
Pesan Ibu dan Doa Restu yang Melelehkan Hati Ghazi---
Pukul 23.45 WIB. Udara malam di kawasan Demang Lebar Daun, Palembang, merambat dingin setelah hujan gerimis sempat membasahi aspal kota menjelang tengah malam. Di dalam rumah mewah bergaya kolonial modern milik keluarga besar Al-Banjari, suasana terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Lampu-lampu gantung kristal di ruang tamu utama sengaja dipadamkan sebagian, menyisakan pendar temaram kekuningan yang memantul di atas lantai marmer putih bersih tanpa noda.
Di lantai atas, di dalam kamar tidurnya yang luas berukuran layaknya suite hotel bintang lima, Fatimah Al-Banjari duduk seorang diri di atas kursi malas beludru hijau zamrud. Wanita paruh baya itu mengenakan jubah tidur sutra panjang berwarna merah marun, namun sorot matanya yang tajam tampak menerawang jauh menembus kaca jendela besar yang memperlihatkan kegelapan taman tropis di luar. Di atas meja nakas di sampingnya, terletak sebuah bingkai foto perak kecil yang menampilkan potret mendiang suaminya, Dato' Al-Banjari, berdampingan dengan foto Ghazi sewaktu kecil.
Fatimah menghela napas panjang, tarikan napas yang terdengar berat dan menyaratkan beban batin seorang ibu sekaligus pemimpin keluarga yang selama puluhan tahun harus bersikap tanpa kompromi. Keputusan ekstrem yang ia ambil beberapa hari lalu—membekukan seluruh fasilitas, kartu kredit, dan hak waris Ghazi setelah pemuda itu memilih bertahan di Panti Asuhan Kasih Bunda—ternyata tidak semudah itu mendamaikan hatinya sendiri di tengah keheningan malam.
"Apakah aku terlalu keras padanya, Papa?" bisik Fatimah lirih, seolah berbicara langsung kepada foto mendiang suaminya di atas meja.
Sebagai seorang ibu, nuraninya tidak pernah benar-benar bisa lepas dari bayang-bayang putra tunggalnya itu. Ia tahu persis bagaimana tabiat Ghazi: keras kepala, memiliki prinsip yang teguh, dan mewarisi darah kepemimpinan sang ayah yang tidak akan pernah sudi tunduk pada ancaman material. Namun, sebagai pewaris dinasti bisnis Al-Banjari Group yang membawahi ribuan hektar perkebunan sawit dan jaringan logistik lintas provinsi di Sumatra Selatan, Fatimah merasa memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk memastikan kelangsungan imperium keluarga tersebut tidak jatuh pada jalan yang dianggapnya salah.
Di sisi lain kota, di sebuah kamar sewa sederhana berukuran tiga kali empat meter di kawasan Seberang Ulu—pilihan tempat tinggal sementara Ghazi setelah ia meninggalkan rumah mewah keluarganya—suasana malam terasa jauh berbeda. Tidak ada pendingin udara sentral yang senyap, tidak ada tempat tidur king-size berbalut linen impor. Yang ada hanyalah sebuah kipas angin tua berderit pelan di sudut ruangan, sebuah kasur busa tipis di lantai, dan sehelai selimut katun usang.
Ghazi duduk bersila di atas lantai semen yang dingin. Lampu neon tunggal di langit-langit kamar memancarkan cahaya putih pias yang menerangi wajahnya yang tampak lelah namun menyiratkan ketenangan batin yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun hidup di istana Demang Lebar Daun. Di hadapannya, berserakan beberapa lembar catatan anggaran biaya panti asuhan, bolpoin, dan secangkir kopi hitam instan yang sudah dingin.
Ia menatap kedua telapak tangannya sendiri. Tangan yang dulu hanya terbiasa memegang pena mahal untuk menandatangani kontrak jutaan dolar dan memegang setir kemudi mobil sport mewah, kini dipenuhi kapalan tipis dan sisa noda cat putih di sela-sela kukunya. Rasa sakit akibat kehilangan fasilitas mewah ternyata tidak seberat yang ia bayangkan. Justru, ada kelegaan luar biasa yang mengalir di dalam aliran darahnya—sebuah rasa merdeka yang dibeli dengan harga kejujuran pada diri sendiri.
"Ini baru permulaan, Ghazi," gumam Ghazi pada dirinya sendiri sambil tersenyum tipis. Ia merapikan catatan-catatan tersebut, mematikan lampu kamar, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis, bersiap menyambut hari esok dengan segala ketidakpastian yang kini justru tampak begitu memesona.
❖ ❖ ❖
Matahari pagi kembali terbit di atas Sungai Musi, memancarkan cahaya keemasan yang menembus celah-celah jendela kamar sewa Ghazi. Pukul 07.00 WIB. Ghazi sudah terbangun, mengenakan kaos polos berwarna abu-abu tua dan celana jeans belel yang terasa nyaman di kulitnya. Hari ini adalah hari penting bagi kelangsungan Panti Asuhan Kasih Bunda. Tanpa sokongan dana dari perusahaan keluarga, Ghazi harus memutar otak untuk mencari sumber pendanaan mandiri yang sah dan berkelanjutan agar program pelatihan keterampilan anak-anak jalanan tidak terhenti di tengah jalan.
Tujuan utama Ghazi pagi ini sangat jelas: ia ingin menemui para pelaku usaha kecil menengah (UMKM) lokal di pasar tradisional 16 Ilir dan para perajin songket tradisional di kawasan Seberang Ulu untuk menjalin kerja sama kemitraan. Ia ingin menjadikan panti asuhan bukan sekadar tempat penampungan anak-anak terlantar, melainkan sebuah pusat produksi kreatif yang menghasilkan produk-produk bernilai jual tinggi, seperti kerajinan tangan berbahan daur ulang dan suvenir khas Palembang.
"Pagi, Kak Ghazi!" sapa Rian riang ketika Ghazi tiba di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda sambil membawa kantong plastik berisi sarapan nasi uduk sederhana untuk anak-anak panti.
"Pagi juga, Rian. Sudah siap untuk latihan komputer hari ini?" tanya Ghazi ramah sambil menyerahkan bungkusan nasi uduk kepada Bu Ratna yang keluar dari dapur umum.
"Sudah, Kak! Bahkan kemarin malam aku berhasil menyelesaikan latihan kode pemrograman dasar yang Kak Ghazi ajarkan," jawab Rian dengan binar mata penuh antusias.
Bu Ratna tersenyum hangat menyambut kedatangan Ghazi, meskipun ada sorot kekhawatiran yang masih tersimpan di balik garis-garis keriput di wajahnya. "Nak Ghazi, apa tidak apa-apa kamu datang dengan motor matic pinjaman seperti ini? Kemarin ibumu kelihatannya sangat marah besar."
Ghazi tersenyum menenangkan, meletakkan kunci motor di atas meja dapur. "Tidak apa-apa, Bu Ratna. Justru dengan cara inilah aku bisa belajar melihat Palembang dari sudut pandang yang sebenarnya. Soal Ibu... aku yakin beliau hanya butuh waktu untuk mengerti."
Meskipun Ghazi berbicara dengan nada penuh keyakinan di depan Bu Ratna dan anak-anak panti, di dalam hatinya yang paling dalam, ia menyimpan sebuah kerinduan dan tujuan emosional yang amat besar: ia ingin suatu hari nanti ibunya datang bukan dengan kemarahan atau ancaman, melainkan dengan kerendahan hati untuk melihat sendiri bahwa jalan yang dipilih putranya bukanlah bentuk pemberontakan yang sia-sia, melainkan sebuah panggilan jiwa yang mulia. Ghazi ingin membuktikan kepada wanita yang telah melahirkannya itu bahwa seorang Al-Banjari tidak hanya bisa membesarkan angka-angka di atas laporan keuangan korporasi, tetapi juga bisa membesarkan harapan hidup manusia-manusia yang hampir putus asa.
Target Ghazi hari itu terbagi dalam dua agenda besar. Agenda pertama adalah menyelesaikan proposal kerja sama mandiri antara Panti Asuhan Kasih Bunda dengan galeri-galeri kerajinan lokal agar anak-anak remaja panti mendapatkan upah pertama dari hasil kerja tangan mereka sendiri. Agenda kedua—yang jauh lebih berat secara mental—adalah merumuskan cara untuk mencairkan ketegangan komunikasi yang telah membeku antara dirinya dan sang ibu di Demang Lebar Daun.
"Ghazi, kamu yakin ingin mendatangi galeri songket milik Pak Haji Mahmud sendirian?" tanya Joko lewat sambungan telepon seluler ketika Ghazi menghubunginya pagi itu untuk meminjam alamat kontak para pengrajin lokal. "Beliau orangnya cukup keras dan pemilih dalam urusan kerja sama bisnis."
"Justru karena beliau keras, Joko, aku harus datang langsung meyakinkannya bahwa anak-anak panti kita memiliki keterampilan yang tidak kalah rapi dengan perajin profesional," jawab Ghazi mantap.
Ghazi memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, mengambil map berisi rancangan produk kerajinan tangan anak-anak panti, lalu mengenakan helmnya. Dengan mengendarai motor matic pinjaman berukuran kecil yang terasa kontras dengan postur tubuh tingginya, Ghazi melaju membelah kemacetan pagi Kota Palembang, menuju sebuah tujuan mulia yang ia pertaruhkan dengan seluruh masa depannya.
❖ ❖ ❖
Perjalanan dengan motor matic melintasi Jembatan Ampera memberikan sensasi yang sama sekali berbeda dibandingkan saat ia duduk di dalam kabin SUV antipeluru ber-AC dingin. Angin Sungai Musi menerpa wajahnya secara langsung, bau air sungai, asap knalpot kendaraan umum, dan riuhnya suara klakson klotok berpadu menjadi sebuah simfoni kehidupan kota yang begitu jujur dan mentah.
Ghazi memarkirkan motornya di halaman sebuah galeri kerajinan songket tradisional yang terletak di kawasan Sentot Ali Basrah, sebuah kawasan tua di Seberang Ulu yang terkenal sebagai pusat perajin tenun autentik Palembang. Bangunan galeri tersebut berupa rumah panggung kayu tua berarsitektur tradisional Palembang dengan ukiran kayu berwarna keemasan di bagian fasadnya.
Ia menaiki tangga kayu satu per satu, merasakan derit papan kayu tua di bawah telapak sepatunya. Begitu ia mendorong pintu geser galeri, aroma khas benang sutra, kain katun tua, dan kayu wangi langsung menyambut indra penciumannya. Di dalam ruangan yang cukup luas itu, belasan wanita paruh baya tampak sibuk mengoperasikan alat tenun tradisional kengki, menghasilkan bunyi tak-tek-tak-tek yang berirama konstan di tengah keheningan ruangan.
"Cari apa, anak muda? Kalau mau cari songket pengantin, katalognya ada di sebelah sana," sapa seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan peci beludru hitam di kepalanya. Namanya Pak Haji Mahmud, pemilik galeri sekaligus tokoh sesepuh perajin songket di kawasan tersebut.
Ghazi membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat, lalu melangkah mendekati meja kerja kayu tempat Pak Haji Mahmud sedang memeriksa kualitas gulungan benang emas.
"Selamat pagi, Pak Haji. Saya Ghazi," ucap Ghazi memperkenalkan diri dengan nada santun. Ia meletakkan map proposal di atas meja kayu di hadapan sang pemilik galeri.
Pak Haji Mahmud mengangkat kepalanya, menatap Ghazi dengan sorot mata tajam penuh pengalaman. Sebagai orang tua yang telah puluhan tahun malang melintang di dunia perniagaan tradisional, ia langsung bisa mengenali postur dan cara bicara Ghazi yang mencerminkan didikan keluarga terpandang, meskipun pakaian yang dikenakan pemuda itu sangat sederhana.
"Ghazi? Al-Banjari? Bukankah nama itu yang punya jaringan perkebunan sawit besar di seberang sungai?" tanya Pak Haji Mahmud setengah menyelidik, melipat kedua tangannya di atas meja.
"Betul, Pak Haji. Tapi hari ini saya datang bukan mewakili perusahaan keluarga saya," jawab Ghazi jujur tanpa keraguan. "Saya datang atas nama Panti Asuhan Kasih Bunda di kawasan hilir."
Pak Haji Mahmud mengerutkan keningnya, menarik map proposal itu mendekat dan mulai membolak-balik halaman demi halaman di dalamnya. Matanya meneliti setiap contoh foto kerajinan tangan dan hasil jahitan tas kain perca yang dikerjakan oleh anak-anak panti asuhan di bawah bimbingan Ghazi.
"Hmm... hasil karya anak-anak panti ini lumayan rapi. Tapi dunia perdagangan luar tidak semudah itu, Nak Ghazi. Toko-toko di pasar modern menuntut standar kualitas ekspor yang konsisten. Apa kamu sanggup menjamin mereka tidak akan menyerah di tengah jalan?" tanya Pak Haji Mahmud tajam, menguji mental pemuda di hadapannya.
Ghazi terdiam sejenak. Transisi dari seorang direktur eksekutif korporasi besar yang tinggal terima beres ke dunia usaha mikro berbasis komunitas rakyat jelata ini menuntut ketahanan mental yang luar biasa. Ia tidak lagi bisa mengandalkan perintah instan atau tanda tangan surat keputusan; ia harus meyakinkan manusia dengan bukti nyata dan peluh keringat.
"Saya berani menjaminnya, Pak Haji," jawab Ghazi dengan suara tegas dan pandangan mata yang tidak sedikit pun bergeser. "Saya akan turun tangan langsung melatih mereka setiap hari, memastikan setiap jahitan memenuhi standar kualitas yang Pak Haji inginkan. Saya mempertaruhkan nama saya di sini."
Pak Haji Mahmud menatap Ghazi lekat-lekat selama beberapa detik penuh keheningan, mencari keraguan di wajah pemuda itu. Namun yang ia temukan hanyalah sebuah ketulusan dan tekad baja yang jarang ia temui pada anak-anak muda seusiainya. Sebuah senyuman tipis akhirnya terukir di sudut bibir tua sang perajin.
❖ ❖ ❖
Kesepakatan awal dengan Pak Haji Mahmud berhasil dicapai, namun itu baru permulaan dari serangkaian rintangan fisik dan mental yang harus dihadapi Ghazi di lapangan. Begitu ia kembali ke Panti Asuhan Kasih Bunda pada siang harinya, tantangan besar langsung menyambutnya.
Ruang pelatihan keterampilan yang baru saja dirapikan mendadak dilanda kekacauan kecil. Dua orang anak remaja panti—Rian dan temannya yang bernama Daus—tampak sedang bersitegang sengit di dekat meja mesin jahit portabel. Sejumlah gulungan kain perca berserakan di lantai, dan salah satu komponen jarum mesin jahit tampak patah di tengah ruangan.
"Ada apa ini?" suara Ghazi memecah ketegangan, membuat seluruh anak panti yang berada di dalam ruangan langsung terdiam.
Rian berdiri dengan wajah memerah karena emosi, menunjuk ke arah Daus dengan napas memburu. "Daus yang mulai duluan, Kak! Dia ceroboh narik kainnya terlalu keras sampai jarum mesin jahit utamanya patah! Padahal kita harus menyelesaikan pesanan pertama dari galeri Pak Haji Mahmud besok lusa!"