itu, mata Ghazi membelalak kaget. Ia menegakkan duduknya, rasa terkejut merambati sekujur tubuhnya hingga membuat ujung jari-jarinya terasa dingin. Ini bukan sekadar tawaran biasa; ini adalah sebuah lompatan besar yang langsung menempatkannya di jantung operasional bisnis keluarga yang selama ini mati-matian ia hindari.
"Ayah... tunggu dulu," potong Ghazi cepat, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang mendadak naik ke tenggorokan. "Divisi logistik? Itu bukan bidang Ghazi. Itu bukan jalur yang ingin Ghazi tempuh. Dari dulu Ghazi sudah bilang berkali-kali, Ghazi ingin fokus di dunia visual, membangun agensi media independen bersama teman-teman, bukan mengurus armada truk kontainer dan gudang penyimpanan barang!"
Haji Akbar tidak langsung marah. Ia tetap tenang, menghadapi kepanikan anaknya dengan senyuman tipis yang menyiratkan kedewasaan berpikir. "Dengarkan Ayah dulu sampai selesai, Ghazi. Jangan terburu-buru menolak dengan emosi sesaat."
"Bukan emosi sesaat, Yah! Ini soal pilihan hidup!" Ghazi membela diri, nada suaranya mulai meninggi meski ia berusaha menahannya agar tidak terdengar seperti membentak ayahnya. "Kalau Ghazi masuk ke perusahaan Ayah, itu artinya Ghazi menyerah. Ghazi mengkhianati impian yang selama ini Ghazi bangun sendiri dari nol. Tujuan Ghazi jelas: hidup mandiri dari hasil keringat sendiri di bidang yang Ghazi cintai."
"Mandiri versi kamu itu apa, Ghazi?" tanya Haji Akbar balik dengan suara yang justru semakin pelan namun menusuk tajam ke dalam kesadaran pemuda itu. "Apakah mandiri itu berarti tidur di kontrakan sempit, makan mie instan setiap akhir bulan, dan bergantung pada pinjaman sana-sini ketika proyek fotografimu tidak dibayar tepat waktu? Apakah itu yang kamu sebut sebagai pencapaian tujuan hidup?"
Pertanyaan itu menohok tepat di titik terlemah Ghazi. Selama beberapa bulan terakhir, kenyataan pahit memang tidak seindah bayangannya. Proyek-proyek independen sering kali dibayar murah atau bahkan macet, sementara tagihan sewa studio dan peralatan terus menagih kepastian. Namun, harga diri Ghazi sebagai seorang pemuda yang ingin membuktikan diri menolak untuk menyerah begitu saja di hadapan sindiran sang ayah.
"Setidaknya itu hasil keringat sendiri, Yah! Bukan pemberian di atas piring emas yang sudah disiapkan!" sergah Ghazi dengan napas mulai memburu, dadanya naik turun menahan gemuruh amarah dan rasa frustrasi yang bercampur aduk.
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam ruang kerja itu mendadak berubah menjadi senyap yang mencekam. Hanya suara detak jam dinding antik yang terdengar begitu nyaring, seolah menghitung detik-detik ketegangan di antara ayah dan anak tersebut. Haji Akbar tidak langsung merespons kemarahan Ghazi. Ia melepas kacamata bacanya, meletakkannya di atas meja, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kasar. Pria itu tampak lelah, bukan karena pekerjaan kantor, melainkan karena keletihan batin dalam menghadapi kerasnya kepala anak kandungnya sendiri.
Ghazi pun terdiam, menyadari bahwa ia baru saja meninggikan suara di hadapan orang tua yang telah merawat dan membesarkannya dengan penuh pengorbanan. Rasa bersalah tiba-tiba mencuri-curi masuk ke dalam rongga dadanya, membuat tenggorokannya terasa kelat. Ia menunduk, menatap lantai kayu bermotif ukiran klasik di bawah kakinya, menyesali nada bicaranya yang tadi sempat lepas kendali.
"Maafkan Ghazi, Yah," cicit Ghazi pelan, suaranya nyaris tak terdengar di antara keheningan malam. "Ghazi tidak bermaksud... Ghazi tadi terbawa emosi."
Haji Akbar menurunkan tangannya, menatap Ghazi dengan pandangan yang tidak lagi menunjukkan amarah, melainkan sebuah kedalaman makna yang sulit diartikan. Pria paruh baya itu bersandar kembali, lalu merentangkan tangannya di atas meja kerja. Perubahan ekspresi sang ayah dari ketegasan mutlak menjadi kelembutan yang bijaksana justru membuat Ghazi merasa semakin kecil dan bersalah.
"Ayah tahu, Ghazi," kata Haji Akbar dengan nada suara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya, seolah meredakan badai yang baru saja berputar di ruangan itu. "Usiamu sekarang adalah usia di mana darah sedang panas-panasnya. Segala sesuatu harus dibuktikan dengan cara yang keras, harus dengan jalanmu sendiri, tanpa mau mendengar nasihat orang lain yang sudah lebih dulu melewati jalan berlubang itu."
Ghazi menelan ludah, masih mempertahankan posisinya dengan kepala tertunduk. Ia mendengarkan setiap suku kata yang meluncur dari bibir ayahnya dengan penuh perhatian.
"Tapi kamu harus tahu satu hal, Nak," lanjut Haji Akbar sambil mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, mendekat ke arah meja. "Dunia luar sana tidak seindah yang ada di dalam lensa kameramu. Ada hukum besi yang berlaku, di mana yang kuat yang bertahan, dan idealismenya sering kali harus berkompromi dengan perut yang lapar. Tawaran Ayah bukan untuk mengekangmu, melainkan sebuah jembatan."
Ghazi mengangkat kepalanya perlahan, menatap mata sang ayah yang memantulkan cahaya lampu meja kerja. "Jembatan... maksud Ayah?"