Pesantren dan Pelangi Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Perjalanan Panjang

Perjalanan Panjang Menuju Jawa Timur Menggunakan Kereta Malam---

Malam itu, Stasiun Pasar Senen tidak pernah benar-benar tidur. Riuh rendah suara langkah kaki ribuan penumpang, derap roda koper yang beradu dengan lantai peron, serta suara pengeras suara yang mengumumkan kedatangan dan keberangkatan kereta bergema tanpa henti memecah keheningan pukul delapan lewat lima belas menit. Di tengah kepungan uap panas Jakarta yang pengap dan aroma khas kopi sachet bercampur minyak kayu putih, seorang pria muda bernama Ghazi Al-Ghifari berdiri tegap di dekat pilar peron jalur tiga. Tangannya erat menggenggam tali ransel kanvas lusuh yang telah menemaninya dalam berbagai perjalanan lintas kota, sementara tangan kanannya yang lain menyeret sebuah koper kabin beroda empat dengan salah satu rodanya berdecit pelan setiap kali digeser.

Ghazi mengenakan jaket bomber hijau army kesayangannya yang berkerah tinggi, menutupi sebagian lehernya untuk menahan embusan angin malam yang bercampur debu jalanan ibu kota. Wajahnya menyiratkan kelelahan yang nyata setelah seharian penuh berkutat dengan urusan pekerjaan di kantor lamanya di kawasan Sudirman, sebelum akhirnya memutuskan mengambil cuti panjang demi sebuah misi personal yang harus dituntaskan di ujung timur Pulau Jawa.

"Kereta api Gaya Baru Malam Selatan tujuan Surabaya Gubeng dipersilakan untuk segera naik, bagi para penumpang diimbau untuk memeriksa kembali tiket dan barang bawaan Anda," suara petugas dari pusat informasi stasiun berdengung nyaring, memotong lamunan Ghazi.

Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma belerang tipis dan bau khas besi rel kereta masuk memenuhi rongga dadanya. Stasiun ini selalu menyisakan nostalgia tersendiri baginya—sebuah titik awal dari ribuan kisah perpisahan dan pertemuan yang tak pernah tuntas. Ghazi melangkah mendekati papan petunjuk digital, memastikan sekali lagi nomor keretanya. Gerbong eksekutif nomor empat, kursi 12A—tepat di sebelah jendela besar yang akan memperlihatkan bentangan malam di sepanjang jalur pantai utara hingga pedesaan Jawa.

Saat ia berjalan menyusuri peron yang dipenuhi sesak calon penumpang kelas ekonomi dan eksekutif, deru lokomotif diesel berbadan besar menyambutnya dengan getaran rendah yang terasa hingga ke telapak kaki. Asap putih tipis mengepul dari sela-sela sambungan gerbong, menambah kesan dramatis di bawah temaram lampu neon peron yang mulai berkedip-kedip. Ghazi menyusuri lorong gerbong kereta yang berkarpet merah marun tebal, mencium aroma khas kabin ber-AC yang bercampur dengan pengharum ruangan beraroma lavender buatan.

"Permisi, Mas, lewat sebentar," ucap Ghazi sopan kepada seorang ibu paruh baya yang sedang kerepotan mengangkat kardus oleh-oleh ke atas rak bagasi atas.

"Silakan, Mas. Wah, bawaannya kelihatan berat ya," balas ibu itu sambil tersenyum ramah.

"Ah, tidak juga, Bu. Cukup untuk perjalanan beberapa hari ke depan," jawab Ghazi singkat sembari melempar senyum ramah.

Sesampainya di kursi 12A, Ghazi langsung meletakkan ranselnya di bagasi atas, lalu menyelipkan kopernya di ruang kosong di bawah kursi depan. Ia duduk perlahan, merasakan empuknya jok kulit sintetis berwarna cokelat tua yang langsung meredam pegal di punggungnya. Jendela kereta di sebelah kirinya masih menampilkan pantulan buram wajahnya sendiri yang diterangi lampu temaram gerbong. Pukul delapan lewat empat puluh menit, jerit nyaring peluit kondektur berbunyi, disusul dentang tiga kali dari lokomotif. Kereta mulai bergerak perlahan, meninggalkan kebisuan peron Stasiun Pasar Senen menuju kegelapan malam yang membentang di luar sana.

❖ ❖ ❖

Kereta melaju semakin kencang, membelah malam Jakarta dengan ritme bunyi clak-clok, clak-clok yang monoton namun menenangkan. Ghazi menempelkan keningnya ke kaca jendela yang dingin, memerhatikan kerlip lampu pemukiman padat penduduk di pinggiran rel yang berangsur-angsur berubah menjadi kegelapan ladang kosong dan barisan pohon jati yang melintas cepat bagai bayangan kelam. Di dalam kepala Ghazi, tujuan perjalanannya kali ini begitu jelas dan mendesak: Surabaya. Bukan sekadar kota pelabuhan tempat ia dilahirkan dan menghabiskan masa kecil, melainkan sebuah simpul masa lalu yang sengaja ia biarkan terurai selama lima tahun terakhir.

Lima tahun lalu, Ghazi meninggalkan Surabaya dengan amarah yang membara dan hati yang terluka akibat perselisihan prinsip yang tajam dengan sang ayah perihal warisan moral keluarga serta keputusan besar dalam hidupnya. Kini, sebuah kabar singkat dari sang kakak, Laras, mengubah segalanya: kondisi kesehatan sang ayah, Pak Malik, merosot drastis akibat komplikasi jantung dan usia senja. Sebelum napas terakhir berhembus, sang ayah dikabarkan kerap menyebut nama Ghazi—sebuah pengampunan yang tak pernah diminta namun sangat dirindukan oleh lubuk hatinya yang paling dalam.

"Ghazi, kalau kamu benar-benar ingin membuktikan dirimu, jangan pernah kembali sebelum kamu menemukan apa yang kamu cari di tanah rantau," ucap Pak Malik dalam kenangan terakhir mereka lima tahun silam, dengan suara berat penuh kekecewaan yang masih terngiang jelas di telinga Ghazi hingga detik ini.

Ghazi mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Tujuan utamanya malam ini bukan lagi tentang pembuktian diri, melainkan tentang rekonsiliasi dan penyelesaian batin. Ia harus sampai di Surabaya sebelum fajar menyingsing di hari kedua, langsung menuju Rumah Sakit Husada Utama tempat ayahnya dirawat. Setiap detik keterlambatan kereta, setiap gangguan di sepanjang rel, terasa seperti ancaman nyata yang bisa merenggut kesempatan terakhirnya untuk mendengar kata maaf dari bibir sang ayah.

"Permisi, Mas Ghazi ya? Penumpang dari Pasar Senen?" tanya suara lembut seorang kondektur berseragam rapi yang berdiri di samping kursinya sambil membawa alat pemindai tiket digital.

Ghazi tersadar dari lamunannya, lalu segera merogoh saku jaketnya untuk mengambil tiket elektronik di ponselnya. "Iya, benar, Pak. Silakan."

Kondektur paruh baya itu memindai layar ponsel Ghazi dengan cekatan. "Perjalanan masih panjang, Mas. Diperkirakan tiba di Surabaya Gubeng besok pagi jam delapan lewat empat puluh jika tidak ada kendala di lintas selatan atau tengah. Istirahat yang cukup ya, Mas."

"Terima kasih banyak, Pak. Apakah jalur malam ini terpantau aman?" tanya Ghazi, mencoba memastikan tidak ada hambatan teknis yang berarti.

"Sejauh ini laporan dari pusat pengendali operasi perjalanan lancar, Mas. Hanya saja nanti di daerah Cirebon dan Purwokerto biasanya ada penurunan kecepatan karena perawatan jalur rel rutin," jawab sang kondektur sambil tersenyum ramah sebelum melanjutkan tugasnya ke barisan kursi belakang.

Ghazi mengembuskan napas lega. Ia meluruskan kakinya, mencoba mencari posisi duduk paling nyaman di kursi ber-AC dingin tersebut. Di dalam tas kecil di dadanya, terselip sebuah buku catatan tua bersampul kulit hitam—buku harian milik ayahnya yang dikirimkan oleh kakaknya setahun lalu, yang berisi catatan perjalanan hidup Pak Malik saat muda di Surabaya. Ghazi bertekad membaca halaman terakhir buku itu setibanya di makam keluarga nanti, namun untuk saat ini, pikirannya sepenuhnya terkonsentrasi pada roda besi yang terus berputar membawa tubuhnya mendekati tanah kelahiran.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam gerbong eksekutif perlahan mulai meredup seiring malam yang semakin larut. Lampu utama lorong dipadamkan separuh, menyisakan pijar kekuningan dari lampu baca di atas setiap kursi yang menciptakan atmosfer temaram dan intim. Sebagian besar penumpang telah terlelap, ada yang bersandar miring dengan kepala tertutup jaket, ada pula yang mendengarkan musik lewat earphone sambil menatap kosong ke luar jendela yang kini hanya memantulkan bayangan interior gerbong yang remang-remang.

Ghazi bangkit dari tempat duduknya, merasakan otot-otot kakinya sedikit kaku setelah hampir tiga jam duduk tanpa berpindah posisi. Ia memutuskan untuk berjalan menuju sambungan antar-gerbong untuk meregangkan badan sekaligus mencari udara segar dari celah pintu toilet yang berdesir pelan. Langkah kakinya bergeming di atas karpet merah, melewati beberapa baris kursi di mana seorang anak kecil tampak tertidur pulas di pangkuan ibunya, sementara sang ayah tertidur dengan mulut sedikit terbuka.

Sesampainya di ruang antara gerbong tiga dan empat, suara gemuruh besi yang bergesekan dengan rel bergemuruh lebih keras, menciptakan dengungan konstan yang menulikan telinga namun sekaligus menenangkan pikiran. Ghazi bersandar pada dinding panel baja yang dingin, mengeluarkan sebuah korek api gas dan sebungkus permen mint dari sakunya. Ia tidak merokok, namun mengisap rasa mint yang pedas dingin di lidahnya selalu berhasil meredakan rasa mual ringan akibat guncangan kereta yang stabil namun repetitif.

"Keretanya lumayan kencang malam ini, ya?" sebuah suara tiba-tiba memecah lamunannya dari sisi kanan.

Ghazi menoleh dan melihat seorang pria paruh baya mengenakan kemeja flanel kotak-kotak lusuh dan topi oranye sedang berdiri sambil memegang botol air mineral. Pria itu memiliki garis-garis keriput di sekitar mata yang menandakan ia adalah seseorang yang sering menghabiskan waktu di bawah terik matahari.

"Ah, iya. Cukup mulus perjalanannya sejauh ini," jawab Ghazi sambil tersenyum tipis, berusaha bersikap ramah di tengah keheningan malam perjalanan.

"Saya sering naik kereta malam jalur ini, Mas. Dulu waktu jalur ganda belum sepenuhnya jadi, perjalanan ke Surabaya bisa belasan jam lebih lama. Sekarang, rasanya jauh lebih cepat, tapi tetap saja, rasa lelah di badan tidak bisa bohong," kata pria itu sambil tertawa kecil, memperlihatkan deretan gigi yang sedikit kekuningan.

"Bapak mau turun di mana?" tanya Ghazi basa-basi untuk mencairkan suasana.

"Saya turun di Madiun, Mas. Mau nengok anak bungsu saya yang lagi kuliah di sana. Kalau Mas sendiri?"

"Surabaya Gubeng, Pak. Perjalanan penuh... ya, bisa dibilang perjalanan keluarga," jawab Ghazi setengah terbuka, enggan menceritakan detail masalah pribadinya kepada orang asing yang baru ditemui di atas kereta.

Pria itu mengangguk-angguk paham, seolah mengerti bahwa tidak semua orang di atas kereta malam sedang bepergian untuk bersenang-senang. "Ah, Surabaya ya. Kota pahlawan yang keras tapi ngangenin. Semoga urusan di sana dilancarkan ya, Mas. Apapun itu tujuannya."

"Terima kasih banyak, Pak," balas Ghazi tulus. Percakapan singkat di sambungan gerbong itu bagaikan jembatan kecil yang menghubungkan Ghazi kembali pada realitas dunia luar, melepaskannya sejenak dari belenggu masa lalu yang terus berputar di dalam kepalanya. Setelah berbincang ringan selama beberapa menit, pria berkerudung topi oranye itu pamit kembali ke kursi kelas ekonominya di gerbong depan, meninggalkan Ghazi seorang diri lagi dalam renungan malam yang panjang.

Lihat selengkapnya