Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Perpisahan di Bandara

Perpisahan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Pagi itu, udara di Kota Palembang terasa hangat dan lembap, membawa aroma khas Sungai Musi yang berpadu dengan debu jalanan kota metropolitan yang mulai menggeliat. Pukul 07.30 WIB, terminal keberangkatan Domestik Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II tampak begitu sibuk dan dinamis. Deretan koper beroda bergesekan dengan lantai keramik putih yang mengkilap, sementara suara pengumuman penerbangan bergema dari pengeras suara, memanggil para penumpang untuk segera bersiap menuju berbagai destinasi nusantara. Di tengah lautan manusia yang lalu-lalang mengenakan pakaian kasual, jaket tebal musim dingin, hingga pakaian formal kerja, berdiri sekelompok remaja yang baru saja menyelesaikan babak paling emosional dalam hidup mereka: masa-masa putih abu-abu.

Bagi Ghazi, hari itu bukan sekadar perjalanan biasa menumpang pesawat menuju ibu kota, melainkan titik kulminasi dari segala kecemasan, doa, dan perjuangan panjang yang ia lalui bersama orang-orang tercinta. Ia berdiri di dekat pilar besar nomor empat, mengenakan ransel hitam kesayangannya yang tampak sedikit kusam di bagian bawah. Tangannya memegang paspor dan tiket penerbangan elektronik, sementara matanya menatap nanar ke arah kerumunan di luar area check-in.

"Gha, kalau kamu nanti sudah sampai di Jakarta, jangan lupa kabari kita-kita ya. Jangan sampai baru seminggu kuliah langsung lupa sama teman seperjuangan di kampung halaman," ujar Arsen dengan nada bercanda, meski matanya tampak berkaca-kaca. Arsen mengenakan kaos polo hijau tua kesayangannya, merangkul bahu Ghazi dengan erat.

Ghazi tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. "Pasti, Sen. Tenang saja, aku tidak bakal lupa sama kalian. Tanpa kalian, aku mungkin tidak akan pernah berdiri di bandara ini hari ini."

Di sisi lain, Nala sedang sibuk membantu merapikan kerah baju Ghazi yang sedikit terlipat. "Ingat, Gha, di sana kamu harus jaga kesehatan. Jangan kebanyakan begadang ngerjain tugas teknik sampai lupa makan. Kalau butuh apa-apa, tinggal video call. Kami bakal selalu siap sedia jadi tempat sambat online," ucap Nala dengan senyum manis yang menyembunyikan rasa kehilangan yang mendalam.

Rian yang berdiri di dekat troli bagasi menimpali dengan gaya khasnya. "Betul tuh! Lagian kalau kamu sukses di Jakarta nanti, jangan sombong ya. Harus traktir kita pempek Palembang yang paling mahal pas kamu pulang kampung liburan semester!"

"Siap, komandan!" jawab Ghazi tertawa kecil, meski tenggorokannya mendadak terasa kelat menahan haru.

❖ ❖ ❖

Ghazi menghela napas panjang, membiarkan udara dingin AC bandara menyusup ke dalam rongga dadanya. Tujuannya hari ini sangat jelas: melangkah melewati pintu keberangkatan, menaiki burung besi bermesin jet yang akan membawanya terbang menuju universitas impiannya di ibu kota, dan memulai babak baru sebagai mahasiswa teknik mesin. Namun, di balik ambisi akademis tersebut, ada tujuan emosional yang jauh lebih besar dan mendalam di dalam hatinya—yaitu membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa segala pengorbanan, peluh, dan air mata di bengkel kecil mereka tidak sia-sia.

"Ingat pesan Bapak tadi malam, Nak," suara bariton ayahnya tiba-tiba memecah keheningan di antara kelompok mereka.

Ayah Ghazi, dengan kemeja batik lengan pendek yang sudah tampak rapi meski dikenakan sejak subuh, berdiri di hadapan Ghazi bersama sang ibu. Wajah pria paruh baya itu menyuratkan kebanggaan yang amat dalam, meski kerutan di sudut matanya menyembunyikan rasa lelah dan kecemasan seorang ayah yang melepas anak tunggalnya merantau jauh.

"Iya, Pak. Ghazi akan ingat terus," jawab Ghazi dengan suara sedikit serak. "Ghazi akan belajar sungguh-sungguh, menjaga nama baik keluarga, dan lekas pulang membawa hasil yang membanggakan."

Ibu Ghazi, yang sejak tadi menggenggam erat sudut tas rajutnya, maju perlahan lalu memeluk putranya dengan erat. Air mata hangat menetes di bahu kemeja Ghazi. "Jaga diri baik-baik di sana, Gha. Makan yang teratur, jangan lupa ibadah, dan jangan pernah merasa sendirian. Doa Ibu dan Bapak selalu menyertai setiap langkahmu."

"Ibu..." bisik Ghazi, balas memeluk ibunya dengan sepenuh hati, menyerap kekuatan terakhir sebelum ia harus benar-benar melangkah pergi meninggalkan zona amannya di Palembang.

Arsen, Nala, dan Rian membiarkan momen keluarga itu berlangsung tanpa interupsi. Mereka tahu betul betapa berat perjuangan yang telah dilalui keluarga Ghazi hingga titik ini. Tujuan Ghazi bukan sekadar meraih gelar sarjana, melainkan mengangkat derajat keluarga dari himpitan ekonomi yang selama bertahun-tahun mencengkeram kehidupan bengkel kecil mereka.

"Sudah, Bu, jangan bikin Ghazi nangis juga nanti di bandara. Malu dilihatin orang banyak," kata ayah Ghazi mencoba mencairkan suasana dengan senyuman kecil, meski matanya sendiri tampak memerah.

Ghazi melepaskan pelukan ibunya, lalu mengusap sudut matanya yang basah. Tekad di dalam hatinya kini semakin membaja. Tujuan utamanya hari ini adalah melangkah mantap ke depan, tanpa menoleh ke belakang dengan keraguan sedikit pun.

❖ ❖ ❖

Jam di dinding besar terminal menunjukkan pukul 08.15 WIB. Suara panggilan petugas bandara melalui mikrofon terdengar berdengung, mengumumkan bahwa proses boarding untuk penerbangan maskapai tujuan Jakarta akan segera dimulai dalam waktu sepuluh menit. Suasana di sekitar area pemeriksaan tiket mendadak menjadi lebih sibuk, dengan para penumpang mulai membentuk antrean panjang yang teratur.

"Nah, itu sudah dipanggil pengumumannya," kata Arsen sambil menunjuk ke arah layar informasi penerbangan yang menampilkan status penerbangan Ghazi. "Waktunya kamu masuk, Gha."

Ghazi menatap gerbang pemeriksaan keamanan yang berada beberapa meter di depannya. Transisi nyata dari seorang remaja lokal penunggu bengkel menjadi seorang perantau muda di ibu kota kini berada tepat di depan mata. Rasanya baru kemarin ia dan kawan-kawannya nongkrong di warung kopi dekat sekolah, membicarakan mimpi-mimpi abstrak tentang masa depan. Kini, mimpi itu berwujud tiket boarding pass di tangan kanannya.

"Cepat banget ya waktu berlalu," ucap Nala lirih, menatap Ghazi dengan pandangan penuh nostalgia. "Rasanya baru kemarin kita nangis bareng pas pengumuman ujian, sekarang kamu malah mau terbang duluan ke Jakarta."

"Waktu memang paling pintar lari kalau kita lagi asyik-asyiknya bersama," balas Ghazi tersenyum hangat. "Tapi tenang saja, perpisahan ini bukan akhir dari segalanya. Ini cuma jeda pendek sebelum kita ketemu lagi dengan versi diri kita yang jauh lebih sukses."

Lihat selengkapnya